Cerpen: Tetangga Baru

TETANGGA BARU

 

Keluargaku punya tetangga baru. Tepat di sebelah kanan rumah kami. Baru hari ini mereka datang. Tetangga yang lama pindah ke Bekasi Timur. Lebih dekat dari tempat kerja si Ayah. Aku jadi kehilangan satu teman kelasku karena untuk lebih efisien ia juga harus pindah sekolah.

Aku ada di rumah sore itu ketika mereka sampai. Suara truk menggeram, mukanaya terlihat dari jendela rumah kami. Acara TV lagi seru. Jadi aku tak begitu tertarik untuk menghampiri mereka seperti yang dilakukan Mama ataupun Papa yang baru pulang kerja.

“ Namanya Pak Trisno. Kayaknya pendiam banget orangnya,” komentar Papa. Papa cerita, kalau Pak Trisno tidak ditanya-tanya oleh nya, Papa tidak akan diajak ngobrol. Jawabannya juga kaku. Tidak luwes.

“ Tapi istrinya sudah nyambung ngobrol sama Mama, Pa,” timpal Mama. Papa mencoba memaklumi karena mereka orang baru di lingkungan ini. Tidak semua orang diciptakan supel, katanya. Pak Trisno mempunyai dua anak. Yang lelaki seusiaku dan yang kedua kelas 5 SD.

“ Pak Trisno kerjanya di daerah Cikarang. Jauh juga, ya, pulang pergi dari Jakarta Timur,” lanjut Papa.

***

            Hari kedua rumah sebelah kami masih seperti kosong. Padahal sudah diisi. Memang hari libur. Tapi keluarga Pak Trisno seperti benar-benar menyepi di dalam. Cuma kadang istrinya keluar membuang sampah atau sekedar belanja ke warung. Mama pernah iseng membawakan mereka kue buatannya. Padahal ingin mengetahui apa yang mereka kerjakan di dalam. Tapi menurut mama normal. Pak Trisno membaca Koran. Istrinya masak. Kedua anaknya tenang menonton TV. Cuma suasananya senyap. Tak ada obrolan. Masing-masing sibuk dengan yang mereka lakukan. Sewaktu aku lewat depan rumahnya untuk memenuhi janji pada teman jalan-jalan ke Mall, aku perhatikan rumah itu, mencoba menerobos apa yang ada di dalam melalui jendela yang tak ditutup gordennya. Tapi kelihatan tak ada gerak-gerik. Cuma Pak Trisno yang kepalanya kelihatan sedang menghadap Koran.

Waktu memang tak kenal kompromi, hari Senin kembali datang. Aku bukan orang yang termasuk dalam golongan I don’t like Monday, jadi mencoba untuk having fun aja.

“ Hari ini kalian kedatangan teman baru,” kata Bu Yuli dengan suaranya yang khas. Sebagian murid antusias, sebagian lagi cuek. Lalu Bu Yuli memanggil siswa baru tersebut. Ia jalan tertunduk. Berpakaiannya begitu rapi. Ujung kemejanya dimasukkan ke dalam celana. Berbeda dengan siswa disini umumnya, kecuali Meldy si jenius, yang kerap membeber ujung kemeja melewati pinggang. Aku juga sering tidak rapi.

“ Nama saya Putra,” ia memperkenalkan diri gugup dan kaku. Sebentar ia merunduk, sebentar ia melihat sekeliling kami. Telapak tangannya saling berpegangan di bawah perut. “ Hai, Putra,” kami serempak menjawab. Putra tetap berekspresi sama.

Beberapa teman menyela selama perkenalan itu. Bu Yuli mencoba meredam kegaduhan, kami jinak sejenak. Tapi tertawa lagi ketika ada saja yang nyeletuk. Putra diminta Bu Yuli duduk di bangku pojok kanan paling belakang. Cuma bagian itu yang kosong. Ia duduk sendiri.

“ Iiy….Itu kan bangku keramat,”  pekik Afif Usil, Kami mengikuti sekenarionya dengan pura-pura bergidik. Gubrisan Bu Yuli tak mempan.

“ Emang apa buktinya bangku itu keramat?” Sisi si chubby bertanya lugu,

“ Lo liat tu Anto,” kami kompak meliriknya. Anto yang kelihatan ngantuk jadi melek. “ dia kan dulu duduk disitu. Liat aja sekarang dia jadi gagap. Ya gara-gara disosot setan bangku,” kami terpingkal. Bu Yuli mengancam. Kami pun diam. Bu Yuli berkata pada Putra untuk tenang saja. Tidak apa-apa. Putra berjalan merunduk ke tempat duduknya sambil sesekali melirik kami. Ia seperti sama sekali tak terganggu.

