Film: 5cm. (2012)

Produser
Sunil Soraya
Sutradara
Rizal Mantovani
Penulis Naskah
Donny Dhirgantoro
Pemain:
Fedi Nuril
Pevita Pierce
Denny Sumargo
Herjunot Ali
Igor ‘Saykoji’
Raline Shah  
Produksi                  : PT Soraya Intercine Film

 

5cmaSeorang penulis buku yang karyanya bisa divisualisasikan dan seorang sutradara yang mendapat cerita menarik dari sebuah buku (best seller) adalah simbiosis mutualisme. Memang tidak bisa ditarik siapa yang berjasa dan diberikan ucapan terima kasih atas tontonan yang menggugah dan menampilkan panorama yang keren. Tidak bisa dipisahkan, apakah untuk penulis ataukah sutradaranya saja (juga produser juga crew lainnya). Sebagaimana kita tahu, sutradara sangat terbantu dengan inspirasi buku tersebut, dan sang penulis mendapat prestasi tersendiri karena karyanya difilmkan.

Dan saya belum membaca buku 5cm. ( karya Donny Dhirgantoro, dan ingin segera membacanya) karena seringnya berkutat dengan karya-karya Hamsad Rangkuti, Ayu Utami, Seno Gumira Ajidharma, Stephen King, W.S. Naipaul, dan lain-lain. Jadi apa yang saya tulis berikut adalah murni pandangan subyektif saya tentang filmnya saja.

Berteman selama kurang lebih sepuluh tahun, sering berkumpul berlima, makan bersama ataupun membicarakan minat dan curhat masing-masing mungkin hal yang wajar bagi suatu kelompok persahabatan. Tapi pada suatu hari Genta ( Fedi Nuril) malah mengungkapkan kekhawatirannya tentang apakah ada kejenuhan antar ia dan keempat sahabatnya yang lain? Dan jawabannya Zafran (Herjunot Ali), Ian (Igor Saykoji), Arial (Denny Sumargo) dan Riani (Raline Shah) menyetujui apa yang diusulkan Genta, bahwa mereka harus rehat sejenak, tidak saling berhubungan satu sama lain hingga waktu yang telah ditentukan. Demi menyegarkan dan memperbaharui apa yang mereka sebut persahabatan. Maka dimulailah kegundahan dan kesepian selama beberapa bulan antar mereka. Sementara mereka juga menemui hal-hal lain dalam keseharian.

Setelah beberapa bulan waktu yang ditentukan usai, mereka (dan Dinda, adik Arial, yang diperankan oleh Pevita Pearce) pun berkumpul. Sesuai kesepakatan yang dikomando Genta, mereka pergi untuk petualangan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup; mendaki Gunung Semeru. Berusaha mendaki pengalaman-pengalaman baru juga arti persahabatan dengan level yang lebih tinggi. Lalu dimulailah perjalanan dengan detil panorama alam yang mengagumkan dengan pribadi-pribadi yang menarik.

Mendengar 5cm. sebuah buku fenomenal yang difilmkan dengan sutradara Rizal Mantovani membuat saya awalnya senang sekaligus khawatir. Senang karena saya rasa ini akan jadi titik awal kebangkitan kembali bagi Rizal Mantovani sebagai sineas seharusnya (yang patut dihormati dengan karyanya dulu dalam omnibus Kuldesak dan Jelangkung), dan khawatir karena karya-karya Rizal sebelumnya (seperti Pupus, Cewek Gokil, Taring, Air Terjun Pengantin, Kesurupan) yang sangat disayangkan berpengaruh pada film ini.

