Film: Hello Goodbye (2012)

Hello GoodbyeHello Goodbye

Genre              : Drama

Produser       : Frederica

Sutradara      : Titien Wattimena

Skenario        : Titien Wattimena

Pemain           : Atiqah Hasiholan

Rio Dewanto

Kennes Andari

Khivka Iskak

Sapto Soetarjo

Verdi Solaiman

Produksi         : Falcon Pictures

Sempat mampir ke Kineforum untuk nonton atraktifnya film People On Sunday dalam jadwal Europe On Screen dan Pekan Komposer Indonesia. Setelah itu hujan lebat dan tidak berkutik di depan planetarium, lalu naik kendaraan umum yang macetnya gak ketulungan, mampir di tukang nasi goreng saking laparnya, akhirnya sampai juga di Planet Hollywood untuk nonton film Hello Goodbye dengan keluarga besar Moviegoers Indonesia.

Tak ada ekspetasi tinggi, itulah point saya sebelum menonton film ini. Dari sinopsisnya, mungkin cuma kisah cinta yang tidak begitu istimewa, pikiran saya waktu itu. Malah sempat ada kekhawatiran, ini film bakal jadi karya karena ada trend Korea belaka. Tapi tunggu dulu.

Hello Goodbye, berawal dengan si tokoh utama, Indah (Atiqah Hasiholan) berjalan di tepi dermaga dengan kegusaran titik fokus dalam hidupnya. Bukan cara baru dalam membuka suatu film memang, mengambil awal dari paruh lain, untuk nanti pastinya akan bertemu pada titik tersebut. mungkin untuk pemanasan dan memberi fokus lebih pada penonton apa konflik utama yang terjadi pada si tokoh. Dan memang terbukti, cara ini selalu bisa membuat penonton penasaran ada apa selanjutnya dengan cerita film ini.

Hello Goodbye2Lalu cerita bergulir. Indah, seorang pegawai KBRI di Busan, Korea Selatan, mulai jenuh dengan ambisi dan kesehariannya yang tak begitu padat dan pekerjaan-pekerjaan yang tak begitu penting. Banyak shoot menunjukan ia selalu terpaku, beku di depan mesin cuci, jarang tersenyum, juga terbebani. Sibuk dengan kesendiriannya. Menapaki Busan dalam musim dingin membuat ia semakin mengerut.

Suatu hari ia diberi tugas untuk mengurus seorang WNI yang bekerja sebagai ABK karena tiba-tiba terkena serangan jantung ketika berlayar, dan terpaksa harus transit di Busan. Dengan bingung, akhirnya Indah ikut juga ke rumah sakit dan menunggu keadaan WNI tersebut. beberapa jam kemudian, Abi (Rio Dewanto), si ABK sadar. Harusnya Indah senang karena dengan sadarnya Abi, mungkin tugasnya sebagai penunggu yang menjenuhkan akan berakhir. Tapi malah semuanya semakin mengesalkan karena kerasnya watak Abi yang telah dua belas tahun kerja di kapal dan tak pernah pulang, yang tak suka orang lain mencampuri urusannya. Indah sering kehabisan kesabaran dalam menghadapi Abi. Dan Abi selalu menunjukan antisipasi lebih jika ada yang mengaturnya, baik minum obat ataupun meminta data pribadinya. Indah dan Abi pun tak akur. Pertengkaran dan ketegangan mulut tak bisa dihindari. Keduanya selalu saling sindir. Saling mempertahankan prinsip masing-masing. Indah pun merasa semakin tertekan. Apalagi ia seolah tak ada pilihan tugas selain harus mengurus Abi hingga sembuh dan pulang.

Hello Goodbye3Selanjutnya memang pertengkaran terus berlanjut. Tapi dialog yang keras antar mereka sebagai pertahanan diri lambat laun malah mendekatkan mereka dan membuka berbagai sekat perlahan. Sindiran-sindiran itu jadi perhatian yang membuat satu sama lain peduli. Dan emosi yang sering meluap tak beraturan berangsur jadi saling simpati. Mereka semakin dekat. Lalu bersatu mempertahankan pertemuan yang belum berumur lama tersebut dalam melawan perpisahan.

