[Cerpen] Jam Pelajaran Kedua

Jam pelajaran kedua akan segera dimulai.

Arif mempersiapkan apa yang ia perlukan sebaik-baiknya. Ia buka lagi buku Biologinya. Ia baca lagi apa yang dipelajari Minggu lalu. Ia merunduk memperhatikan buku di mejanya. Keningnya berkerut. Sesekali ia melafalkan kata-kata berliku dalam istilah latin. Ia angggap setiap hari adalah ulangan umum. Pikiran itu lebih baik dari pada harus berpikir keras bagaimana bersosialisasi dengan baik.

***

Jam pelajaran kedua akan segera dimulai.

Randy segera pergi ke luar kelas menuju toilet. Satu jam tak bercermin adalah bencana baginya. Cermin kecil di sakunya tak cukup mendeteksi kira-kira apa yang berubah dari penampilannya sejak tadi pagi. Apakah rambut belah duanya kusut, kulitnya mulai kusam, seragamnya tertekuk-tekuk, atau matanya terlihat tidak segar? Ia seolah berhadapan dengan cermin ajaib dalam cerita Disney. Wahai cermin ajaib, pikirnya, siapa yang paling keren di sekolah ini?

***

Jam pelajaran kedua akan segera dimulai.

Tia sesekali memperhatikan Bayu yang sedang mengobrol dengan teman di belakang bangkunya. Ia tidak kuat jika sebentar saja mengalihkan pandangannya. Alis matanya, senyumnya, lesung pipitnya, bahasa tubuhnya, kalimat-kalimat yang diucapkan dari suara segarnya adalah warisan malaikat, puji Tia diam-diam entah mungkin kesejuta satu kali. Dan ia tidak akan siap dengan bebas meluapkan kekagumannya itu. Apa nanti kata teman-temannya? Pikirnya. Seorang perempuan gendut tidak proporsional, doyan ngemil, cerewet, suka dengan salah satu cowok rebutan di sekolah ini. Mimpi!

***

Jam pelajaran kedua akan segera dimulai.

Rofi menempelkan lengannya di meja, bersama dagunya menempel di atas siku. Ia malas. Jam pelajaran pertama membuatnya seperti ada dalam liang lahat. Terkekang. Dan jam kedua siap memasukkannya ke dalam neraka. Ia malas bukan main. Ia hembuskan nafas dalam, tapi tak cukup melepas emosi. Ia lihat sekeliling kelas yang cukup gaduh dengan berbagai obrolan. Ia tak semangat untuk mengikuti. Ia butuh gitar listriknya untuk menyengat segala kebosanan ini.

***

Jam pelajaran kedua akan segera dimulai.

Vira memanfaatkan sisa waktu yang beberapa menit untuk membicarakan beberapa topik hangat dengan tiga temannya di sekitar bangku bagian tengah tempat ia duduk. Cowok ganteng favorit mereka jadi bahan utama. Vira tidak segan mengatakan, meski dengan perlahan, ia sedang PDKT dengan Bayu yang duduk di depan sebelah kanan. Ia bilang, ia sering menemani Bayu ketika latihan basket dan mengurus kegiatan OSIS. Oleh karena itu ia rela beberapa kali absen ke Mall untuk bisa ikut rapat OSIS agar bisa dekat terus dengan Bayu. Tak apalah ketinggalan film-film box office terbaru atau tidak mendapat produk mode terbaru. Tak apalah asal PDKT nya sukses.

***

Arif masih menekuni buku biologinya. Sebenarnya ia telah membaca bagian itu. Juga bagian-bagian sebelumnya. Bahkan bagian yang siswa lainpun mungkin belum baca. Tapi ini pengalihan terbaik dari hingar bingar di sekelilingnya. Beberapa pengurus OSIS yang sedang membicarakan kegiatan class meeting, beberapa yang sedang membicarakan sepak bola, beberapa lain yang membicarakan film-film yang baru rilis dan lagu-lagu terbaru, juga lainnya dengan beragam suara.

Ya, Arif sebenarnya mendengarkan itu semua. Ia ingin bergabung dalam salah satu kelompok itu. Atau kalau perlu semuanya. Karena ia juga tahu, meski tak terlalu detil tentang apa yang mereka bicarakan. Tapi ia canggung. Ia merasa tak cukup keren; lelaki berkacamata, gaya kaku, dan mudah gugup. Ia pasti akan terlihat sangat memalukan jika bergabung, pikirnya.

