Pementasan “Perkawinan” oleh Teater Pandora

Satu lagi lakon teater yang berhasil dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya beberapa waktu lalu. Pentas teater itu berjudul “Perkawinan”, sebuah naskah adaptasi karya penulis terkenal asal Rusia, Nikolai Gogol. Grup yang mementaskannya adalah “Teater Pandora”, sebuah komunitas teater yang terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia yang berdiri sejak 24 September 2014 lalu. Usianya yang masih muda tidak berarti minim pengalaman. Hal ini terbukti dengan luwesnya akting yang dilakoni oleh seluruh pemeran dalam pentas teater ini. Begitu pas dengan sejumlah karakter dan menguasai naskah. Sepertinya para anggota telah punya pengalaman sendiri-sendiri di berbagai komunitas teater sebelum ini.

Cerita “Perkawinan” sendiri bergulir dari seorang lelaki mapan bernama Akhmadin Akhmad yang berusia paruh baya tapi belum juga menikah. Keraguan yang begitu lama membuatnya tidak berani untuk mencari pasangan dan membentuk sebuah rumah tangga. Akhirnya ia pun meminta bantuan pada seorang Mak Comblang bernama Nyonya Eliya yang siap menjodohkannya pada seorang gadis cantik bernama Ambarinta Rukmanti. Tapi proses yang dihadapi Akhmad tidak begitu saja memudahkan jalannya mendapatkan Ambar.

Ternyata Nyonya Eliya sendiri telah memberikan daftar lelaki kepada Ambar untuk ia seleksi, yaitu Akhmad sendiri, seorang pejabat bernama Raden Serabi yang keras kepala, pensiunan pelaut melankolis bernama Umar Dahlan, dan pemuda lemah lembut yang mendambakan istri pintar berbahasa Inggris bernama Arjuna. Bisa dibayangkan betapa ruwetnya mereka bersaing demi Ambar dengan watak unik masing-masing. Ambar pun tersudut dan dibuat bingung. Sementara Nyonya Eliya begitu menggebu menceritakan kelebihan-kelebihan mereka masing-masing.

Nyonya Eliya pun bukan berarti tidak mendapat rintangan. Ada Tante Arina yang berusaha keras menjodohkan Ambar dengan seorang pedagang. Dan juga sahabat Akhmad yang bernama Karim yang ternyata memiliki dendam pada Nyonya Eliya sehingga mereka bersaing siapa yang bisa menjodohkan Akhmad dengan Ambar. Konflik yang tumpang tindih ini berhasil membawa komedi farce, dimana situasi yang tak terduga menjadi begitu lucu yang tentunya mengundang gelak tawa seluruh penonton. Apalagi semua pelakon bermain dengan prima sesuai karakternya masing-masing. Mereka berhasil membawa penonton ke dalam sensasi luar biasa dalam sebuah pementasan, terutama pemeran Nyonya Eliya yang dilakoni oleh Maharani Megananda (ternyata sutradara pentas teater ini) yang begitu ekspresif dan kuat, serta karakter Akhmad yang pemalu tapi mau nan jenaka diperankan oleh Yoga Mohamad.

Set panggung yang sangat sederhana pun cukup bisa ditata dengan apik. Mengingat panggung Galeri Indonesia Kaya tidak begitu besar, tapi mereka berhasil memanfaatkannya dengan efektif. Terbukti pula dengan cara mereka melakukan perubahan lokasi yang hanya sekedar ganti gorden jendela, menjadi hiburan tersendiri bagi penonton. Ada sedikit gangguan ketika gorden itu jatuh. Tapi untungnya improvisasi yang dilakukan Raden Serabi (diperankan oleh Mohammad Iqbal Fahreza) malah mengubah masalah kecil itu menjadi kejadian lucu yang wajar. Ini tentu menjadi pengingat untuk para pemain tetaer ataupun profesi lainnya bahwa apapun yang terjadi, pentas haruslah tetap berjalan dan improvisasi untuk kejadian-kejadian yang tidak diharapkan harus dipersiapkan.

Walaupun beberapa adegan di penghujung pementasan terkesan agak kedodoran dan bertele-tele, tapi tidak mempengaruhi kesan untuk keseluruhan pementasan yang sukses memberikan penonton hiburan berharga dan membuat nama “Teater Pandora” makin sedap di panca indera.

Advertisements

Lokakarya Drama Audio bersama Monica Cantieni

Sejumlah lokakarya yang menjadi rangkaian acara Bienal Sastra Salihara 2015 menjadi daya tarik tersendiri bagi para partisipan. Lokakarya tersebut antara lain pokok tokoh, novel grafis atau komik, dan drama audio. Sejumlah sesi tersebut tentu membuat peserta yang datang mendapat tambahan pengetahuan tentang apa yang mereka minati. Apalagi pemateri yang dihadirkan juga sesuai dengan bidangnya.