Dan saya tak menyesal memasang ekspetasi rendah terhadap film ini, karena selanjutnya saya begitu nyaman menyaksikan interaksi Indah dan Abi (memang cerita utama fokus pada mereka), yang berjalan mulus. Tentu ini berkat akting keduanya dengan mimik yang pas. Indah yang sedang dalam titik jenuh kehidupannya diperankan apik oleh Atiqah Hasiholan. Cara ia merenung, keadaanya bingung, kesendiriannya, boneka-boneka yang ia buat dan caranya memberi warna, interaksinya dengan teman yang sebenarnya saling berbagi kerinduan dengan keluarga masing-masing, juga gestur tubuh dan kalimatnya begitu pas. Abi yang diperankan Rio Dewanto, keras dan mencoba menolak untuk mengalah pada ketidakberdayaannya, mencoba bertahan pada ke-aku-annya, membuatnya ia sulit diatur dan menyebalkan, dengan kalimat-kalimatnya yang tegas tapi juga menyimpan getir dengan sesekali goyah, juga sama pas dilakonkan oleh Rio. Keduanya klop. Well, sebenarnya bukan hal yang mengejutkan, dimana mereka juga sudah biasa membuat chemistry dalam keseharian asli. tapi disitulah kekuatan film ini. Interaksi yang kuat antar dua bintang utama.

Interaksi yang kuat, tentu ditunjang pula oleh dialog yang tersusun rapi untuk mereka (juga tokoh-tokoh yang lain). Skenarionya terasa begitu lancar. Tak ada yang membuat alis mengerut atau janggal. Berkali-kali terbuka humor segar, seperti percakapan tembok, hilang translasi antar bahasa, sindiran-sindiran, juga sedikit sandiwara boneka, dan lainnya. Kalimat-kalimat introspektif, pertahanan antar tokoh, macam-macam emosi, terwakili dengan pas oleh skenario yang dibuat oleh sang Sutradara sendiri. Di beberapa titik malah kalimat-kalimat yang diucapkan antar tokoh terlihat begitu bersinar. Tidak terasa hambar. Tidak lembek. Seperti cerpen yang tidak boleh satu katapun jadi percuma. Atau puisi yang tidak boleh ada kata-kata yang begitu umum dan metafor berlebih. Nyaman mendengar berbagai kalimat yang diucapkan para tokoh.

Busan sebagai seting tempat, memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi keindahannya. Sudut apapun dalam pengambilan gambar, seperti sudah jadi hadiah yang tak usah diundi lagi untuk mendapat keindahannya. Memanjakan mata memang. Musik sebagai pengiring pun juga pas mengawal bermacam panorama, interaksi, dan emosi.

Hello Goodbye4

Ditangan sutradara lain, dikhawatirkan film ini akan jadi cerita FTV biasa. Beruntung sekali Mbak Titien Wattimena bisa membawa film ini tidak pada jalur yang biasa orang sebut aman. Semua terasa terkendali. Menonton film ini dari awal hingga akhir adalah introspkesi terhadap tujuan hidup dan meyakini jalan yang kita ambil. Sebuah perayaan untuk chemistry dan titik fokus hidup. Cuma sayang sekali, peran roommate Indah yang diperankan Kennes Andari terasa kurang digali latar dan permasalahannya sebagai pendamping cerita. Cerita dan emosinya mungkin bisa dibuat sedikit lebih kompleks. Juga satu yang mengganjal, munculnya cameo penyanyi korea yang terasa lumayan mengganggu. Ini sebenarnya bisa dipahami sebagai alat promosi. Tapi tetap menggoyangkan film yang sudah berlayar cukup terarah (tapi saya suka suster-suster yang diperankan oleh orang Korea asli).

Biacara tentang akhir film, ketika credit title muncul tetap bertahan di kursi ya. Akan ada bonus shoot yang akan membuat kamu tersenyum ketika keluar bioskop. Satu lagi film Indonesia yang membanggakan. Selamat Mbak Titien Wattimena dan Falcon Pictures.

*Special Thanks to @Moviegoersid ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s