***

            Pulang sekolah aku memutuskan langsung pulang saja. Semalam gebetan minta temani nonton konser jazz sampai lewat tengah malam. Papa dan Mama mencak-mencak. Untung tidak berlangsung lama. Di depan pagar rumah, aku tertegun pada seseorang yang mendekat. Dia membuka pagar rumah di sebelah rumahku.

“ Putra…” panggilku. Ia menoleh. Aku parkir motor sejenak di depan pagar. Ku hampiri ia. Ia kelihatan sulit mengenaliku. Aku paham. Di sekolah tadi ia sama sekali tak bergerak dari tempat duduknya, tidak bergabung dengan kami. Aku sebut namaku. Menjabat tangannya. Aku jelaskan kalau aku ini teman sekelasnya.

“ Lo anak Pak Trisno?” tanya ku. Mencoba bersikap menyenangkan.

“ Iya,” jawabnya kaku.

“ Kita tetanggaan,” aku menjelaskan rumahku tepat di sampingnya. Aku tawari ia untuk mampir. Ia bilang lain kali. Aku ngantuk berat, jadi tak bisa juga masuk ke rumahnya.

***

            “ Pak Trisno juga enggak ikut acara bersih-bersih lingkungan di hari Minggu,” kata Papa di ruang keluarga di depan TV. Kami jadi tak benar-benar menonton. Sebenarnya malam ini teman-teman satu geng mengajakku untuk kumpul di tempat biasa. Mengingat besok ada ulangan Biologi aku tidak ikut. Eh, yang lain pun membatalkan. Sudah pada insaf rupanya. Aku terbiasa belajar dekat-dekat TV. Orang tua ku tak pernah protes lagi tentang itu karena nilai-nilaiku cukup bagus. Sementara adikku kalau belajar benar-benar harus tenang.

“ Dia malah lebih memilih untuk membayar saja,” lanjut Papa. Di lingkungan kami kalau warganya tidak ikut bersih-bersih pada hari Minggu diwajibkan membayar.

“ Mungkin lagi sibuk kali, Pa,” timpal Mama.

“ Memang sudah berapa lama mereka ada disini,” itu bukan pertanyaan dari Papa. Sebuah penegasan bahwa keluarga Pak Trisno tinggal dilingkungan kami sudah lebih dari sebulan. Selama itu mereka tak menunjukkan gerak-gerik untuk membaur dengan kami. Putra pun di sekolah selalu kelihatan sendiri. Berangkat maupun pulang sekolah, ke perpustakaan, ke kantin, ke lab, duduk pun ia masih sendiri paling belakang. Sampai-sampai Afif merasa perkataannya benar kalau Putra sudah kesambet dengan kesendiriannya. Tapi Putra bisa menjadi saingannya Meldy. Ia pernah mengerjakan soal pemberian Guru Matematika di papan tulis dengan sempurna. Padahal selama ini yang paling ampuh dalam hal itu si Meldy.

Aku pernah mencoba mengajaknya pergi maupun pulang sekolah bersama dengan motorku. Tapi ia selalu saja berangkat lebih dulu dengan angkot. Sementara adik perempuannya kelas empat SD, sepertinya pendiam juga.

            “ Tapi Istri Pak Trisno malam jum’at kemarin ikut pengajian ibu-ibu di rumah Bu RT,” kata Mama. Istri Pak Trisno memang yang paling terbuka. Meski tidak terlalu.  Mama tak enak bertanya padanya apakah suaminya begitu sibuk sehingga tak ada waktu membaur. “ Kalau anaknya Pak Trisno gimana, Ren di sekolah?” lanjut Mama. Aku jawab seadanya.

Dua bulan berlalu setelah kedatangan keluarga Pak Trisno tak ada tanda-tanda perubahan dari sebulan sebelumnya. Keluarga itu masih tertutup. Istri Pak Trisno yang meski mulai rajin ikut pengajian Ibu-Ibu juga tak begitu terbuka. Kalau bicara seperlunya, kata Mama. Papa cerita kalau warga sekitar sering membicarakan keluarga tersebut. Mereka bilang keluarga itu sombong, egois, tak peduli sesama dan lingkungan. Bahkan ada yang iseng bilang mungkin Pak Trisno sedang mempelajari ilmu hitam. Lebih jauh lagi bilang ia ada kelainan jiwa. Aku juga pernah secara langsung mendengar tetangga-tetangga membicarakan keluarga Pak Trisno ketika mereka berkunjung ke rumahku. Baik itu teman-teman Mama maupun Papa. Beberapa teman sekolahku pun pernah membicarakannya sekilas ketika ke rumahku. Mereka bertanya benarkah itu rumah si Putra. Kok sepi banget, ya? Apa enggak ada orang?