***

Randy kembali ke kelas. Rambut belah tengahnya terlihat kelimis kembali. Cara berjalannya terlihat dibuat-buat segaul dan semacho mungkin. Seragamnya ia keluarkan dari celana, dan bagian lengannya ia tekuk dua lipatan. Ia ingin terlihat sekeren mungkin. Dan pasti memang begitu, pikirnya. Ia selalu berusaha jadi pusat perhatian. Pusat kekaguman. Apapun bisa ia lakukan untuk itu. Dengan penampilan, cerita-cerita, macam-macam aksi, dan sebagainya.

“ Hai! Lagi ngobrolin sekuel film Twilight terbaru, ya?” Timpalnya pada salah satu kelompok yang sedang mengobrol seru. Vira dan tiga temannya yang di dekati seketika diam.

***

Tia masih sesekali mencuri pandang pada Bayu. Perutnya mulai lapar dan ia tahan. Tak apalah asal Bayu tetap di pelupuk. Dulu, belum lama sih, sebelum virus ini menjangkitinya, apabila ia mulai merasa lapar sedikit saja, dan itu bisa terjadi dalam hitungan menit, ia bisa langsung ngemil. Tasnya berat dengan cemilan. Bahkan di tengah pelajaran sering ia izin ke toilet dengan sedikit cemilan yang ia sembunyikan di saku celana untuk dihabiskan disana. Itu sering tak terkendali. Tapi setelah rasa suka dengan Bayu tumbuh, rasa inginnya untuk selalu makan mendadak layu. Jelasnya ia paksakan jangan sampai pernah ada lagi. Ia ingin tampil ideal. Ia lihat Vira sebagai contoh. Kurus, cantik, ekspresif. Sebenarnya banyak orang yang bilang dirinya cantik, tapi sayang semua itu tertutup lemak. Itu juga motivasi utamanya. Dan itu juga yang membuatnya lebih pendiam akhir-akhir ini. Teman-temannya pun heran.

“Tia, setiap lo pandang Bayu, kayaknya berat lo berkurang, deh,” ledek temannya di belakang. Tia mendelik.

“ Dari pada liatin Elo, gue langsung pengen makan!” ketus Tia.

***

Rofi membenamkan matanya di antara siku beberapa detik. Ia tidak mendapati kenyamanan, jadi ia angkat lagi kepalanya. Tak berapa lama ia ulangi lagi menelungkupkan kepala, lalu bangkit lagi. Ia bosan luar biasa. Ia berpikir untuk mengajak teman di sebelahnya untuk bolos. Dan jika itu ia lakukan entah yang keberapa kali. Jika nanti ia ketahuan dan dijemur di depan tiang bendera, atau orang tuanya dipanggil, entah keberapa kali juga.

Dari sekian pelajaran dan sekian guru yang ia hadapi, semuanya ia anggap buang-buang waktu. Bikin ngantuk. Selalu menggunakan metode klasik. Apalagi pelajaran Biologi yang terlalu mengagungkan LKS. Penyiksaan nomor dua, selain di rumah sendirian karena kedua orang tuanya selalu pergi entah kemana. Oleh karena itu gitar jadi pengalihan. Lalu ia menulis lagu. Bercerita tentang berbagai emosi dengan distorsi berat.

***

Vira dan tiga temannya sudah tidak kaget lagi jika tiba-tiba Randy ikut ambil bagian dalam obrolan merea tanpa diundang. Obrolan tentang Twilight dan Bayu yang tak kalah keren dengan Jacob Black terpaksa dihentikan karena sosok yang terkenal sangat menyebalkan di kelas. Yang menurut mereka sok akarab dan sok serba tahu plus sok aktif.

“ Hai juga, Randy,” Vira balas menyapa dengan perhatian yang dibuat-buat. “Eh, gimana karir lo di sinetron? Kapan kita bisa lihat akting lo?” Tanya Vira dengan nada dalam frekuensi ejekan terselubung. Ketiga temannya senyum-senyum juga mengejek.

“ Tenang…tenang… Belum lama lagi bakal tayang. Sabar aja. Gue total lho akting dalam sinetron ini,” jawab Randy. Sementara pendengar-pendengarnya ada yang mendelikan mata muak, menahan tawa, dan mengumpat sampai ubun-ubun. Baru jadi figuran, sudah belagu, pikir mereka.

