[Cerpen] Koran Minggu

20141231_062001Rizki melihat jam tangannnya. Sudah 10 menit ia menunggu Abi, teman kuliahnya, di sebuah kafe sederhana di area Taman Ismail Marzuki. Sebuah buku berjudul “Midnight Children” karya Salman Rushdie telah ia lahap lima halaman. Jus yang ia pesan telah ia minum seperempat dengan perlahan. Sesekali ia melihat sekeliling. Minggu pukul 11. Jejeran kafe mulai diramaikan para pengunjung. Planetarium mulai dipenuhi anak-anak sekolah. Dan terlihat kegiatan syuting tak jauh dari Pusat Dokumentasi HB. Jassin. Hal-hal yang biasa terjadi di area ini.

Abi. Sejenak ia teringat. Lelaki puitis. Amat puitis. Apapun yang ia temui bisa dijadikannya puisi. Mulai dari sebongkah batu, hingga teman-teman kampusnya yang ia kenal. Rizki pun pernah ia buatkan sebuah puisi. Makanya ia terkenal dengan sebutan “Sang Pujangga Kampus” ketika kuliah. Ia sering diundang ke berbagai macam acara dan mendeklamasikan puisinya. Ia juga tak kalah populer dengan teman-teman yang rajin bawa mobil mewah, jago basket, foto model, atau ketua rohis. Rizki sendiri kadang menyebutnya “Gusur”.

“Betapa banyak dahan tersungkur karena lamunan/

Setelah angin datang membawa godaan/”

Damn! Gue kenal suara ini.

Perhatian Rizki pada anak-anak yang bermain di depan bioskop terbelah. Ia lantas berdiri.

“Rizki…my man…!” Abi menjabat tangan Rizki begitu erat.

“Gusur…” Rizki membalas dengan menghentaknya ke atas dan ke bawah.

“Aduh…kenapa lo masih panggil gue Gasar-Gusur, sih,” Abi menoleh ke sekeliling, “Jatuh pamor gue. Gue lumayan sering kesini.”

“Kayak lo doang yang sering kesini.”

“Yang lain kan pada ke mall.”

Lalu mereka duduk berhadapan.

“Jangan panggil gue Gusur lagi, ya…” tegas Abi mengacungkan telunjuk

“Wuis…ngancam bos…?” Canda Rizki, “Gusur itu kan salah satu karakter lucu yang gue kenal dari kecil. Gusur, Boim, Lupus. Dan dia seneng banget sama puisi.”

“Lo jadi Boimnya!”

“Sialan, Lo!” Sebongkah buku hampir pasrah melayang. “Lo mau makan apa? Pesen, gih…!”

“Wah…asyiiik…ada yang mau nraktir, nih?” Abi sumringah.

“Apa aja, deh…”

“Yang udah jadi bos.”

“Amiin yaa rabbal’alamiin…” Rizki mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah seperti habis berdo’a. “Buruan pesen! Tawaran gue cuma berlaku lima menit!” Abi lalu bergegas.

“Jam berapa acaranya, Dip?”

“Jam satu.” Abi mengambil jusnya Rizki yang tidak begitu dipedulikan.

“Bedah buku puisi aja?”

“Paling ada acara baca puisi,” dan juspun tandas. Rizki cuma menggelengkan kepala. “Ikut baca puisi ya, lo entar.”

“Ah, enggak. Gue dari dulu cuma penikmat.”

Beberapa menit kemudian makanan yang dipesan Abi datang. Soto ayam serta nasi putih dan jus jeruk. “Mantap!” Ujarnya.

“Lo enggak makan, Ki?”

“Masih kenyang. Tadi makan jam setengah sebelas,” ujarnya sambil sebentar mengusap perut. “Udah berapa lama lo gak cukur, Dip?” Tanya Rizki yang memperhatikan rambut Abi yang sebahu.

“Ya…sejak terakhir kali kita ketemu, lah, hampir setahun yang lalu. Anaknya WS. Rendra pantang cukur.” Jawabnya sambil mengunyah dan sesekali merapikan rambutnya. “Rambut lo masih pendek aja?”

“Sejak kapan rambut gue lewat dari tengkuk? Enggak pernah.”

Rizki memesan kembali jus alpukat. Ia ancam Abi agar jangan mengambilnya lagi. Kalau iya, semua makanan wajib dia yang tanggung.

“Tas lo penuh banget. Pasti masih suka bawa Koran Minggu ya?”

“Iya. Ya…siapa tau puisi-puisi gue ada yang dimuat.”

“Coba sini gue lihat.”

Abi merogoh tasnya dan mengambil sebuntal koran yang membuat Rizki keheranan.

“Ckckck…makin banyak aja…” Rizki meraih sebuntal koran dari tangan Abi, “berita yang lain Lo baca enggak?”

“Baca dong…buat inspirasi bikin puisi baru. Biar up to date.”

“Terus puisi lo Minggu ini dimuat enggak?”

“Hehe…” Abi menghentikan kunyahannya dan tersenyum sejenak, “enggak… Biasalah, keberuntungan enggak pernah menetap lama di pundak seseorang, lompat terus.”