Lokakarya drama audio menjadi salah acara yang ada di hari penutup Salihara International Literary Biennale yang bertema “Sastra dan Rasa” tahun ini. Pengajarnya adalah penulis yang berasal dari Swiss; Monica Cantieni. Selain menjadi seorang penulis, Monica juga bekerja di dunia pertelevisian dan radio di Swiss. Bukunya yang berjudul “Grunschnabel (2011)” berhasil membawanya masuk dalam nominasi Swiss Book Award 2011. Sebuah kesempatan berharga bertemu dengannya dan berbagi pengalaman.

Di awal sesi lokakarya, Monica meminta seluruh peserta untuk membaca tiga berita berbahasa Inggris yang saling berkaitan. Berita tersebut tentang penembakan yang terjadi di sebuah kawasan wisata sepi. Empat orang meninggal. Sementara dua anak-anak berhasil selamat. Setelah para peserta membaca berita tersebut, lalu Monica membacakannya untuk para peserta dengan meminta mereka menutup mata. Hal ini untuk memberika kesan berbeda terhadap apa yang dibaca dengan apa yang didengar. Setelah itu, para peserta diminta untuk mengatakan apa saja hal yang mereka ingat dari berita itu dan memberikan kesan mereka.

Setelah itu, Monica meminta para peserta untuk memilih secarik kertas kecil yang telah disediakan sedemikian rupa olehnya. Kertas-kertas kecil yang dilipat itu berisi tokoh-tokoh yang ada di berita tersebut. Seperti empat korban yang meninggal yang terdiri dari Ayah, Ibu, Nenek, dan pengendara sepeda di sekitar kejadian, serta dua anak-anak yang selamat, dua polisi, wartawan, bagian forensik, saksi, dan tentunya sang pembunuh. Setiap peserta lokakarya harus membuat cerita tersendiri tentang tokoh yang mereka dapat; baik itu latar belakang kejadian, latar belakang kehidupan, sifat, motif, masalah yang mereka hadapi, hingga detil keseharian. Peserta bisa membuat monolog sang tokoh maupun dialog antar tokoh. Sesi ini terasa begitu menyenangkan dimana peserta bisa mengobrol dengan peserta lainnya untuk bertukar ide dan membuat dialog antar tokoh. Monica pun menghampiri tiap kelompok dimana ia memberikan berbagai ide untuk pengembangan karakter.

Setelah para peserta selesai membuat bagian tokoh mereka, tulisan-tulisan yang mereka hasilkan dalam bahasa Inggris diunggah ke dokumen yang telah disediakan Monica di dalam email masing-masing. Lalu tiap peserta pun diminta untuk membacakan apa yang telah ditulis. Kelucuan pun terjadi ketika para peserta membacanya dengan gaya drama radio dengan suara yang dibedakan dan berintonasi sesuai kalimat. Tapi ada juga yang cukup membuat merinding, mengingat berita yang menjadi dasar tulisan peserta adalah berita pembunuhan.

Sesi lokakarya ini berlangsung selama lebih dari tiga jam, dimana sebenarnya waktu yang dijadwalkan cuma dua jam saja. Panitia memperbolehkan Monica dan para peserta untuk mengeksplor berita tersebut menjadi sejumlah tulisan yang menarik dan mengakrabkan diri antar peserta. Di akhir sesi, Monica mengingatkan para peserta bisa memulai untuk menulis dengan cara ini. Pilihlah sebuah berita dan buatlah deskripsi untuk tiap tokoh yang ada di berita tersebut. buatlah latar belakang, masalah tiap tokoh dan kesehariannya. Lambat laun akan terjalin cerita yang menyatu antar tokoh dimana kejadian di berita tersebut menjadi titik temu. Sebuah cara yang menarik untuk mengatasi kebuntuan dalam menulis.

Setelah lokakarya ini, Monica bertolak ke Bali untuk menghadiri Ubud Writers and Readers Festival 2015.

Catatan Pemutaran film “The Pool”

Sutradara : Chris W. Mitchell

Writers      : Chris W. Mitchell, Gijs Scholten van Aschat

Pemain     : Katja Herbers, Gijs Scholten van Aschat, Alex Hendrickx

Di era modern ini, di Indonesia masih sulit untuk menonton film-film Eropa dengan legal, terutama film dari Belanda di tengah kepungan Film Hollywood di bioskop dan Film Lokal yang sedang menggeliat. Adanya acara festival film dan program tersendiri yang diadakan suatu kedutaan besar menjadi angin segar bagi para pecinta film yang haus akan tontonan alternatif sekaligus ingin melihat panorama suatu wilayah yang digambarkan di dalam film. Termasuk Erasmus Huis yang tiap bulan ada program pemutaran film di akhir pekan (Sabtu) untuk menambah pengalaman menonton para pecinta film.

