[Resensi Film] Rock N Love

Produser                      : Ayu Indirawanty, Hedy suryawan

Sutradara                     : Hedy suryawan

Penulis Naskah            : Syamsul Hadi

Pemain:

Cella “Kotak” Sebagai  Cella
Chua “Kotak” Sebagai  Chua
Tantri “Kotak” Sebagai  Tantri
Denny Sumargo Sebagai  Manager
Ganindra Bimo Sebagai  Rotor
Vino G. Bastian Sebagai  Robin

Cinta. Sebuah tema yang tidak habis-habisnya digali dalam film. Kisah yang sangat fleksibel hingga bisa ditempel di film dengan latar apapun, dari biopik, laga, komedi, apalagi drama. Dari film indie hingga industri. Masalahnya adalah menyatu atau tidaknya kisah cinta itu pada latar cerita.

Bagaimana pada film tentang perjalanan sebuah band?

Rock N Love, film perdana bagi band Kotak tentu sebuah pencapaian membanggakan bagi Tantri, Chua dan Cella, juga hal yang dinanti bagi para Sahabat Kotak di seluruh Indonesia. Setelah mencapai prestasi dan terkenal di blantika musik dengan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga, sudah hal yang lumrah jika langkah selanjutnya adalah terjun ke dalam dunia film, sebuah eksplorasi dan media promosi bagi Kotak sendiri tentunya, bisa lebih merekatkan diri pada penggemar dan materi yang cukup menjanjikan bagi sineas. Apalagi jika film dibuat dengan tidak main-main.

Secara teknis, film ini memang tidak main-main. Hedy Suryawan sebagai sutradara berhasil menggambarkan hiruk pikuk sebuah band rock, konser dan dinamika yang terjadi di berbagai sisinya. Scoring dengan musik rock dan sinematografi yang membuat warna hitam menjadi terkesan cerah pun cukup seru. Tapi tidak ada yang bisa diharapkan dari sisi cerita.

Entah menjadi film ke berapa dengan cerita seperti ini; sebuah band yang berjuang dalam sebuah kompetisi, persaingan antar peserta, perseteruan, masalah pribadi berupa percintaan dan mencoba baik-baik saja di antara konflik. Sebuah rangkaian formula yang amat sangat tidak asing untuk film tentang sebuah band dan musiknya. Pecinta film bisa saja mengurutkan keningnya sepanjang durasi film.

Tapi, meskipun tidak ada yang istimewa dari alur cerita dan beberapa scenes terasa tanggung, Rock N Love bukanlah film yang membosankan, malah cukup menyenangkan. Hal itu berkat jasa para pemainnya yang sangat lentur berinteraksi dan bertukar kalimat. Selain piawai beraksi di atas panggung, rupanya Tantri, Cella dan Chua tidak canggung berakting di depan kamera. Nilai lebih harus diberikan pada Chua yang tampil mempesona dan tanpa beban. Beberapa candaan kecilnya terlihat menyenangkan. Dan “chemistry” nya dengan Mas Bagus adalah salah satu point yang membuat para audiens betah menonton hingga habis. Para pemain pendukung yang berperan sebagai kru pun tampil menghibur. Sementara Denny Sumargo, Vino G. Bastian, Ganindra Bimo dan Shae juga tampil cukup unggul. Film ini benar-benar berhutang banyak pada para pemainnya.

Lalu apakah kisah cinta yang selalu ramai dibicarakan orang menyatu dalam film ini? Well, setidaknya bagi saya film ini tidak mengecewakan. Ada satu adegan yang saya suka, ketika Cella piawai memainkan gitarnya dengan irama musik blues sementara gambar beralih ke panorama kota. Sedap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s