Film: Atambua 39 Derajat Celcius (2012)

Atambua1

ATAMBUA 390CELCIUS (2012)

Genre                          : Drama

Produser                   : Mira Lesmana
Sutradara                  : Riri Riza
Penulis                       :Riri Riza
Pemain                       : Gudino Soares, Petrus Beyleto, Putri Moruk

Produksi                    : Miles Films

 

Mira Lesmana dan Riri Riza, pasangan ini selalu membuat saya (mungkin juga banyak orang di luar sana) semangat untuk menonton film Indonesia. Setelah sibuk mengangkat dua buku best seller karya Andrea Hirata, mereka seolah ingin kembali pada kesederhanaan karya (seperti layaknya 3 Hari Untuk Selamanya, salah satu film favorit saya) dalam Atambua 390 Celcius. Membayangkan film ini, saya berharap mendapat film yang tidak berlebihan tapi mengena dalam mengangkan konflik belahan lain Indonesia.

Cerita dibuka. Sinar matahari terasa menjilat bumi. Segala detil diperlihatkan dengan kamera yang statis pada satu angle pengambilan gambar (untuk kemudian berpindah, statis pada suatu sudut lagi). Penduduk lalu lalang dengan aktivitasnya, perumahan-perumahan sangat sederhana dari seng dan bambu yang tersusun dan berbaris, latar alam yang terik tapi masih banyak pepohonan, lalu mengarah pada tokoh-tokoh utama.

Atambua2Joao (Gudino Soares), remaja belasan tahun yang senang hidup di luar ketika siang hari, berinteraksi dengan teman-temannya, masih malu-malu ikut melihat film porno dan sebagaimana pemuda tertutup yang beranjak dewasa lainnya, kadang labil dan bingung dalam mengungkapkan emosi. Ia rindu pada ibunya yang dipaksakan berpisah karena ibunya lebih memilih hidup di baris Negara lain, di Liquica, Timor Leste. Itu terlihat dari seringnya ia mendengarkan kaset rekaman suara ibunya yang terakhir ia dapat sebelum berpisah. Dimana ibunya meminta agar Joao juga ikut pindah dengan ibunya.

Ayah Joao, Ronaldo (Petrus Beyleto) yang bekerja sebagai sopir dan selalu pulang dengan mabuk-mabukkan sering membuat Joao terpaksa terbangun tengah malam dan membuat sisa malam dan harinya tidak nyaman. Hiburan yang paling berharga yang ia punya adalah ketika teman dekatnya dulu, Nikia (Putri Moruk), yang sebelumnya pindah ke Kupang, kembali ke Atambua karena kakeknya meninggal.

Sudut pandang yang sedari awal memilih dari arah Joao, berangsur berkaitan dengan sudut pandang dari Nikia. Nikia masih terus disambangi oleh memori kakeknya. Ia seolah menyesal mengapa ia tak menemani saat-saat terakhir kakeknya. Lalu ia mencoba melakukan apapun yang mungkin bisa menyenangkan si kakek, meski sudah tidak ada. Salah satunya dengan menghias kuburan sang kakek dengan letakkan batu-batu. Joao pun ikut membantu, meski masih canggung. Maka ritual menghias kuburan jadi kegiatan yang lumayan romantis.

Ayah Joao, sering membuat ulah ketika bekerja, mabuk-mabukan dan sering membuat penumpang takut, akhirnya dipecat. Ulah tersebut berlanjut, termasuk selalu berkelahi dan akhirnya masuk penjara. Joao pun berusaha bagaimana cara membebaskan Ayahnya. Di saat yang hampir bersamaan, Nikia kembali ke Kupang.

Sudut pandang yang dari awal berpusat pada Joao, lalu Nikia, kemudian berpindah kembali pada Ronaldo, sekeluarnya dari penjara. Ia mendapati rekaman istrinya (yang sering didengarkan Joao), dan tiba-tiba kerinduan itu meluap. Ronaldo pun berkisah tentang perpisahan Indonesia dengan Timor, dan keteguhannya untuk tetap tinggal di Nusantara.

Joao menyusul dan mencari Nikia di Kupang, dan Ronaldo ada diantara pilihan, terus mencintai tanah kelahirannya atau jujur mencintai pilihan hatinya.

Atambua3Kekuatan film ini tentu dipastikan pada seting tempatnya; Atambua yang jarang sekali diangkat untuk film bioskop. Riri Riza berhasil menampilakn detil yang ada; alam, penduduk, ritual keagamaan, interaksi, rumah dan benda, juga lainnya. Saya pribadi sangat suka dengan film yang menampilkan berbagai detil; kamera diam beberapa detik dalam satu sudut, untuk kemuadian berpindah ke sudut lain, bertahan untuk pengambilan detil yang lain. Itu membuat kita paham filosofi yang tersimpan.

Film ini seolah ingin menampilkan tiga sudut pandang yang bergantian. Awalnya saya tidak nyaman dengan cara ini, karena bisa membuat film terasa tidak konsisten dan hilang arah. Tapi kemudian saya paham, tiga sudut pandang ini bisa digunakan sebagai penjelas lebih dan pendalaman terhadap omnibus hati tokoh-tokoh. Tapi tetap pada ujungnya, fokus film, cerita film yang sudah teratur dari awal, jadi kurang terarah. Sebenarnya berharap tiga sudut pandang tersebut bertemu pada satu titik emosi atau situasi dan harapan tertentu. Kecuali kalau sang sutradara tidak mau berlaku berlebih terhadap film dan ingin menampilkan orang-orang Atambua dalam perspektif apa adanya.

Akting para pemain memang tidak bisa diharapkan lebih karena mereka semua baru dalam hal seni peran. Tapi keputusan untuk sepenuhnya memakai orang-orang asli lokasi adalah keputusan yang sangat tepat. Mereka berhasil setidaknya pada titik aman. Emosi sesuai, meski tidak bisa dikatakan istimewa. Perubahan sifat Ronaldo yang tiba-tiba ‘tobat’ kurang penjelasan terasa cukup mengganggu. Dan penggunaan bahasa asli adalah banyak jempol untuk Riri Riza dan Mira Lesmana.

Menonton film ini, mengingatkan saya pada film “Tanah Surga…Katanya”, sama-sama tentang perbatasan, sama-sama tentang suatu pilihan identitas. Jika Tanah Surga adalah film yang sangat menghibur dalam struktur cerita, maka Atambua adalah film yang detil dengan artistik. Jika ini adalah film budaya, maka ini adalah film yang bisa jadi sempurna.

Dibalik berbagai kekurangan dari sudut pandang pribadi penulis resensi ini, Atambua 390 Celcius tetap jadi film Indonesia yang membanggakan. Wajib ditonton,. Sebuah film yang memotret sisi lain Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s