[Resensi Film] Nenek Siam

Produser

Oswin B. Soegandah

Sutradara
Andreas Sullivan

Pemain:

Kirana Larasati Sebagai  Tika
Bella Esperance Sebagai  Eyang Putri
Erlin Sarintan Sebagai  Bu Mira
Selena Alesandra Sebagai  Poppy
Tiara Westlake Sebagai  Kikan

nenek-siamSudah berapa banyak film horror yang bercerita tentang sekelompok anak muda yang tersesat di sebuah tempat antah berantah dan mengalami kejadian-kejadian menakutkan? Banyak sekali. Meskipun telah dipakai ribuan kali, premis seperti ini masih punya daya tarik tersendiri untuk sebuah film horror jika bisa dikemas dengan pendekatan dan sudut yang berbeda. Entah mungkin dari eksekusi cerita, plot yang diubah urutannya, atau dari karakter-karakternya yang khas. Karena menemukan sesuatu yang benar-benar baru sudah tidak mungkin. Yang bisa dilakukan adalah memodifikasi. Dan premis “Nenek Siam” rupanya masih ingin ikut berdesakkan ke dalam “angkutan” cerita film horror dengan premis yang sama.

Tika (Kirana Larasati), Kikan (Tiara Westlake), dan Poppy (Selena Alessandra) terpaksa harus tinggal dan menginap di sebuah rumah di daerah yang tidak mereka ketahui karena mobil mereka mogok ketika dalam perjalanan menuju tempat liburan mereka. Bu Mira, pemilik rumah tersebut dengan sangat baik menerima mereka, apalagi mereka sedang ketakutan dengan orang asing mencurigakan yang mereka temui di jalan. Kebaikan Bu Mira rupanya punya maksud tertentu. Rencana menakutkan telah ia siapkan demi Eyang.

Yang menarik dari “Nenek Siam” adalah alur cerita dan setting-nya yang sederhana. Cerita film hanya terhitung dua hari sejak film dibuka dan tempat sebagai setting cerita itu pun tidak luas, hanya jalan dan di sekitar sebuah rumah yang dianggap angker. Pengemasan pun tidak tergesa-gesa dan tidak memunculkan banyak penampakkan seperti yang disajikan beberapa waktu lalu oleh kebanyakan “film horror lokal”. Andreas Sullivan selaku sutradara berusaha membawa cerita film ini dengan perlahan dan semulus mungkin. Ia mencoba mengajak penonton menyaksikan keanehan dan keseraman secara tahap demi tahap, hingga puncaknya menuju akhir film. Hubungan antar tiga tokoh utama pun terbangun dengan baik; obrolan, candaan dan pertengkaran berlangsung cukup “tertata” di antara mereka.

Tapi tidak ada yang spesial dalam film ini. Semua bumbu horror yang dimasukkan ke dalam film ini adalah bumbu yang biasa; anak-anak muda yang sial, cerita-cerita yang awalnya tidak dipercaya, hingga formula-formula penampakkan yang sudah bisa ditebak. Film ini pun tidak menakutkan (well, kadar menakutkan bagi setiap orang berbeda-beda. Ketika saya menonton film ini, beberapa orang terdengar meringis dan berteriak). Kemunculan Sang Eyang secara keseluruhan menuju akhir film harusnya menjadi sebuah adegan yang “monumental dan iconic” dalam film ini, tapi hal itu kurang dikemas dengan baik dan intens. Efek make up pun terlihat kurang meyakinkan. Scoring yang dibuat semenakutkan mungkin terdengar beberapa kali tidak pas dan berlebihan (ada sebuah musik latar yang terdengar seperti yang ada di film “Rosemary’s Baby”). Dan karakter yang diperankan oleh Reza Nangin terkesan hanya tempelan semata. Fokus pada tiga tokoh utama mungkin lebih baik. Cerita-cerita flash back yang disajikan secara tiba-tiba juga terasa dipaksakan. Tapi itu bisa dimaklumi ketika apa yang dianggap “kejutan” akhir film terungkap.

Ada satu adegan yang menurut saya keren dalam film ini. Ketika sang Ibu pulang dan bertanya bagaimana keadaan anaknya, sang Ayah menjawab dengan puas. Kamera mengambil adegan tersebut dengan gaya extreme long shot. Entah kenapa, aura menakutkan justru muncul dalam adegan tersebut.

Di balik sekian kelemahan film ini, usaha Andreas Sullivan dan segenap tim menyajikan sebuah film horror yang “normal” patut diapresiasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s