Di bulan Oktober ini, Erasmus Huis memutar sebuah film horor yang berjudul “The Pool”, film karya sutradara Chris W. Mitchell. Sebuah kesempatan langka untuk menonton film horor dari negeri kincir air tersebut. Film ini mengajak penonton untuk menyaksikan dua keluarga yang berlibur di sebuah kawasan hutan yang (sebenarnya) tidak begitu jauh dari kota. Mereka mendirikan tenda di dekat sebuah kolam yang dikelilingi pohon-pohon besar. Tapi waktu liburan yang seharusnya diliputi saat-saat menyenangkan demi memperkuat hubungan keluarga malah berubah menjadi kejadian-kejadian aneh dan mimpi-mimpi buruk yang seketika jadi kenyataan. Nasib sial dan bisikan-bisikan kejahatan menyergap, sementara jalan keluar tinggal ilusi.

Benarkah ada roh jahat di kolam tersebut? Ketika hubungan antar anggota keluarga tengah runcing dengan rahasia dan rasa muak masing-masing, skandal dan berbagai masalah mulai muncul, maka segala obsesi untuk pelampiasan dan hasrat saling menyakiti yang pernah mengendap mendobrak rasa memiliki yang membangun keharmonisan keluarga. Roh jahat yang sesekali muncul dan membisik menjadi semacam media yang memupuk pikiran hitam mereka tentang hal-hal keji yang bisa saja mereka lakukan pada keluarga sendiri. Perlahan roh tersebut melumat rasa iba dan kasih yang menentramkan.

Atau semua benar-benar hanya fantasi belaka? Kegilaan yang menjalar menggelapkan mata. Jiwa-jiwa sakit yang mencari alasan kewajaran tindakan-tindakan mereka ke depan. Dan nafsu untuk menghabisi apa yang tidak jadi milik mereka lagi. Sebuah fantasi yang mengubah rute jalan keluar menjadi labirin mematikan.

Lalu apakah roh jahat meniupkan fantasi atau fantasi melahirkan roh jahat dari pikiran-pikiran manusia?

Tidak ada yang baru dalam film horor ini. Semua formula horor yang sebenarnya telah dipakai oleh-oleh film terdahulu. Dan alurnya pun cukup mudah ditebak. Tapi semua formula tersebut masih sangat efektif membuat tontonan horor yang sukses membuat penonton meringis ngeri dan nyeri melihat adegan-adegan yang menantang keberanian. Kegilaan yang terjadi perlahan dari yang dapat dimaklumi hingga melewati jauh akal sehat membuat film semakin mencekam. Para pemerannya pun bermain sesuai dengan porsi masing-masing; Ayah sebagai pelindung yang sakit hati, ibu dengan rahasianya, kakak adik yang kerap saling ejek, dan tetangga yang sedikit berisik. Dari awal telah tercium ada hal yang tidak beres di antara mereka.

Film ini menjadi tontonan horor yang sangat menghibur di akhir pekan. Formula yang sama tapi dengan rasa dari negeri yang berbeda.

Kenapa Badak Memilih Ujung Kulon?

Pernahkah kamu melihat badak, lalu berfoto bersama saat kamu ada di dekatnya atau bahkan ketika kamu memberinya makan? Seperti kamu bisa saja berfoto dengan lumba-lumba di Ancol ataupun dengan gajah di Ragunan. Tidak semudah itu kita bisa menemui Badak. Ia tidak seperti selebriti yang bermaksud menghindari spotlight atau menolak untuk mengekspos diri. Walau banyak yang bilang ia pemalu dan menghindari paparan langsung matahari terhadap kulitnya. Kondisi alam yang mempunyai spesifikasi tersendiri membuat kita sulit menemuinya dengan mudah. Badak pernah tinggal di Ragunan agar bisa dilihat para “penggemarnya”, tapi itu tidak bertahan lama. Tidak ada seekorpun badak yang bisa dipindahkan dari habitat asalnya yang spesial.

Saat ini hanya tersisa 5 jenis Badak di dunia, yaitu Badak Sumatera (Dicherorinus Sumatrensis), Badak Jawa ( Rhinoceros sondaicus  ), Badak Hitam (Diceros bicornis longipes ), Badak Putih (Ceratotherium simum ), dan Badak India ( Rhinoceros unicornis ). Kelimanya dinyatakan terancam punah. Di antaranya disebabkan oleh maraknya perburuan, hilangnya hutan sebagai tempat tinggal, berbagai jenis penyakit, maupun persaingan antar makhluk hidup.

