[Resensi Film] Di Balik 98

Produser
Affandi Abdul Rachman
Rista Ferina
Sutradara
Lukman Sardi
Penulis Naskah
Ifan Adriansyah Ismail
Syamsul Hadi

 

Pemain:

Boy William Sebagai  Daniel
Chelsea Islan Sebagai  Diana
Agus Kuncoro Sebagai  B. J. Habibie
Alya Rohali Sebagai  Mbak Dayu
Amoroso Katamsi Sebagai  Presiden Soeharto
Bima Azriel Sebagai  Gandung
Donny Alamsyah Sebagai  Bagus
Fauzi Baadilla Sebagai  Rahman
Ririn Ekawati Sebagai  Salma
T. Rifnu Wikana Sebagai  Rachmat
Verdi Solaiman Sebagai  Karumga

poster-dibalik-98Sebagai bangsa yang besar, Indonesia mempunyai banyak sekali peristiwa sejarah yang bisa diangkat menjadi sebuah film, yang berhubungan dengan kerajaan-kerajaan ataupun peristiwa terbaru yang berkaitan dengan seorang tokoh. Diberi penyedap berupa drama dengan skenario dan penyutradaraan yang atraktif, maka peristiwa tersebut akan menjadi “hiburan” yang “memuaskan” bagi penonton.

Peristiwa 98 merupakan salah satu peristiwa yang merubah wajah Indonesia. Sebuah tahun dimulainya reformasi. Sebuah tahun dimana HAM menjadi sebuah permainan. Sebuah tahun yang membuat ekonomi jadi soal ulangan paling sulit. Tahun dimana teriakan, asap, ego dan kepentingan saling beradu. Tahun yang memberi inspirasi bertubi bagi para sineas ataupun seniman pada umumnya.

Tahun ini, film berjudul “Di Balik 98” dirilis. Untuk alur cerita film tersebut seperti apa, mungkin kebanyakan penonton sebelum melihat film itu pun tahu kejadian “besar” apa saja yang terjadi di tahun tersebut; kerusuhan, penjarahan, pembantaian, krisis moneter, turunnya sang presiden dan meninggalnya empat mahasiswa Trisakti. Dari sisi pengetahuan penonton tersebutlah film ini malah bisa mengundang rasa penasaran mereka bagaimana peristiwa tersebut digambarkan, bagaimana para pemain berperan dan bagaimana kerusuhan dan reformasi itu bisa dilihat sendiri walau lewat layar bioskop. Apa yang telah diketahui menjadi apa yang ingin dilihat. Apalagi untuk generasi yang cuma mengetahui peristiwa tersebut dari cerita atau dari sudut pandang sebuah buku dari sudut penulis tertentu, tentu akan lebih penasaran.

Yang menarik dalam film ini adalah (salut untuk usaha penulis skenario) alur cerita dibawa oleh beberapa sudut pandang yang berbeda dan mempunyai cerita serta masalah-masalah sendiri; rakyat biasa, mahasiswa, pribumi keturunan Tionghoa, tentara, pekerja istana dan para politikus itu sendiri. Berbagai sudut pandang yang berbeda adalah “harta” yang berharga dalam film ini. T. Rifnu Wikana yang berperan sebagai pemulung terlihat begitu mendalami sekali perannya. Logat bicara dan penampilannya begitu meyakinkan. Ririn Ekawati yang berperan sebagai karyawan istana dan seorang istri yang sedang hamil tua pun berakting dengan gemilang. Penampilan Agus Kuncoro sebagai Pak Habibie mau tidak mau harus dibandingkan dengan penampilan Reza Rahadian di film “Habibie Ainun”. Apa yang ia suguhkan setidaknya sama dengan apa yang Reza tampilakn beberapa waktu lalu. Pemain lainnya pun pas sesuai dengan porsinya; Chelsea Islan dan Boy William sebagai mahasiswa yang aktif dalam pergerakkan, Donny Alamsyah sebagai tentara, juga Alya Rohali dan Verdi Solaiman sebagai karyawan istana. Para aktor dan aktris yang berperan sebagai “pejabat masa lalu” pun sesuai dengan peran masing-masing. Cuma penonton mungkin telah akrab dengan sosok beberapa tokoh, sehingga ketika ada pemeran beberapa tokoh yang familiar tersebut muncul dan mereka terkesan berusaha keras memerankan tokoh tersebut, tapi tidak begitu sama persis, respon penonton malah terbalik menjadi respon yang lucu. Tapi ya sudahlah, kesalahan fokus itu bisa dimaklumi.

Berbagai adegan disajikan dengan detil; pembakaran dan penjarahan yang menegangkan, aktifitas militer ketika itu hingga penggambaran atribut dan kendaraannya, setting lokasi, serta respon rakyat yang terhubung dengan peristiwa tersebut, baik melihat langsung maupun dari TV yang mereka tonton. Semua itu terlihat begitu baik dipersiapkan. Ada adegan yang cukup unik dalam film ini, dimana seorang mahasiswi yang sedang protes pada kakaknya yang seorang tentara di tengah unjuk rasa. Suara-suara para pengunjuk rasa diredam, hingga yang terdengar dengan sangat jelas dan menggetarkan adalah kedua suara mahasiswa dan tentara tersebut. Penonton terhenyak. Dan adegan di penghujung film, di sebuah rumah sakit, seperti mempertanyakan kelahiran reformasi negeri ini. Cuma perubahan sikap beberapa pemeran di akhir film yang begitu drastis menjadi ganjalan. Tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh untuk kenikmatan penonton umum menyaksikan film ini. Mungkin yang mengganjal bagi mereka adalah akting para pemeran pejabat dan politikus yang mereka tertawakan di beberapa adegan. Saya pribadi mengharapkan sebuah film tentang reformasi tanpa melibatkan dan menggambarkan tokoh-tokoh politikus itu di layar. Cukup dari sudut pandang orang-rang biasa saja; pemulung, mahasiswa, perusuh, karyawan istana, dan orang biasa lainnya. Tapi adanya film ini cukup memuaskan.

Di penyutradaraan perdana film panjangnya ini, Lukman Sardi telah berhasil membawa sebuah karya yang detil dan bisa dinikmati oleh penonton. Ditunggu karya-karya selanjutnya, Pak!

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s