Cerpen: Di Ujung Gang

Di Ujung Gang

(Ali Satri Efendi)

“Kiri, Bang!”

100_6408Seruku pada sopir angkot. Tempatku berhenti hampir terlewat. Ngantuk. Dulu pernah terlewat jauh karena sempat tertidur. Bahkan sempat bingung juga ada dimana. Jadi kalau pulang tengah malam seperti ini harus lebih kuat sensor arah pulangnya.

Resiko pecinta film yang suka keluyuran hadir di berbagai acara perfilman, baik nonton bareng, workshop, diskusi atau ada janji dengan pecinta film lainnya, pulang jadi lumayan sering larut begini. Tak ada kendaraan pribadi tak apalah. Dan aku memang lebih suka memakai kendaraan umum; kereta, bus atau angkot. Ya, namanya juga hobi. Apapun bukan kendala. Dan bagusnya besok libur kerja.

Di lampu merah masuk ke kiri menuju gang, beberapa pedagang makanan masih buka. Tukang bubur kacang hijau, nasi goreng, sate, mie ayam masih ada pembeli. Lampu-lampu kota terlihat begitu damai. Motor, mobil dan lainnya sudah tak banyak yang lalu lalang.

Aku ambil arah kanan, gang kosanku sebentar lagi terlihat. Aku berjalan perlahan dan terkantuk. Jalan mulai terlihat benar-benar sepi. Lampu-lampu rumah menerangi aspal yang agak rusak. Pos ronda tak ada penunggu. Mungkin peronda sedang keliling dengan sepeda.

Aku kembali teringat dengan film yang tadi aku tonton dengan pecinta film lainnya. Sebuah film antologi cerita-cerita horor. Tiba-tiba bulu kudukku langsung mengembang. Ditambah sunyi dan lampu yang tidak seluruhnya menutupi kegelapan mendesak dadaku dan menciutkan hati. Ku pompa lagi dengan berpikir semua baik-baik saja. Dan semua yang ku lihat tadi adalah Cuma film. F.I.L.M. film. Duh, kalau teman-teman yang tadi ikut nonton tahu aku separno ini, mau ditaruh dimana mukaku. Padahal aku juga pernah bilang kalau aku sedang terobsesi dengan film-film horor dan thriller untuk proyek bukuku.

Di depan aku akan ambil arah kiri masuk ke gang, lalu sebentar lagi akhirnya sampai di kosan. Pohon-pohon mangga besar ada di kiri kanan jalan. Aku tatap sebentar. Jangan terlalu lama, bisa-bisa ada sesuatu dengan berbagai bentuk yang balas menatap. Suara kerosak mengagetkanku dari tempat sampah. Rupanya dua ekor kucing yang berkejaran. Aku kira sadako sudah bosan keluar dari sumur dan pindah ke tempat sampah.

Tiba ku di depan gang. Jalan di depan luar biasa sunyi. Cahaya dari rumah-rumah seperti biasa tak berhasil mengusir gelap yang menggumpal di sisi-sisi pohon yang mengarah ke jalan. Aku berharap ada tukang sate yang lewat kesini dan menemani. Tapi tak bisa dipungkiri aku benar-benar tinggal sendiri. Kudukku yang mengembang seperti berbisik aku ada yang mengikuti. Aku sempatkan menoleh kanan kiri dan ke belakang. Tak ada apapun. Hanya kesunyian yang mengikutiku dan memimpinku. Pepohonan penghias taman pun aku tak mau tatap. Mungkin ada yang mengawasiku disana, pikirku. Aduh, kok jadi tambah parno. Malam ini aku bukan aku yang biasanya. Film yang tadi aku tonton benar-benar memberikan efek samping yang fatal. Jika takut berlanjut harus hubungi Pak Kiyai untuk dirukyah!

Aku mulai percepat langkah. Tapi tunggu! Apa itu? Siapa itu di ujung gang? Seseorang berdiri tegak tepat di tengah. Kegelapan membuatnya hanya terlihat sebagai sosok hitam. Aku kembali perlahankan langkah. Ku kerutkan kening. Aku tambah titik fokus mata. Percuma. Tetap tidak jelas. Dan sosok itu tak bergerak sama sekali. Diam. Beku.

Dadaku semakin terdesak.

Lebih baik aku hentikan langkah. Ku pegang erat tali ranselku, mencari kekuatan. Aku beristighfar tapi tak fokus. Pikiranku dipenuhi dengan sosok gelap dan beku di depan. Siapa itu?

Apakah ia sosok hitam yang tadi ada di satu bagian cerita dalam antologi film horror yang aku tonton? Sosok yang menghantui seorang anak hingga tak mau lepas dari orang-orang di sekitar.

Atau ia sosok hitam yang menteror seorang lelaki yang sendirian, lalu memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang kematian. Kemunculannya di akhir satu bagian dari antologi film horor yang tadi aku tonton benar-benar membuat terperanjat.

Atau ia pocong? Ah, tidak. Aku bisa melihat siluet tangannya. Genderuwo? Ah, dia tidak terlihat besar. Kuntilanak? Aku juga tidak melihat gaun putih dan rambut panjang.

Atau ia tetanggaku yang sakit? Aku dengar ia beberapa hari ini tidak sehat karena virus dalam lambungnya. Pasti ada zat kimia yang merasuki badannya. Dan mungkin sekarang ia berubah menjadi zombie dan berdiri di ujung gang sekarang mencari orang-orang untuk dibantai dan ditulari. Bulu kudukku mungkin sudah tak berdiri lagi, tapi berlari. Sementara aku masih mematung disini, beberapa meter dari sosok itu. Ia juga masih tak bergerak sama sekali.

