[Resensi Film]: HIJAB

Produser
Hanung Bramantyo
Haykal Kamil
Zaskia Adya Mecca
Sutradara
Hanung Bramantyo
Penulis Naskah
Hanung Bramantyo
Rahabi Mandra

Pemain:

Carissa Puteri Sebagai  Bia
Natasha Rizki Sebagai  Anin
Ratu Tika Bravani Sebagai  Tata
Zaskia Adya Mecca Sebagai  Sari
Ananda Omesh Sebagai  Ujul
Dion Wiyoko Sebagai  Chaky
Mike Lucock Sebagai  Gamal
Nino Fernandez Sebagai  Matnur

Apa yang kira-kira kamu pikirkan ketika pertama kali mendengar sebuah film berjudul “Hijab”? MungkinHijab3 kebanyakan orang akan bilang ini adalah sebuah film religi, sebuah film dakwah, atau mungkin sebuah film inspiratif yang mengajak para perempuan untuk menutup auratnya (dan berujung pada dakwah dan kisah religi). Berkaitan dengan film ini, anggapan itu tidak sepenuhnya benar, juga tidak sepenuhnya salah.

Bia, Tata dan Sari mempunyai alasan masing-masing untuk menggunakan hijab. Bia (Carrisa Puteri) yang pandai mendesain mengaku menggunakan hijab karena kejebak, lalu menikah dengan seorang pemain sinetron. Tata (Tika Bravani) yang pandai berdebat dan berorasi menggunakan hijab karena ingin menutupi aibnya di kepala, kemudian menikah dengan seorang fotografer. Sementara Sari (Zaskia Adia Mecca) yang pandai berbisnis seperti sudah ditakdirkan menjadi muslimah seutuhnya dan menikah dengan lelaki keturunan Arab, yang membuat bakat bisnisnya tersebut harus terkurung demi patuh pada suami. Sebentar, muslimah seutuhnya juga manusia juga, kan… Sari dengan jilbab lebarnya tidak serta merta (membuat karakternya klise) menjadi muslimah yang “sempurna”. Ia juga masih berlaku seperti perempuan biasa, manusia biasa.

Satu lagi, melengkapi empat sahabat yang rame ini, Anin, satu-satunya yang tidak menggunakan hijab, gadis yang punya obsesi pada apapun yang berbau Perancis. Hingga dekat dengan seorang sutradara film idealis yang karyanya diputar di Paris. Mereka punya kisah masing-masing tentang harapan, rumah tangga, dan kemandirian. Ini yang membuat Hijab menjadi seru, pembagian kehidupan empat karakter utamanya merata, membuat keempatnya punya peran yang besar dalam film ini.

Film diawali (dan seterusnya) dengan curhatan Bia, Tata dan Sari langsung menghadap kamera tentang alasan mereka memakai jilbab, bagaimana mereka bertemu dan menikah dengan pasangan-pasangan mereka, dan bagaimana susahnya mereka memulai usaha jual jilbab mereka secara diam-diam karena khawatir dengan respon suami, sampai membuka sebuah butik dengan nama “Meccanism”. Mereka bercerita begitu lepas. Saling ungkap dan saling sindir. Rame dan lucu. Sampai Sari pun yang terkesan paling “alim” diantara mereka tak sungkan melepas ceritanya. Cara ini membuat film terasa interaktif dan kelenturan para pemainnya bercerita membuat penonton terlibat dalam cerita.

Yang tidak akan terlupakan dari film Hijab (selain para pemainnya yang berakting pas sesuai karakter yang diperankan) tentu adalah warna-warna yang memanjakan penonton sepanjang film. Benang, bahan, kain, kerudung, kostum, wardrobe, properti, dan sebagainya diatur dengan warna sedemikian rupa hingga membuat film begitu segar dan ceria. Banyaknya warna tersebut seperti menyatu dengan cerita, menyatu dengan karakter, hingga ada warna-warna yang seperti mewakili konflik-konflik yang dialami para tokoh; konsistensi, konflik keluarga, komitmen, dan pilihan hidup. Lagu dari Andien yang berjudul “Let it be my way” juga menyatu dalam film, menegaskan pilihan kemandirian para istri untuk menjalankan passion dan keinginannya untuk punya peran dalam rumah tangga dengan caranya sendiri.

Hal-hal yang membuat lucu film ini antara lain banyaknya sindiran yang menyentil banyak isu. Mulai dari isu sosial, sindiran untuk kakunya muslim konservatif (yang dilimpahkan pada suami Sari yang diperankan oleh Mike Lucock), hingga sindiran pada dunia film itu sendiri dan para pembuatnya (yang diwakili oleh si sutradara idealis, Dion Wiyoko) dengan berbagai keanehan selera yang dipunya. Semua itu menunjukkan skenario yang begitu kaya.

Cuma ada beberapa hal yang terlihat kurang konsisten dalam film ini. Karakter suami Sari, seorang muslim konservatif dan keturunan Arab harusnya tidak bisa begitu saja akrab dengan orang-orang seperti sutradara kontroversial dan idealis dan juga fotografer yang cukup “bebas” dalam berkarya. Beberapa penyelesaian konflik pun terkesan agak tiba-tiba. Tapi semua itu berhasil tertutupi dengan kemasan keseluruhan film yang sangat menghibur. Dengan film ini, kedudukan Hanung Bramantyo sebagai salah satu sutradara yang punya nama tetap kokoh. Ia beberapa kali piawai menyajikan sebuah isu (yang sering terkesan sensitif) menjadi sesuatu yang harus dipikirkan kembali bahkan ditertawakan.

Lalu apakah Hijab merupakan sebuah film religi? Seorang teman pernah memberi kesannya. Ah… baiknya nonton saja hiburan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s