[Resensi Film] WESTWIND

Directed by 

Robert Thalheim

Screenplay 

Ilja Haller
Susann Schimk

Cast 

Friederike Becht Doreen
Luise Heyer Isabel
Franz Dinda Arne
Volker Bruch Nico

Selasa, 13 Januari 2015 adalah pertama kali di tahun 2015 Goethe House kembali menyelenggarakan acara dwi-mingguannya; Art-House Cinema. Film yang ditayangkan pada malam itu berjudul “Westwind” karya Robert Thalheim yang dirilis pada tahun 2011. Senang event ini kembali lagi. Bagi pecinta film yang tidak peduli apakah yang ditonton film komersil atau film altenatif (seperti saya), asalkan bisa menonton film apapun jenisnya, event ini adalah sebuah pesta.

Film “Westwind” sendiri berlatar Jerman pada tahun 1988, dimana pada masa itu negara tersebut masih dibagi menjadi dua; timur dan barat. Film ini mengajak kita bertemu Doreen dan Isabel, dua gadis bersaudara asal Jerman Timur yang harus pergi ke sebuah summercamp orang-orang Jerman Timur di tepi danau Balaton, Hungaria untuk berlatih olah raga dayung dan mempersiapkan diri mereka untuk sebuah pertandingan dan masuk ke sebuah sekolah atlit. Di tengah perjalanan mereka bertemu dua pemuda, Arne dan Nico, yang sedang berlibur di Hamburg, dan mereka berasal dari Jerman Barat. Disinilah konflik bermula.

Ketika sedang beraktifitas, kedua pemuda Jerman Barat itu dan teman-temannya tiba-tiba berkunjung. Hal ini mengundang kemarahan Balisch, orang yang berwenang terhadap summercamp tersebut. Tapi kemarahan dan teguran yang diterima Doreen dan Isabel tidak membuat mereka kapok untuk bertemu Arne dan Nico, malah mereka berani keluar area summercamp secara diam-diam untuk datang ke sebuah club dan bertemu Arne dan Nico. Pertemuan rahasia ini terus berlanjut dan rasa cinta itu timbul dengan indah sekaligus rumit. Hingga mereka dihadapkan pada sebuah sanksi dan pilihan.

Hal apa yang harus diambil pada sebuah cerita berlatar sebuah sejarah agar bisa dinikmati oleh penonton? Hal-hal yang berhubungan dengan percintaan terbukti masih ampuh membuat cerita bisa dibentuk bagaimanapun dan mengundang perhatian penonton, apalagi film ini digadang berdasarkan kisah nyata. Kisah ala romeo dan juliet ini tidak habis-habisnya menyentuh banyak pihak dan terus didaur ulang dengan bagaimanapun pendekatannya di dalam film. Finishing touch dan karakter tokoh utama yang membuat film ini sedikit berbeda. Konsep, latar dan sinematografi film ini juga membuat cerita cinta-cintaan usang kawula muda tersebut bisa terselamatkan dari kejenuhan. Apalagi musik yang dipakai, sebagaimana setting-nya, kental dengan musik delapan puluhan. Dan lagu-lagu Depeche Mode sepanjang film membuat film ini semakin nyaman untuk dinikmati. Serta peran vinyl yang cukup mencuri perhatiana dakam film mengisyaratkan bangkitnya kembali kejayaan media musik elegan tersebut. Akting yang jadi pusat perhatian tentu jatuh pada dua pemeran utama gadis bersaudara, Friederike Becht dan Luise Heyer, sederhana dan pas. Lokasi dan cerita yang tidak begitu luas jangkauannya membuat sang sutradara sepertinya tidak memiliki beban untuk menghadirkan nuansa vintage delapan puluhan. Walau ada beberapa adegan akhir film yang terasa terburu-buru untuk diselesaikan, toh tetap saja film ini tetap jadi hiburan, penonton tidak dibuat kebingungan di akhir.

Dengan ditayangkannya “Westwind”, merupakan sebuah penyambutan untuk program “Arthouse Cinema” GoetheHaus yang kembali di tahun 2015 untuk menyuguhkan panorama dan kisah-kisah dari Jerman juga cerita-cerita dari Indonesia sebagai pendamping.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s