Dari kelima jenis tersebut, Badak Sumatera dan Badak Jawa termasuk dalam kategori kritis dan menjadi prioritas utama untuk diselamatkan. Keduanya berada dalam daftar Red List Data Book yang dirilis oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Yang paling mengkhawatirkan adalah keberadaan Badak Jawa yang jumlahnya sangat sedikit, yaitu sekitar 64 ekor dan hanya ada di satu tempat: Taman Nasional Ujung Kulon (Banten). Kenapa Badak Jawa di Indonesia hanya terpusat di satu tempat? Kenapa mereka memilih Ujung Kulon?

Seperti halnya Britney Spears, Mariah Carey dan Shania Twain yang memilih Las Vegas untuk “bertahan” dan tetap berada dalam spotlight di tengah kondisi industri yang makin menggeser posisi mereka, Taman Nasional Ujung Kulon memberikan berbagai alasan bagi Badak Jawa untuk bisa bertahan hidup, antara lain masih luasnya hutan hujan tropika, vegetasi sumber makanan yang masih cukup berlimpah, jaraknya dengan pantai, atau sekedar kubangan tempat mereka bisa “memanjakan diri”. Hal-hal alami tersebutlah yang sangat jarang terdapat di berbagai tempat, dimana kawasan hutan yang telah banyak berubah menjadi lahan pertanian ataupun industri, kubangan-kubangan ditimbun menjadi perumahan, kawasan sekitar pantai yang berubah menjadi penginapan-penginapan turis dan hal-hal lainnya demi segudang alasan. Perubahan-perubahan tersebut membuat para Badak mau tidak mau harus memilih suatu tempat agar mereka bisa meneruskan kehidupan mereka di tengah berbagai kekhawatiran yang membuat mereka tidak mudah ditemui.

Kondisi yang dialami Badak ini harus diketahui oleh banyak orang dari berbagai pihak. Oleh karena itu, walaupun para Badak mungkin tidak suka, orang-orang yang peduli harus memberikan spotlight pada kondisi Badak yang terancam hilang dari muka bumi. Berbagai tulisan, berita-berita di media, tayangan televisi, artikel ilmiah, penelitian, artikel hiburan, berwisata langsung untuk melihat habitat Badak, ataupun status di media sosial menjadi alat yang ampuh untuk memberikan ekspos kondisi Badak dan tempat tinggal yang mereka butuhkan. Supaya suatu hari, banyak pihak yang peduli dan bisa mendukung atau mendorong pemerintah untuk membuka rumah baru bagi para Badak agar dapat bertahan serta melanjutkan keturunan mereka.

Tentu tidak semudah membuat taman di suatu lingkungan perumahan, tapi setidaknya struktur dan kondisi Ujung Kulon bisa menjadi contoh untuk pencarian dan pembukaan lokasi lain tempat tinggal Badak nantinya. Seperti dinyatakan oleh Rahmat et al. (2008) dalam penelitiannya untuk Jurnal Manajemen Hutan Tropika, bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun “rumah” yang nyaman bagi Badak, antara lain ketinggian tempat, kelerengan tempat, ketersediaan dan kualitas air, kubangan, kondisi tanah, struktur vegetasi, jenis vegetasi pakan, keanekaragaman jenis pakan dan pola sebaran pakan untuk memenuhi makanan Badak, faktor dominan komponen habitat, dan preferensi habitat.

Dari faktor-faktor pendukung tersebut, dalam hal faktor paling dominan komponen habitat, ternyata Badak memilih tempat yang mempunyai kandungan garam mineral secara simultan sebesar 72,5% dan kondisi pH tanah yang cocok dengan mereka. Sementara berdasarkan jenis vegetasi pakan, di Taman Nasional Ujung Kulon terdapat kurang lebih 150 jenis tumbuhan yang bisa menjadi makanan Badak Jawa. Dari faktor kelerengan tempat, Badak menyukai daerah yang cenderung landai dengan kemiringan sekitar 0 sampai 8%. Dan Badak sangat suka dengan kubangan, dimana mereka bisa menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan, minum, membuang kotoran, bahkan sekedar berdiam diri disana selama berjam-jam.

Dikutip dari hasil penelitian Rahmat et al. (2012) lainnya, lebih lanjut ada 8 hal penting yang perlu juga diperhatikan berkaitan dengan jarak antar tempat dan kondisi di dalam habitat Badak, seperti jarak dari patroli petugas pengawasan, jarak dari kubangan, jarak dari sungai, jarak dari pantai, jarak dari rumpang (areal yang terbuka), kemiringan lereng, ketinggian tempat, dan indeks penutupan tajuk yang relatif rapat dari radiasi sinar matahari.