Dan setelah menonton film ini (secara keseluruhan) saya senang. Buku ini, jelasnya film ini membuat Rizal Mantovani seolah kembali pada kelasnya sedari awal yang ia bangun dengan kuat, bahkan meningkat tajam. Bersyukurlah ia pada karunia yang ada di Semeru yang ia dapat ambil begitu pas dan indah (jelasnya luar biasa indah), Jalur kereta api, jalan-jalan setapak, persawahan, matahari yang terhimpit, bukit berdiri tegap, padang rumput yang bergelombang di antara angin, pepohonan yang berkerumun, pergolakan awan seperti samudera, hingga Mahameru sang raja Jawa yang begitu berwibawa. Detil panorama yang terekam dalam film ini (sebagaimana film-film yang mengambil setting pada tempat khusus tertentu) adalah kekuatan utama. Gunung Semeru dan sekitar berhasil dimanfaatkan Rizal Mantovani tanpa bertele (dan kalaupun bertele-tele, penonton mungkin tetap akan betah di tempat duduknya dengan pemandangan alam sebagus itu). Juga pada jajaran karakter yang bisa diperankan oleh masing-masing aktor dan aktris dengan baik.

Saya suka cara Rizal memperkenalkan karakter-karakter dalam film ini. Sejalan dengan cerita yang mengalir antara kebersamaan dan vakumnya mereka. Tidak dipaksakan di awal cerita atau mengembankan tugas tersebut pada narator (memang narator menjelaskan di awal film, tapi visual dan aktivitas para karakter yang lebih menunjukan). Sifat-sifat karakter diperkuat dengan adegan-adegan kesendirian mereka. Lalu masing-masing menghasilkan chemistry yang kuat. Percakapan-percakapan kecil, sindiran-sindiran, celetukan-celetukan, curhatan dan foto-foto kebersamaan mereka yang sering terlihat jadi pendukung yang pas dan alami.

Skenario (yang ditulis oleh penulis buku sendiri) tentunya diupayakan secemerlang mungkin. Banyak bagian berhasil meletup dan tepat sasaran, terutama pada percakapan-percakapan ringan dan celetukan-celetukan yang keluar bisa dengan spontan. Tapi disayangkan, kalimat-kalimat besar yang seharusnya bisa lebih segemerlap mungkin malah terkesan dipaksakan dan seperti sejumlah artis yang menjelaskan dan membacakan nominasi di acara FFI (gantian berbicara, berebut mic). Quotable, tapi mungkin lebih menarik dibaca saja dari pada diucapkan tanpa dasar dan arah yang kurang kuat. (Ini membuat salah satu karakter yang harusnya paling puitis malah kalah puitis dengan lima yang lain).

Percakapan g-string (yang sebenarnya sangat tidak relevan, seperti karakter-karakter sinetron yang berdiri berbaris menunggu adegan berikutnya), pengejaran kereta, serta penjelasan panorama Semeru dengan-bisa-dikatakan-seperti-“para tamu undangan silakan menikmati hidangan” sangat berlebihan. Mungkin salah satu karakter tidak perlu jadi sebegitu guidance (memang tidak masalah film jadi semacam pengarah untuk turis, tapi penyajiannya bisa diperhalus). Dengan percakapan-percakapan ringan yang tetap dilanjutkan atau cukup mengungkapkan kekaguman saja pada panorama mungkin sudah cukup. Karena gambar sudah berbicara banyak. Berharap juga kalau interaksi pada kelompok pendaki lain ikut diperkuat.

Musik yang digarap Nidji sangat terdengar segar dan modern. Suka sekali film seperti ini terdengar gema gitar, drum, synthesizer, bass, vokal juga gema lainnya saling bergumul dan turut serta membantu menguatkan alur dan karakter. Tapi sayang pas menuju panorama-panorama indah itu musik berganti jadi nada-nada megah ala film-film Hollywood atau iklan rokok (yang sering traveling), jika nada itu tetap dialihkan pada Nidji, mungkin dengan alunan lebih halus dan tentunya dibuat semegah mungkin, bisa jadi menjadi perpaduan unik.

Terlepas dari beberapa hal yang mengganjal tersebut, 5cm. tetap jadi film yang wajib ditonton. Rizal Mantovani, Soraya Intercine Film, Cast & Crew telah berhasil memberi garis tegas dalam perfilman Indonesia. Dan adegan bermandi udara segar persawahan dengan percik-percik senja begitu romantis, pendakian dua karakter untuk cinta yang mereka perjuangkan itu sangat lucu, perjuangan menuju puncak sebagai metafor perjuangan untuk mencapai mimpi masin-masing itu cukup menggetarkan. Dan twist! Tonton, deh…

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: