[Resensi Film] Nada untuk Asa

Produser                      : Hendrick Gozali

Sutradara &

Penulis Skenario          : Charles Gozali

Pemain                         :

Marsha Timothy
Acha Septriasa
Darius Sinathrya
Donny Damara
Inong
Mathias Muchus
Nadila Ernesta
Wulan Guritno

Apa yang khas dari film dimana karakternya mengidap penyakit tertentu? Tangisan, penderitaan lalu berujung pada akhir yang tragis yang menguras emosi penonton. Formula yang sering kali sulit dihindari, sampai membuat sebuah cerita film mudah ditebak. Tapi biar bagaimanapun, formula seperti ini masih tetap ampuh untuk penonton Indonesia.

Ada dua hal yang mudah sekali dapat “mengambil” hati penonton dan jadi pokok pembicaraan di dalam sebuah film; tragis dan mengharukan. Dua hal yang berdekatan dan kadang tipis jaraknya. Bagaimana dengan film terbaru karya Charles Gozali yang berjudul “Nada untuk Asa”?

“Nada untuk Asa” mengenalkan kita pada Nada dan Asa, dua perempuan yang berjuang dengan penyakit yang diderita masing-masing, sebuah penyakit yang sering kali masih jadi momok banyak orang, apakah harus dijauhi ataukah tetap didekati. Nada yang baru mengetahui suaminya mengidap penyakit tersebut dan ia pun tertular setelah suaminya meninggal, dan Asa yang harus terus berteman dengan penyakit tersebut sejak ia lahir. Kita menemui dua orang perempuan yang sekilas berbeda dalam menyikapi masalah yang mereka hadapi. Nada yang begitu shock dengan apa yang baru ia ketahui dan ia tidak pernah duga sebelumnya, apalagi suaminya adalah lelaki baik-baik. Bayinya ikut tertular dan keluarganya seolah lepas tangan. Tangisan tidak henti mengurungnya berkali-kali. Nada memberi kesan pada kita bahwa ia adalah perempuan yang rapuh. Well, siapapun yang mendapat kenyataan mengejutkan seperti itu mungkin tidak begitu saja menerima fakta yang ada. Sementara Asa yang mendapat perlakuan tidak semena berkali-kali ia tetap hadapi dengan begitu positif seperti angin lalu dan menaggapinya dengan mencari sudut-sudut terbaik dari kejadian tersebut. Kita mendapatkan kesan perempuan yang kuat dari Asa, yang selalu berusaha tersenyum walau kita bisa lihat kegetiran di balik renyah sikapnya itu. Kedua tokoh perempuan tersebut dimainkan dengan begitu cemerlang oleh Marsya Timothy dan Acha Septriasa.

Lalu apakah Nada serapuh itu dan Asa perempuan yang begitu kuat? Disinilah kekuatan film ini. Charles Gozali sebagai sutradara dan juga penulis skenario tidak begitu saja membawa cerita film pada formula yang umumnya terjadi pada film sejenis atau kisah panjang dalam sinetron. Kehidupan adalah roda yang berputar, dan film ini tidak terperangkap pada kisah pada umumnya yang terkesan datar. Yang selalu rapuh tidak akan selalu terlihat rapuh. Begitu juga sebaliknya, yang terlihat selalu kuat bisa saja lemah sesekali. Salut pada skenario yang tetap membuat cerita film ini terus berputar sewajarnya dan tidak fokus pada dongeng tragis penyakit tersebut. Ada beberapa adegan dalam film yang begitu pas dan apik dilapisi kalimat-kalimat yang begitu gemilang diucapkan para tokohnya. Adegan Marsya Timothy dan Wulan Guritno di pemakaman akan sulit untuk dilupakan, juga ketika Nada menghadapi Ayah dan Kakaknya; pertunjukkan akting yang sangat kuat. Chemistry antara Acha Septriasa dan Darius Sinathrya pun cukup meyakinkan; perkenalan mereka, dialog-dialog yang mereka ucapkan sepanjang pendekatan sangat pas dan kritis. Ya, kritis. Pembicaraan mereka bahkan bisa dijadikan bahan diskusi lebih lanjut.

Sejenak “alur” cerita film ini mengingatkan saya pada alur film “Claudia/Jasmine” yang membelah cerita film menjadi dua, lalu penonton diberikan kejutan di akhir. Juga mengingatkan saya pada film “The Hours” yang membagi film pada tiga tokoh utamanya yang juga memberikan sedikit twist di akhir film. Apakah “Nada untuk Asa” berusaha memberikan sebuah kejutan di akhir? Mungkin juga tidak. Karena latar belakang tokohnya telah jelas sedari awal film. Secara keseluruhan tidak ada masalah dengan hal tersebut. Dan Meskipun film ini terkesan dibuat dengan sederhana, tapi semua itu dibayar dengan skenario yang keren. Sebuah film yang patut untuk tidak dilewatkan.

Pada akhirnya keluargalah penawar yang paling mujarab untuk mengurangi bahkan menghilangkan beban. Sudah sepatutnya keluarga menjadi tempat paling nyaman dan menanam harapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s