Di Taman Nasional Ujung Kulon sendiri bukan berarti tidak ada hambatan dalam perkembangbiakan Badak. Persaingan dengan banteng yang jumlahnya lebih banyak di Ujung Kulon adalah salah satu hal yang bisa mempengaruhi kelestarian Badak disana. Penyebab lain adalah pesatnya pertumbuhan pohon langkap yang bisa mengikis pertumbuhan vegetasi pakan Badak. Hal ini tentu membuat Badak sulit untuk menemukan makanannya. Kedua hal ini bisa dipelajari bagaimana pengendaliannya agar bisa ditanggulangi nanti ketika membuka habitat baru untuk Badak di lokasi lain.

Mengingat kawasan Indonesia yang begitu luas dan terdiri dari ribuan pulau, maka bukan tidak mungkin menemukan rumah-rumah lain bagi Badak yang nyaman seperti struktur alam Taman Nasional Ujung Kulon. Mengingat pentingnya lokasi-lokasi lain demi berlangsungnya perkembangbiakkan Badak. Dengan demikian, para “penggemar” Badak bisa lebih banyak mendapat bukti dokumentasi keberadaan mereka, baik berupa foto, video atau pengalaman para wisatawan yang melihat langsung para Badak. Sehingga suatu hari para generasi berikutnya tidak melihat Badak – khususnya Badak Jawa dan Sumatera – sebagai mitos belaka.

Referensi:                                                                                                  

Badak Jawa. http://www.wwf.or.id/program/spesies/badak_jawa/

Media Trip Ujungkulon, Menelusuri Keberadaan Badak Jawa. http://kabar-banten.com/news/detail/18925

Pohon Langkap di Ujung Kulon ancam kelestarian badak Jawa. http://www.merdeka.com/peristiwa/pohon-langkap-di-ujung-kulon-ancam-kelestarian-badak-jawa.html

Rahmat, U. Mamat et al. (2008). Analisis Preferensi Habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus, Desmarest 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. XIV, (3): 115-124.

Rahmat, U. Mamat et al. (2012). Pemodelan Kesesuaian Habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. XVIII, (2):129-137.

Terdesak Eksploitasi Alam, Belasan Badak Sumatera Ditemukan di Kalimantan. http://regional.kompas.com/read/2015/09/22/19131891/Terdesak.Eksploitasi.Alam.Belasan.Ekor.Badak.Sumatera.Ditemukan.di.Kalimantan?page=2

[Resensi Film] 3 Dara

Produser          : Toha Essa, Rina Harahap

Sutradara         : Ardy Octaviand

Naskah             : Nataya Bagya

Pemain             :

Tora Sudiro, Adipati Dolken, Tanta Ginting, Rianti Cartwright, Ayushita

Bagaimana Affandy (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken) dan Richard (Tanta Ginting) bisa menjadi sahabat baik?

Pertanyaan itu bergelantungan di pikiran saya sepanjang menyaksikan film “3 Dara”, sebuah film arahan sutradara Ardy Octaviand. Sementara ketiga lelaki tersebut mempunyai perbedaan umur yang cukup mencolok dan mempunyai latar belakang yang sangat berbeda. Jadi tidak mungkin mereka pernah satu kelas di masa sekolah atau kuliah. Apakah mereka teman satu komunitas atau pernah bertemu dalam suatu klub tertentu? Entahlah. Yang jelas latar belakang mereka tidak begitu dijelaskan di film. Hanya satu kesamaan klise yang mendasari keakraban mereka: womanizer.

Ketiga lelaki ini merasa mendapatkan kutukan dari Mel (Ayushita Nugraha) setelah mereka memperlakukannya dengan semena-mena. Hasilnya mereka bersamaan merasakan keganjilan dalam diri mereka; menjadi perempuan. Mulai dari menyukai lagu-lagu manis, memakai lip balm, ekstra sensitif, sampai bersikap lembut. Ke-macho-an mereka lenyap begitu saja. Kepanikan menjalar. Mereka tidak punya pilihan kecuali terus berkonsultasi pada seorang psikolog bernama Windy (Rianti Cartwright), selagi mereka berusaha memecah kutukan tersebut dengan menemui Mel.

Ada alur yang melompat di awal film, dimana apa yang mereka sebut kutukan itu mulai terjadi. Tiba-tiba alur beralih ketika mereka berkumpul dan langsung menyadari hal tersebut. Lompatan alur ini membuat kepanikan mereka pada perubahan-perubahan tersebut kurang terasa. Cukup mengganggu kenyamanan menonton. Apalagi bagi yang mengharapkan kelucuan pada titik awal mereka yang seketika berubah. Plot yang digarap kurang rapi kembali terjadi di akhir. Sebuah kesimpulan “ilmiah” yang dibuat untuk menutup semua alur yang telah dibangun dengan dasar “mitos”. Sebuah usaha yang terkesan dipaksakan. Hal yang bisa membingungkan dan kurang masuk akal.

Tapi untungnya “3 Dara” mempunyai tiga karakter utama yang tidak usah diragukan lagi kualitasnya. Akting pas tiga lelaki ini berhasil membuat “3 Dara” menjadi film yang menghibur, terlepas dari berbagai kekurangan tadi. Bukan sesuatu yang baru melihat Tora Sudiro dan Tanta Ginting berperan dalam cerita komedi, tapi ini bisa menjadi lompatan akting tersendiri bagi Adipati Dolken, setelah sebelumnya acap kali bermain dalam film drama. Tapi sayang sekali, durasi yang singkat membuat karakter yang diperankan Rianti Cartwright dan Ayushita kurang diberikan porsi yang lebih besar dan jelas. Rianti sebagai psikolog yang menjadi narator film cuma mendapatkan beberapa scene saja, padahal perannya cukup penting. Andai chemistry ia dan “3 Dara” bisa terlihat lebih banyak di film ini.

Memang tidak perlu berubah menjadi sesuatu atau seseorang yang “diremehkan” untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Cukup meluangkan hati untuk empati. Kalau tidak sempat, toh karma tidak perlu menunggu seseorang memberikan kutukan.

The Zoo Story, Pementasan “Kelompok Teater Kami”

Di depan kebun binatang, ada dua anak muda yang sedang berduaan. Yang satu melempar godaan, yang satu lagi melahapnya dengan senang. Sementara tukang bersih-bersih duduk istirahat sambil menikmati kopi di gelas plastiknya. Lagu koplo tentang cabe dan terong bergema mengisi telinga. Tapi tiba-tiba gemuruh protes membelah suasana. Sekelompok anak muda berteriak membawa spanduk. Mereka menyalak kalau para pejabat itu tidak beda seperti binatang. Para manusia yang harus dikebunbinatangkan. Satu orang paling lantang memberi komando. Ia mengatur dan memberi aba-aba. Setelah teriakan-teriakan mereka bergumpal dibawa udara, mereka pergi begitu saja, meninggalkan sampah-sampah yang harus disingkirkan oleh tukang bersih-bersih.

Tidak jauh dari kebun binatang, seorang perempuan sedang asyik membaca. Ia memakai tank top hitam dan rok dengan panjang sedikit di bawah lutut. Ia juga asyik menikmati musik lewat earphone-nya. Seorang perempuan tomboy lewat petantang-petenteng. Bercelana pendek, dengan jaket dan sepatu seperti tentara. Tiba-tiba ia terjatuh. Sambil ia mengikat tali sepatunya agar lebih benar, ia berseloroh kalau ia tadi habis dari kebun binatang. Tapi tidak ada yang menghiraukan. Ia mengulang perkataannya lagi dengan lebih lantang, membuat perempuan yang membaca tadi melepaskan earphone-nya. Perempuan tomboy itu berhasil menarik perhatiannya. Mulailah ia bercerita dengan panjang dan ekspresif.

Cerita-cerita ganjil mulai dari masa kecilnya, orang tuanya yang mati bunuh diri, serta hubungan anehnya dengan pemilik kontrakan dan kucingnya yang galak. Perempuan yang tadi membaca mendengarkan sambil sesekali menanggapi dengan sedikit bercerita tentang kehidupannya. Ia mempunyai dua orang anak dan lelaki yang acap kali membakar hatinya. Si perempuan tomboy kadang menggoda nakal dan memancing kemarahan si perempuan yang membaca tadi. Mereka beradu mulut. Tapi kemudian saling bercerita lagi.

“Kamu mau tahu kenapa aku ke kebun binatang tadi?” Tawar si perempuan tomboy yang mencoba menghentikan langkah si perempuan yang membaca tadi. Dan ia kembali berhasil. Tapi ceritanya tak kunjung pula membahas kebun binatang.

