[Resensi Film] Janji Hati

Produser                      : Rudi Soedjarwo, Tyas Abiyoga

Sutradara                     : Otoy Witoyo

Penulis Naskah            : Anggi Septianto

Pemain                         :

Aliando Syarief Sebagai  Dava
Elvira Natali Sebagai  Amanda
Guntur Nugraha

Jujur, sebenarnya saya berharap banyak pada usaha yang dibuat oleh Rudi Soedjarwo di “Rumah Terindah”. Saya antusias dengan semangatnya mengumpulkan bakat-bakat baru dan kegigihannya menulis aktifitas dan kata-kata motivasi di twitter. Apalagi ketika Rumah Terindah kabarnya akan meluncurkan beberapa film dengan tema-tema dan judul yang tidak biasa dengan menyebar teaser-teaser poster dan trailer secara online, saya turut senang dengan perkembangan itu. Dan akhirnya, sebuah film hasil binaan pusat pendidikan dan latihan film itu diluncurkan di bulan Februari ini, sebuah film dengan judul “Janji Hati”. Trailernya pun cukup menjanjikan sebenarnya dan pasti membuat para remaja penggemar Aliando tidak sabar menunggu.

Tapi kemudian… harapan saya luntur seketika.

Janji Hati adalah salah satu film paling kacau yang saya tonton di awal tahun ini. Akting yang seharusnya jadi kebanggaan yang bisa ditonjolkan karena telah bergabung dalam sebuah pendidikan film di film tersebut hasilnya mengecewakan. Dubbing-nya berisik dan sangat mengganggu. Pergerakan kamera yang bikin pusing. Pergantian struktur gambar yang tak tentu (mungkin karena perbedaan penggunaan kamera) membuat saya ingin memejamkan mata. Serta yang tidak mungkin bisa dilupakan, alur yang sangat berantakan. Cerita remaja tentang dua remaja yang awalnya tidak akur lalu saling suka dan… ya udah lah ya… juga adegan-adegan yang bikin garuk-garuk kepala dan akhir yang…so what?! Dan itu kenapa bilang mau ke Malang besok tapi enggak berangkat-berangkat…?! Arrrghh… Rasa antusias saya membeku bersama penampilan aktris utamanya yang beku. Rasanya ingin segera keluar jika tidak mengingat biaya yang telah saya korbankan. Hal yang patut dibanggakan di film ini hanyalah ketika musik latar mellow terdengar dan potongan-potongan adegan muncul bergantian, tanpa dialog. Hanya manusia dan panorama. Mungkin harusnya sepanjang film diisi dengan gaya seperti itu saja.

Sangat disayangkan film ini jadinya seperti ini. Padahal film ini punya potensi besar jika dipoles lebih serius. Skill penyutradaraan Otoy Witoyo yang terlihat baik di beberapa sisi film ini pun terkesan sia-sia. Rudi Soedjarwo sebagai produser dan sineas yang sudah punya banyak pengalaman harusnya lebih peka dan waspada merilis karya seperti ini. Apalagi atas nama “Rumah Terindah” yang ia bangun. Bisa-bisa banyak penonton yang kapok untuk menonton film yang berhubungan dengan Pusdiklat yang didirikannya itu. Tapi bagi siswi-siswi remaja yang sangat menggemari nama Aliando, film ini cukuplah ya buat mereka menyalurkan hasrat.

Lalu saya mempertanyakan, apakah saya pribadi masih punya harapan pada film yang mungkin nanti akan dirilis atas nama Rumah Terindah? Hmm… ayolah Mas Rudi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s