“ Ya, kita jangan berprasangka buruk dulu, lah. Kita belum tahu yang sebenarnya,” kata Papa. Bahkan pagi itu tanpa sengaja kita berbelok membahas keluarga tersebut.

“ Ya, gimana enggak berprasangka buruk, Pa. Mereka tertutup rapat seperti itu. Meski pun kita di Jakarta, tapi jangan sampai seperti itu, lah,” timpal Mama sambil menyiapkan sarapan. Adikku begitu terburu-buru. Hari ini ia ada kunjungan ke museum. Kalau telat ditinggal. Aku juga harus berangkat lebih pagi hari ini. Sebelum masuk kelas, aku harus membereskan laporan ekskul jurnalistik.

Ketika keluar gerbang, aku juga melihat Putra hendak berangkat. Rajin sekali ia rutin berangkat jam enam pagi. Aku pelankan laju sepeda motor menyusulnya.

“ Pagi, Putra, “ sapaku. Ia sedikit kaget juga. Ia jawab dengan kaku seperti biasa. Seperti orang awam di depan kamera. “ Mau bareng?” tawarku padanya untuk membonceng di belakang.

“ Tidak. Terima kasih,” ia menolak. Kasihan jika aku tinggal. Dia juga teman sekelas dan tetanggaku. Aku paksa akhirnya ia mau juga. Ia memang tipe penjawab sejati. Baru bicara jika ditanya atau harus lebih dahulu diajak ngobrol.

“ Rajin bener Lo berangkat jam segini Put. Tiap hari lagi,” di lampu merah itu aku coba lebih mengakrabkan diri.

“ Ya…sudah biasa,” jawaban klise. “Kamu juga rajin jam segini sudah berangkat,” aku menjawab apa adanya pada pernyataannya itu.

“ Ayah Lo juga berangkat kerja jam segini?”

“ Dia berangkat setengah enam. Ikut jemputan.”

“ Ibu Lo?”

“ Ibu udah enggak kerja lagi.”

Dari obrolan itu aku juga baru tahu kalau adiknya bersekolah di SD tempatku dulu.

“ Ayah Lo kayaknya sibuk banget, ya?”

“ Enggak juga.” Lampu mulai kuning. “ Aku tau maksud pertanyaanmu,” terkanya. Aku tak bermaksud menyinggung. Lalu kami hening di tengah bisingnya lalu lintas pagi. Ia tak bertanya balik tentangku.

***

            “ Lo sekelompok sama kita, ya Put,” pintaku pada Putra. Untuk tugas Fisika kami dibuat berkelompok-kelompok. Dua minggu lagi dikumpulkan. Putra Cuma senyum. “ Gue enggak begitu ngerti. Yang lain juga kayaknya sama. Lo kan pinter, bisa ngajarin kita.”

Bel istirahat berbunyi. Putra masih menggantungkan permintaanku. Afif memanggilku untuk ke kantin. “ Ntar ikut kesambet Lo, Ren,” ujar Afif menyindir Putra. Aku mengajak Putra ke kantin. Ia tidak mau.

“ Aku tak pandai bergaul,” gumamnya. Aku tertegun.

“ Jangan berpikiran begitu. Makanya ayo kita sering ngumpul.”

“ Minggu depan keluargaku mau pindah rumah lagi,” aku terkejut. Lalu duduk di bangku depan mejanya. Kelas mulai sepi.

“ Lho, kenapa? “

“ Sebaiknya enggak usah diceritakan.”

“ Cerita aja. Mungkin gue bisa Bantu. Gue kan temen Lo. Tetangga Lo juga,” paksaku. Aku penasaran. Ia baru tiga bulan tinggal di lingkunganku. Ia merunduk. Ragu-ragu.

“ Aku sebenarnya juga tak pernah dijelaskan kenapa kami sering pindah.”

“ Sering?” aku menegaskan.

“ Sejak aku kecil kami sekeluarga sering pindah-pindah. Entah sudah berapa kali.”

Aku seperti mendengar sebuah ratapan.

“ Alasannya? Kamu sendiri belum jelas?”

“ Aku pernah menanyakan. Ayah cuma bilang butuh suasana baru. Tapi aku rasa bukan itu yang ia cari.”

“ Sebelumnya maaf, apa Ayah Lo begitu sibuknya sampai jarang berbaur?”

