Buku: The Constant Gardener

ConstantJudul                 : The Constant Gardener

Penulis             : John Le Carre

Penerjemah    : Lulu Fitri Rahman

Penerbit           : David Cornwell, London (2001)

Serambi (2007)

Halaman          : 657

….mulutnya terbuka seperti tidak percaya. Darah hitam lengket tampak di bagian dalam mulutnya, seolah seluruh giginya dicabut pada saat bersamaan.

“ Anda kenal perempuan ini, Pak?”

“ Ya, ya, aku mengenalnya,” jawab Justin. Setiap kata yang digunakannya ia pertimbangkan dengan hati-hati sebelum diucapkan. “ Ini istriku, Tessa. Kita harus menyiapkan pemakamannya, Sandy. Dia pasti ingin dikuburkan disini, di Afrika sesegera mungkin…”

***

Tessa, seorang aktivis kemanusiaan dari London bertekad kuat untuk mengabdi dan membantu warga Kenya yang kebanyakan hidup tak menentu dalam kemiskinan. Langkahnya semakin berat ketika ia memang harus menyibak kebejatan sebuah perusahaan besar di bidang obat-obatan. Perusahaan tersebut tak segan memakai manusia sebagai kelinci percobaan atas obat-obatan yang mereka produksi, hingga sering berakibat hilangnya nyawa. Tessa tak bisa membiarkan itu. Bersama temannya, Dr. Arnold Bluhm, mereka coba sekuat tenaga  menghentikan percobaan tak manusiawi si perusahaan raksasa. Tantangan ,mereka semakin besar karena anggota-anggota pemerintahan pun diam-diam ikut serta dalam kegiatan tersebut. mengingat Threebees, perusahaan yang dimaksud tentu perusahaan dengan budget besar.

***

Tessa ditemukan meninggal dengan tragis di tepi danau Turkana…

Justin Quayle, seorang diplomat Inggris, mendapat kunjungan Sandy Woodrow sang Kanselari ketika ia baru selesai mengajar. Justin, yang menerima berita kematian istrinya, Tessa,  terdiam, lalu ia menceracau tak jelas, tentang Tessa yang begitu sibuk di Nairobi, tentang bayi dalam kandungan Tessa, tentang barang-barang yang telah mereka beli…

Justin Quayle, pria berusia empat puluh yang kembali bersemangat setelah bertemu Tessa dan kecerdasannya, seketika itu runtuh.

***

Setelah beberapa waktu diam, Justin mendapati kenyataan Tessa meninggal dengan sangat tidak wajar. Perlahan ia coba uraikan benang kusut dibaliknya. Ia coba pahami. Ia periksa segala peninggalan Tessa; surat-surat, dokumen, buku, foto, berbagai data, hasil penelitian, nama dan alamat orang-orang tertentu, dan sebagainya. Tanpa sadar ia seperti mengulang apa yang Tessa lakukan sebelumnya.

Keputusannya untuk menyibak tabir gelap tersebut lambat laun membuatnya tahu konspirasi biadab si raksasa perusahaan obat, juga hubungannya dengan para birokrat haus kekuasaan di Departemen luar Negeri, sampai tokoh ternama dalam kancah politik Inggris. Dalam kerapuhannya, juga untuk cintanya pada Tessa, Justin memutuskan terus maju, melanjutkan langkah yang terhenti di danau Turkana, meski dengan demikian mengancam nyawa dan karirnya sebagai diplomat. Sistem kapitalisme global memang busuk!

***

Jumlah lembar sebanyak enam ratusan halaman memang layak untuk buku ini. Diurauikannya berbagai macam konflik, dari mulai peliknya hidup warga Afrika sendiri, kekejaman sistem kapitalis global yang dalam hal ini diwakili oleh perusahaan raksasa farmasi yang tak manusiawi, kebobrokan politik dan pejabat-pejabat yang cuma tahu kedudukan, nama baik, dan uang. Hingga hal-hal manis yang muncul di sela-sela cerita seperti perkenalan Justin dan Tessa yang begitu anggun dan pintar di tengah acara diskusi tentang kapitalisme, begitu kuatnya pengabdian Tessa, masa-masa awal pernikahan Justin-Tessa dan kehamilannya, juga terhadap kepercayaan satu sama lain, baik terhadap pasangan ataupun kepada orang-orang di sekitar. Kalaupun memang alur di saat-saat tertentu berjalan lamban, itu sangat berguna untuk menjelaskan hal-hal detil, seperti deskripsi tempat, tokoh, konflik, bahkan jenis obat-obatan tersebut, juga deskripsi yang tak menggurui tentang nilai-nilai universal kehidupan, pemikiran antara sisi gelap dan terang dari karakter manusia, dan pandangan-pandangan yang berbeda. Membaca buku setebal ini, dibutuhkan cara membaca yang ekstra teliti, dibutuhkan pula kesabaran, mengingat plot yang tidak linear, maju mundur, juga begitu banyak istilah dan frase-frase asing. Tapi semua itu tak membuat buku ini jadi membosankan. Misteri-misteri dibalik halaman di depan jauh lebih seru.

“ Le Carre memperlihatkan pertanyaan spiritual yang mendalam mengenai kerusakan yang dilakukan oleh umat manusia, yang telah dan masih terjadi terhadap planet ini dan terhadap diri mereka sendiri.” (Daily mail)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s