Tapi zombie harusnya agresif. Aku tiba-tiba teringat temanku yang belum lama meninggal. Salahnya aku belum sempat melayat ke kuburnya karena terlalu jauh. Apakah itu ia? Mungkin ia ingin mengucapkan salam perpisahan atau ingin menterorku karena tak datang melayat? Aku harus mengirimkannya lebih banyak Al-fatihah sebagai tanda penyesalan.

Angin malam berhembus semakin tajam dan menggesek kulitku. Aku usap rambutku mencoba melepas desakannya. Sosok di depan masih membeku.

Aku kembali menerka dengan perasaan semakin tidak nyaman. Apakah ia iblis yang terlepas dari kotak tua seperti dalam Possession? Tapi aku tak punya kotak seperti itu. Nah, mungkin tetanggaku punya! Mungkin juga ia iblis yang mencari tubuh untuk dikuasai seperti dalam The Exorcist?

Atau ia alien yang mencari tubuh untuk diserupai seperti dalam The Thing? Atau ia Species yang mencari tubuh manusia untuk bertelur?

Atau ia Jigsaw yang mencari target berikutnya untuk diajarkan cara menghargai kehidupan dengan keji?

Atau ia sosok yang keluar karena aku memilih sesuatu sebelumnya untuk membantai diriku sendiri seperti dalam Cabin In The Woods?

Atau ia anak Ibu Dara yang mencari korban untuk dimutilasi dan dijual organnya?

Atau ia penjaga harta presiden pertama yang siap membunuh siapapun yang tau tentang rahasia itu seperti dalam Kala? Aku tinggal bersumpah kalau aku tidak tahu.

Atau dia vampir, drakula, werewolf, atau monster haus darah lainnya?

Atau…?

Atau…?

Atau…?

Aaaa…. Gusarku dalam hati.

Pikiranku dipenuhi oleh sosok menakutkan lainnya. Sementara sosok itu masih tak bergerak sama sekali. Aku pun belum mau ambil langkah baru. Dadaku bergetar hebat. Keringat dingin meluncur. Mungkin wajahku luar biasa pucat.

Beberapa menit kemudian berlalu. Dan menit-menit lainnya juga berlalu. Entah berapa lama aku terpaku disini dengan amat tidak nyaman dan entah berapa lama lagi. Sosok disana belum juga beranjak. Yang jelas aku ingin segera sampai kamar. Aku ingin putar arah, dan cari jalan lain, tapi percuma, nanti juga sampainya di ujung gang itu. Dan tentu lebih dekat dengan sosok itu. Lalu siapa yang harus ku hubungi lewat tengah malam seperti ini? Semua sudah terlelap. Kendaraan umum pun mungkin sudah tidak ada. Menuju Masjid harus melewati gang ini.

“ Astaghfirullaaah…”

Haruskah aku melangkah?

Ya Alloh, aku Cuma takut padamu. Optimisku. Jelasnya meringis. Meski masih menciut juga. Sepengecut inikah diriku? Tidak, aku tak mau jadi pengecut. Aku harus terus berjalan. Aku tidak boleh takut. Tiba-tiba aku teringat berbagai harapanku yang menggantung karena aku, mungkin, bisa dibilang takut untuk mengambil berbagai keputusan dan resiko. Aku lelah terus merasa takut untuk menatap ke depan; untuk melangkah ke depan. Untuk menghadapi berbagai resiko demi tercapainya tujuan. Mau jadi apa nanti kalau terus begini?

Sosok di depan tetap mematung. Masih tak jelas rupanya. Seperti telur kegelapan yang baru menetas.

Aku harus berjalan.

Lalu aku mulai melangkah dengan Bismillah. Kutujukan saja pandangan pada aspal dibanding harus menatap ke depan. Yang penting aku harus tetap melangkah. Tak kufokuskan diriku pada resiko apapun.

Aku semakin dekat dengan sosok itu. Dadaku semakin bergetar. Rasa lemas berusaha ku tak pedulikan. Dan sekarang aku melihat kaki sosok itu. Tidak, itu bukan kaki. itu sepatu. Sepatu hitam yang seperti aku pakai. jadi ia pembunuh berantai yang rapi. Tidak! Tidak! Hentikan pemikiran ini. Aku tak bisa merunduk terus. Mungkin sebelum ia membantaiku aku harus melihat seperti apa sosoknya. Jadi kuputuskan untuk mengalihkan mata kepadanya. Perlahan.

Kulihat celananya, bajunya, sweater yang ia pakai dan ia adalah…aku.

Ia adalah aku. Aku?

Aku yang sedang mematung berjarak dari pintu gerbang, memandang ke ujung gang sebaliknya, memastikan sosok apa yang sedang berdiri disana. Cahaya yang sekadarnya tidak bisa menjelaskan sosok aku tersebut untuk memastikan siapa yang ada di ujung gang sebaliknya itu. Jadi aku berdiri tegak dan rasa penasaran memaku badanku.

Sementara aku adalah rasa takut yang melangkah lalu perlahan melayang bersama angin malam.

Ah, apapun sosok di ujung gang itu, membuatku tambah mengantuk. Jadi aku melangkah ke gerbang. Ku buka kuncinya dengan kunci cadangan yang ku punya. Tapi sebelum aku masuk, aku kembali memperhatikan sosok tadi. Tapi ia sudah menghilang. Ku perhatikan perempatan di belakang, yang terlihat hanya sunyi dan cahaya serta kegelapan yang sedang bergumul. Lalu aku melihatmu dengan tersenyum, ya kamu yang sedang membaca aku. Untuk kemudian aku masuk melewati gerbang. Selamat malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s