[Resensi Album] Album Vakansi – White Shoes & the Couples Company

Album Vakansi adalah album kedua White Shoes and The Couples Company (WSATCC) yang telah dirilis 2010 lalu. Meskipun sudah cukup lama, tapi gaungnya masih terdengar di kalangan pecinta musik sampai sekarang. Albumnya pun masih diminati di toko musik “umum”, mengingat mereka adalah musisi indie. Bukti bahwa karya yang “istimewa” tidak ada urusan dengan waktu dan posisi.

Seperti album-album sebelumnya, gaya vintage sebagai ciri khas masih bertahan di lagu-lagu mereka, juga pada pengemasan album, gaya ketika mereka tampil dan aksesoris. Album ini dirilis lewat label “purapurarecord” bekerja sama dengan “Demajors” (sebelumnya mereka ada di bawah bendera Aksara Record hingga label yang sempat memberi angin segar di dunia musik Indonesia tersebut tutup pada tahun 2009).

Album Vakansi bersisi 13 lagu. Seperti judul albumnya, mendengarkan album ini terasa sekali suasana liburannya. Suasana musim panas, deru kendaraan, sepoi angin, lirik-lirik yang seolah mengajak singgah sebentar dari kesibukkan, serta aransemennya yang seru dan cerah. Gairah liburan tersebut langsung terasa di lagu pembuka yang pendek seperti intro yang berjudul “Berjalan-Jalan”, bertutur tentang perjalanan keliling nusantara dan manca negara. Hanya perlu suara Sari sang vokalis dan bunyi-bunyian deru kendaraan dan semilir angin di lagu ini. Lembut dan syahdu.

Sementara di “Zamrud Khatulistiwa”, mereka mengajak kita selain bersenang-senang dengan liburan 20150216_232016yang kita punya, berjalan-jalan keliling Indonesia, upload dokumentasi ke media sosial, juga mengingatkan tentang keruh udara, pohon-pohon yang mulai habis dan hutan yang gundul. Mereka menegaskan, inikah yang kau inginkan, manusia? Setelah suguhan intro yang imajinatif di “Berjalan-Jalan”, mendengarkan “Zamrud Khatulistiwa” seperti menonton sebuah pembukaan film. Genderang yang bergemuruh dan memantik telinga, harmoni petikan gitar elektrik, gitar akustik, synthesizer, serta vokal latar yang serasi dengan lirik yang dinyanyikan Sari.

“Senja Menggila” menceritakan tentang riuhnya hidup di perkotaan, orang-orang yang terkena rayuan kota, kerasnya hidup yang tergambar dalam lirik yang sesederhana “….mengumpulkan rejeki…untuk sesuap nasi”. Selain kepiawaian masing-masing personil dengan instrumennya, di lagu ini juga bisa didengar dukungan violin, terompet, saksofon alto, saksofon tenor, trombon, flute dan perkusi yang tak kalah ramai. Beberapa lagu lain pun mendapat asupan instrumen-instrumen tersebut yang dimainkan oleh para sahabat WSATCC.

“Selangkah ke Seberang” adalah lagu daur ulang milik Fariz RM. Ia pun tampil dalam lagu ini dengan permainan synthesizer-nya yang menonjol. Mendengarkan lagu ini seketika terbayang serunya jika kedua gabungan beda generasi ini tampil di atas panggung, berinteraksi dengan melodi. Lagu dengan aransemen lebih santai ada di “Rented Room” (walau di akhiri dengan semacam intro dengan tempo lebih cepat) dan “Kisah dari Selatan Jakarta”. Mendengarkan keduanya dengan permainan kibor dan gitar yang meliuk santai, vokal utama dan vokal latar yang dilantunkan perlahan memberikan suasana sore yang teduh setelah berjalan dengan panas matahari seharian. Pada lagu “Vakansi” meski aransemennya santai tapi masih terasa gemuruh keceriaan yang mengajak pendengar juga pekerja keras untuk melepaskan rutinitas sejenak untuk merasakan pantai, angin bertiup, nyiur melambai sambil berjalan kaki dan mengobrol. Petikan gitar elektrik Oele Pattiselanno ditonjolkan disini.

Eksperimen selain terdapat pada lagu pertama juga terdengar di lagu “Sans Titre”. Cuma ada seorang perempuan dengan percakapan Perancisnya diiringi petikan gitar, kibor, synthesizer dan latar vokal. Ada keresahan yang terpancar dari nada “perempaun Perancis” tersebut dan aransemen yang semakin “tidak beraturan” di penghujung lagu. Irama drum yang lebih ramai diiringi oleh efek “clap hands” dan riuh teriakan dan vokal latar ada di lagu “Hacienda”, sebuah lagu yang penuh semangat. sementara lagu yang terdengar paling “jenaka” dengan lirik perpaduan antara Bahasa Inggris dan Bahasa Irian Jaya (sepertinya) dengan logat yang dibuat tak lepas dari “mother tongue” ada di lagu “Matahari”. Irama lokal daerah Timur Indonesia itu pun langsung terasa, walau tidak terlalu dominan.

Senang sekali mendengar perpaduan apik dan kaya harmoni dari permainan gitar akustik dan elektrik Yusmario Farabi dan Saleh Husein, bas dan cello oleh Ricky Surya Virgana, lalu kibor, synthesizer dan lainnya oleh Aprimela Prawidiyanti, serta drum juga perkusi oleh John Navid. Vokal Aprilia Apsari yang sederhana tanpa banyak dinamika membuat suasana vintage makin terasa di lagu-lagu WSATCC. Dan tak kalah penting lirik yang kuat dengan nuansa tempo dulu, seperti dalam frasa; batara surya, jejaka, dara nan ayu, titisan dukalara, makmur sejahtera, bahagia sentosa, nestapa, dan lainnya yang tersebar di sepanjang lagu-lagu beraroma jazz penuh eksplorasi ini.

Seluruh lagu diaransemen sendiri oleh WSATCC, sementara hampir semua lirik ditulis oleh Aprilia Apsari, dan beberapa lagu ditulis oleh beberapa sahabat seperti Ade Firza Paloh, Oomleo (yang mempersembahkan lagu “Kisah dari Selatan Jakarta” untuk mendiang Ayahnya), Saleh Husein, dan David Tarigan. Walaupun sebenarnya tidak semua lirik bertema “liburan”, mendengarkan “Album Vakansi” dengan aransemennya yang cerah adalah pelepasan dari rutinitas dengan tamasya musim panas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s