“ Bukannya jarang. Tapi enggak pernah,” tegas Putra sebenarnya aku juga ingin menyampaikan hal itu. Tapi aku perhalus. “ Entahlah. Ayah begitu tertutup. Ayah bukan orang yang sombong. Bukan karena itu ia tidak membaur. Buah memang tidak jauh kan jatuh dari pohonnya. Lihat bagaimana aku,” ia palingkan wajah padaku. Matanya mengembun.

“ Kenapa Lo enggak mau ngumpul sama kita?” Ia merunduk lagi. Mendesah.

“ Aku malu. aku merasa tak pandai melakukan itu. Aku merasa jelek. Aku takut dicemooh.”

***

            Hari ini Putra tidak masuk. Sebagaimana ucapannya seminggu lalu, keluarganya akan pindah. Aku sudah menceritakan masalah keluarga Pak Trisno itu pada Papa seminggu yang lalu juga. Mungkin ia bisa membantu. Meskipun belum lama mengenal dia, aku merasa kasihan padanya

Tapi sore itu jam tujuh ketika aku pulang dari latihan futsal, aku melihat rumah Putra masih dihuni. Pintu depannya terbuka. Apakah secepat ini penghuni baru menggantikannya? Aku tanya pada Papa mengenai hal itu.

“ Pak Trisno enggak jadi pindah,” jawab Papa sambil menyeruput teh.

“ Enggak jadi, Pa? Bener, Pa?” ku selempangkan handuk ke leherku.

“ Iya. Papa belum cerita, ya? Kemarin malam Papa dan Pak RT ke rumah Pak Trisno tanpa memberitahu dia langsung,” aku langsung duduk di hadapan Papa di dapur menyimak ceritanya, “ kebetulan Pak Ernes, sekretaris RT, pindah ke Sumatra. Jadi posisinya usul Papa diberikan pada Pak Trisno. Awalnya warga yang lain menolak. Tapi papa terangkan masalahnya pada mereka kenapa Pak Trisno bersikap begitu. Alhamdulillah enggak ada yang keberatan.” Lanjut Papa. Ia seruput lagi tehnya.

“ Pak Trisno awalnya juga menolak posisi itu. Papa sama Pak RT memaksa. Papa pancing akhirnya Pak Trisno certa juga masalahnya. Termasuk kenapa ia sering pindah rumah. Sebagaimana kata kamu, Ren, ia merasa tak bisa, bahkan takut bersosialisasi.”

“ Terus Pak Trisno mau jadi sekretaris,” aku menyela.

“ Setelah dibujuk-bujuk Alhamdulillah dia mau. Papa sebagai psikolog ngerti masalah Pak Trisno ini. Kasihan. Apa lagi dia udah tua. Masa harus bersikap seperti ini terus. Papa kasih saran gimana sebaiknya ia bersikap. Kasihan juga keluarganya. Kalau begini terus bisa-bisa penyakit Bapaknya ini menurun pada anak-anaknya,” dan memang hal itu sudah menular pada Putra, pikirku.

Putra tidak masuk sekolah hari ini karena ia sakit perut. Mereka sekeluarga tidak jadi pindah. Memang ahlinya Papa sebagai psikolog mempengaruhi seseorang. Ada kelegaan tersendiri di dadaku karena hal ini. Putra orang baik. Pintar. Aku sering bertanya padanya tentang pelajaran yang aku belum paham. Dengan ini posisi juara kelas bisa jadi rebutan antara ia dan Meldy.

***

            Sore itu tanpa sepengetahuan Putra, aku dan tiga teman sekelas lainnya termasuk si usil Afif berkunjung ke rumah Putra. Kami ingin todong Putra untuk belajar kelompok dengan kami. Untuk menyelesaikan tugas Fisika. Kalau diberi tahu terlebih dahulu, Putra pasti keras menolak. Afif awalnya gengsi, tapi untuk nilai Fisika ia tak berkutik.

Putra cukup kaget dan canggung karena ini. Begitu pun Pak Trisno. Tapi kami berusaha terbuka dan bersahabat dengan mereka. Bahkan aku cuek merebus mie untuk teman-teman di dapurnya. Putra dengan profesional mengajarkan kami materi yang belum kami mengerti. Sesekali aku memergoki Pak Trisno menguntit dari belakang. Memperhatikan kami tertawa-tawa dengan berbagai candaan. Ah, biarkan saja. Biar ia meyakini bersosialisasi itu menyenangkan. Dan kami menikmati kegiatan hari itu. (Ali Satri Efendi)

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s