Rizki menatap prihatin Abi yang masih melahap makanannya. “Buat gue puisi lo bagus-bagus. Terlalu banyak orang bermutu di negeri ini yang terhalang batas keberuntungan. Ya…asal jangan tiba-tiba lo jadi patah semangat buat kirim-kirim lagi aja.”

“Hahaha…sejak kapan seorang Abi patah semangat. Lo tau Dina, Nova, Maya, Winda, Resty?” Rizki mengangguk. “Waktu kuliah dulu gue kejar terus tuh mereka. Tiap hari. Gue kirimin puisi terus. Gigih banget gue waktu itu. Ya…walaupun ditolak-tolak juga.”

Rizki sontak tertawa mendengar candaan Abi, “Iya…gue inget. Kasihan mereka lo terror terus.”

Lalu jus alpukat yang dipesan Rizki datang.

“Karya lo kan juga pernah masuk media. Berkali-kali pula,” tegas Rizki.

“Terakhir masuk media…wah sudah lumayan lama. Makanya nih tangan gatal terus buat bikin karya yang bisa lebih baik lagi.” Rizki mengambil jus jeruk dan menyeruputnya sedikit. “Dulu waktu pertama kali karya gue masuk koran yang terkenal, walah senengnya bukan kepalang. Jingkrak-jingkrakan gue di atas kasur. Nama gue seolah naik pangkat. Honornya pun lumayan.”

“Asyik ya kalau sudah ngomongin honor kayak gitu,” ujar Rizki.

“Bukan asyik lagi. Maknyus…” Abi mencondongkan satu jempolnya. “Honor puisi sih besarnya tergantung koran atau media mana yang memuat. Yang paling besar sih sampai sejuta. Dan media itu yang sampai sekarang belum bisa gue tembus.”

“Terus kerjaan lo apa sekarang selain nulis?” Tanya Rizki.

“Kerjaan sehari-hari?”

“Iya. Kerjaan yang dapat duit.”

“Gue sehari-hari ngajar di SMA. Ngajar Bahasa Indonesia sama Kesenian. Terus di sekolah itu kan ada ekskul menulis, gue jadi pengurusnya.” Abi kembali menyedot jus jeruknya, “gue dulu sempet mikir kalau gue bisa jadi penyair sebagai mata pencaharian gue. Tapi, ya…disini itu cuma mimpi. Dan gue enggak mau ngerepotin orang tua gue terus.”

“Yah…money sucks! Tapi kita semua butuh.”

“Yah…begitulah. Lo masih di perusahaan yang lo ceritain dulu?”

“Alhamdulillah masih. Baru karyawan biasa sih.”

“Lo juga bukannya dulu suka bikin cerpen, ya Ki?” Tanya Abi.

Rizki menikmati jus alpukatnya. Ia tersenyum, “dulu. Sudah lama banget enggak bikin lagi.”

“Lho…kenapa? Harusnya dikembangkan, dong…”

“Inspirasi selalu ada. Tapi mood enggak pernah singgah. Apalagi gue kerja sekarang, gue belum kasih kesempatan tangan gue buat nulis lagi. Paling kecintaan gue sama sastra gue salurkan lewat baca aja.”

“Sayang aja sih, Ki, kalau enggak diteruskan. Bikin lagi dong. Habis pulang kerja gitu beberapa menit. Terus kirim ke koran. Siapa tau dimuat di Koran Minggu atau majalah sastra.”

“Haduh…untuk saat ini enggak dulu, ya…”

“Yah…amat sangat disayangkan.”

Rizki tersenyum sambil mengangkat bahunya, “ya mungkin aja suatu hari nanti setelah semua buku yang gue baca, ada keresahan tersendiri yang bikin gue nulis.”

“Kalau gitu gue do’ain supaya besok lo dikaruniai keresahan sedalam-dalamnya, dan cuma bisa sembuh jika ditulis.”

“Kurang ajar, sudah ditraktir kok do’anya kayak gitu.”

Sorry…sorry…

“Eh…di rumah lo Koran Minggu sudah banyak banget pasti, ya? Atau dijual?”

“Bagian kolom sastranya, cerpen sama puisinya gue gunting, gue kliping. Sisanya gue jual. Lumayan duitnya buat beli Koran Minggu baru atau beli majalah sastra.”

“Telaten banget, sih sampai dikliping.”

“Lumayan buat koleksi arsip dan bacaan.”

“Eh…lo sudah selesai makan, kan? Sebelum ke book launch kita ke toko bukunya Pak Jose Rizal, yuk. Lihat-lihat buku lama.”

“Ayo,” Abi menenggak jus jeruknya hingga tandas, “let’s go!”

Rizki merapikan sekumpulan Koran Minggu yang tadi ia lihat sejenak, lalu ia serahkan pada Abi yang langsung Abiksa pas masuk dalam tasnya. Rizki membayar bill, lalu mereka berduapun meninggalkan kafe.

Tak jauh di meja lain, seseorang sedang bahagia cerpennya tembus salah satu Koran Minggu.

(Ali Satri Efendi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s