Itulah sepenggal cerita “The Zoo Story” yang dipentaskan oleh “Kelompok Teater Kami” di Galeri Indonesia Kaya hari Minggu lalu. Sebuah cerita yang kurang lebih menyindir manusia yang semakin binatang melebihi binatang itu sendiri, kesepian, miskomunikasi dan kesenjangan sosial. Seru sekali melihat dua tokoh perempuan tanpa nama itu berinteraksi dengan sangat ekspresif. Mereka tidak saling mengenal sama sekali. Hanya bermodal pertemuan tak terencanakan dan rasa penasaran masing-masing. Penonton pun dibuat penasaran tentang apa yang terjadi sesungguhnya. Ada kelucuan dan ironi disana. dibawakan dengan gemilang oleh dua tokoh perempuan utama. Karakter mereka sangat khas. Satu feminim satu tomboy, membuat cerita mengalir dengan cukup terfokus.

“The Zoo Story” adalah sebuah karya adaptasi dari penulis asal Virginia, Amerika Serikat, Edward Albee yang ditulis pada tahun 1958. Pada awalnya, naskah teater ini berjudul “Peter and Jerry” dan memang dipentaskan oleh dua orang lelaki sebagai tokoh utama. Seiring berjalannya waktu, naskah teater ini banyak sekali dipentaskan dengan adaptasi masing-masing kelompok teater.

Sementara “Kelompok Teater Kami” adalah salah satu kelompok teater tersohor dan solid di Indonesia. Berdiri sejak 21 Juli 1989 oleh Harris Priadie Bah, teater ini sangat aktif melahirkan karya dan melakukan pementasan, antara lain Berita Cuaca (1989), Metamorfosa Api (1992), Perjamuan Kata dan Tubuh-Tubuh yang Membaca (2006), Perkamen Tanah yang Sedih (2007), MenOs (2008), Gegerungan (2009), dan masih banyak lagi. Menurut Afrizal Malna (dikutip dari www.kelola.or.id) “Kelompok Teater Kami” menggarap tema-tema realis dengan bentuk yang imajinatif. Untuk melihat galeri pementasan “Kelompok Teater Kami” bisa mengunjungi http://kelompokteaterkami.blogspot.co.id/.

[Event] Bintang-Bintang di Atas dan di Bawah Langit Jakarta: Bercerita dan Bercengkerama dengan Karya

100_8035Walaupun malam cerah di Jakarta pada Sabtu, 3 Oktober lalu tidak terlihat bintang, mungkin ditiup angin genit yang berlarian menggoda alam, tapi di Teater Anjung Salihara pukul 19:30 terkesan terang dengan bintang-bintang yang tidak kalah gemilang yang lahir dari muka bumi. Bintang-bintang yang pandai menyusun kisah dan kata-kata. Muda dan segar dengan pencapaian yang mereka punya. Bintang-bintang di atas dan di bawah langit Jakarta, bercerita dan bercengkerama dengan karya.

Acara pada malam itu adalah salah satu rangkaian pembuka “Salihara International Literary Biennale: Sastra dan Rasa” setelah sebelumnya larut dengan pembukaan pameran buku Indonesia goes to Frankfurt, peluncuran buku-buku sastra terbaru peserta Bienal Sastra, kelas kopi dan puisi, serta peluncuran website baru Salihara. Diadakan di atap puncak gedung Salihara membuat pentas pengenalan karya-karya penulis muda tersebut begitu berkesan dan spesial. Saya yang beberapa kali berkunjung ke Salihara baru pertama kali menginjakkan kaki ke puncak tersebut. Dan suasana malam Jakarta dari sana begitu syahdu. Tempat yang tepat sekali untuk pementasan, pemutaran film, diskusi, dan lain sebagainya.

Acara “Bintang-bintang di atas dan di bawah langit Jakarta” dipandu oleh Putri Ayu Diah dengan santai dan elegan serta cukup luwes mengajak pengunjung mengakrabkan diri dengan suasana. Bintang-bintang sastra muda yang hadir dan siap menunjukkan karyanya malam itu adalah Leopold A. Surya Indrawan, Dias Novita Wuri, Dewi Kharisma Michellia, Faisal Oddang, Gayatri W.M., dan Rio Johan. Mereka bergantian membacakan cerpen yang terhimpun dalam Bunga Rampai Bienal Sastra Salihara 2015 yang sudah bisa didapatkan di gerai.

Leopold A. Surya Indra mendapat giliran pertama ke atas pentas. Ia membacakan 100_8036cerpennya yang berjudul “Hari Terakhir Ah Xiang”. Sebuah cerpen yang memaknai kembali kematian sebagai sebuah perayaan yang tentunya patut dihargai oleh keluarga dan kerabat. Leo pernah terpilih menjadi peserta akademi menulis novel yang diselenggarakan DKJ pada tahun 2014 serta turut serta dalam Emerging Writers dalam Ubud Writers and Readers Festival 2015.

100_8037Bintang kedua membacakan cerpennya yang berjudul “Dapur yang Bersih dan Lapang”. Ia adalah Dias Novita Wuri. Karya kedua yang dibacakan ini masih tentang kematian dan hal-hal setelahnya. Cerpen tersebut dengan lihai dan sentuhan komedi gelap menuliskan kembali peran perempuan dan lelaki dalam suatu hubungan. Karya Dias telah wara-wiri di media-media nasional. Seperti halnya Leo, Dias juga pernah menjadi peserta akademi menulis novel DKJ pada tahun 2014 serta termasuk dalam Emerging Writers dalam Ubud Writers and Readers Festival 2015.

Selanjutnya ada Dewi Kharisma Michellia, kembali berbicara tentang kematian, ia 100_8038membacakan cerpennya yang berjudul “Ajal”. Kematian adalah hal yang tidak bisa ditolak. Tapi apa yang bisa ditinggalkan setelah mati adalah sesuatu yang membuat seseorang dikenal. Dewi menjadi salah satu pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2012 lewat novelnya “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya”.

100_8039Lalu ada sastrawan muda dengan banyak prestasi, Faisal Oddang. Malam itu ia membacakan cerpennya yang berjudul “Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku”. Sebuah cerpen berlatar peristiwa 1965. Tentang Pendeta Bugis yang mempunyai kepercayaan lain tentang Tuhan, karenanya ia mendapat tuduhan sebagai antek komunis. Sebagai bintang paling muda malam itu, Faisal terlihat paling ekspresif di atas pentas. Cara ia menyapa audiens dan membacakan karyanya dengan aksentuasi tepat memberikan kesan ia telah mempunyai pengalaman tersendiri dalam hal tampil di depan umum. Karya-karya Faisal kental sekali dengan nuansa lokal Sulawesi Selatan. Hal itu yang membuat tulisannya berbeda. Tahun lalu cerpennya yang berjudul “Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon” terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2014. Sementara cerpen yang ia bacakan malam itu membuatnya menerima penghargaan Asean Young Writer Award 2014. Novelnya “Puya ke Puya” diluncurkan beberapa jam sebelumnya di peluncuran buku-buku terbaru peserta Bienal Sastra.

Penampil berikutnya adalah putri dari salah satu sastrawan terkemuka Indonesia, Abdul Hadi W.M. Ia adalah Gayatri W.M. Ia membacakan petikan novelnya yang berjudul “Tarian Kabut”, sebuah novel setebal kurang lebih 600 halaman yang terlahir dari pengalaman-pengalaman spiritual dirinya dan kecintaannya pada hal-hal beraroma sufi. Ia juga bercerita tentang penyakit lupus yang ia alami, tarekat yang ia jalani dan proses kreatifnya sebagai bagian dari keluarga sastrawan besar. Di tengah kondisinya, ia sedang menempuh pendidikan pascasarjananya jurusan filsafat di Universitas Paramadina. Semoga lekas pulih, Mbak Gayatri…

Dan yang terakhir, sastrawan muda asal Sumatra Selatan, Rio Johan. Ia membacakan cerpennya yang berjudul “Manusia Mini dan Tinja Vanessa”. Sebuah cerpen yang mampu menyajikan rasa jijik dan humor bersatu untuk hidangan penutup malam itu. Membayangkan manusia-manusia mini itu memakan tinja sebagai kebutuhan pokoknya sungguh imajinasi yang liar, nakal dan atraktif. Dan ada hal-hal lain yang disampaikan Rio di cerpennya tersebut, baik itu diri Vanessa sebagai perempuan tua, maupun manusia mini yang mungkin sebagai metafor. Rio mendapat penghargaan buku prosa pilihan Tempo 2014 dan 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 atas buku kumpulan cerpennya yang berjudul “Aksara Amananunna”.

Enam karya yang dibacakan pada malam itu sepadan sekali dengan tema Bienal Sastra 2015; Sastra dan Rasa. Rasa dari makanan-makanan yang khas dari berbagai daerah, makanan-makanan untuk jiwa-jiwa yang lapar, hingga makanan yang perlu penafsiran ulang. Melihat para sastrawan muda tersebut menunjukkan karyanya dan telah mendapat begitu banyak prestasi dengan ciri khas serta keyakinan masing-masing membuat optimis suasana sastra Indonesia nantinya. Joko Pinurbo berkata dalam penghujung acara “Kelas Kopi dan Puisi”, bahwa sastrawan-sastrawan muda zaman sekarang begitu cepat belajarnya. Mereka bisa mendapatkan prestasi yang diperoleh para sastrawan senior selama 30 tahun hanya dalam 3 tahun. Semoga kehadiran para sastrawan muda tersebut dengan pencapaiannya memberikan semangat bagi bibit-bibit sastra yang masih perlu inspirasi.