***

Arif berharap sang Guru Biologi secepatnya masuk. Suara-suara sekitar semakin mengerdilkan dirinya. Ia sudah coba sesering mungkin menyemangati dirinya sendiri dengan mengingat nilai-nilainya yang selalu bagus, pujian-pujian dari guru membuat dia jadi tauladan bagi teman-temannya, dan beberapa teman serta anak-anak sekitar rumahnya yang sering bertanya padanya jika ada masalah dalam pelajaran. Tapi semua itu seolah runtuh dengan kesendiriannya. Rasa ketidak mampuannya untuk membaur. Kekakuannya dalam menghadapi obrolan teman-temannya yang saling beradu. Ia seperti tak punya kesempatan untuk itu. Redam begitu saja. Ia merasa butuh pertolongan.

***

Randy terus bercerita tentang karirnya di sinetron dan FTV yang akan dibintanginya bulan depan, dengan peran yang tidak penting berikutnya. Wajah Vira dan teman-temannya terlihat semakin tidak sehat. Begitu berlawanan dengan ekspresi Randy yang menggebu.

Vira tak tahan, ia memotong paksa kalimat Randy dan pergi ke arah Tia. Diikuti oleh lainnya mencari kesibukan lain.

“ Lho, pada mau kemana…?” Randy kehilangan pendengar lagi. Ia lihat sekeliling. Tiba-tiba dadanya terasa agak berat. Lalu ia lepaskan saja udara yang mengganjal dalam dadanya itu, kemudian melaju ke tempat duduknya di depan Rofi.

***

Pandangan Tia pada Bayu buyar. Vira tiba-tiba merangkulnya. Temannya yang sedari tadi meledek pun diam. Khawatir antara Tia dan Vira ada masalah.

“ Tia…kok dari tadi diam aja, sih? Biasanya gabung sama kita-kita certain macam-macam,” suara Vira manja. “Terus kasih kita cemilan.”

Tia tersenyum mendongak melihat Vira dengan bahunya masih terangkul. “ Biasalah, Vir. Lagi mikirin dongeng buat anak-anak.”

“ Masa bikin dongeng sampai selama ini, sih? Bukan Cuma kali ini aja, lho. Akhir-akhir ini Tia jadi aneh. Kemana tuh lengkingan suara delapan oktaf?”

Tia kembali tersenyum. Ini dia alasan lain yang membuat ia mustahil meluapkan rasa pada Bayu. Centil-centil gini, Vira itu gadis yang sangat baik. Ia juga lumayan sering bantu-bantu Tia dalam beberapa urusan tempat penampungan anak-anak jalanan tempat Tia mengajar. Ya, di sela kegiatannya ke Mall.

***

“Kenapa, Lo? Kok tiba-tiba suntuk?” Tanya Rofi. Randy menyenderkan tubuhnya pada tembok. “ Biasanya keliling sana-sini,” kali ini menyindir.

“ Capek!” Keluh Randy.

“ Capek? Bisa capek juga, Lo? Makanya dihemat tuh mulut.”

Randy menegakan duduknya, “ Maksud Lo apa?” Rofi selama ini memang sering meledeknya dengan terang-terangan.

“ Wuish…Jangan marah, dong…” Rofi tersenyum dan seolah menahan emosi Randy dengan dua tangannya. “ Lo sadar gak sih? Anak-anak gak suka sama gaya Lo! Umbar sana umbar sini. Sok hebat. Sok keren. Belagu Lo!” Ini pelampiasan kepenatan Rofi. Dan Randy pun berdiri. Suara geseran meja dan kursi cukup membuat siswa-siswi di kelas itu mengalihkan perhatian pada mereka.

“ Diam Lo!” Randy menunjuk muka Rofi kasar.

“ Kenapa? Lo mau nonjok gue? Lo nonjok gue sekali, gue bakal bales Lo sepuluh kali!” Sekarang Rofi yang berdiri dan menunjuk ke arah Randy kasar. “ Kalau Lo marah karena gue salah, terus kenapa Lo ngerasa capek?!” Tatapan Randy pada Rofi melemah. Ia kembali duduk.

“ Kenapa, Randy, Rofi?” Tanya Bayu dengan wajah khawatir.

“ Enggak. Enggak ada apa-apa. Ini Randy lagi latihan akting. Gue Cuma bantu.” Mendengar itu beberapa orang dalam kelas tak sanggup menahan tawa. Randy melihat sekeliling. Lidahnya kelu. Ia kembali bersandar pada tembok.

“ Lihat, kan?” Rofi puas. “ Udah, dari pada Lo gak semanget kayak gini, mending Lo ikut gue sama Anwar keluar.”

Randy tersenyum dan mendengus, “ Buat apa gue jadi figuran sana-sini kalau bukan buat bayar sekolah. Gue masih pengen lihat orang tua gue seneng!”

Rofi terdiam. Lalu bersandar ke tembok.

***

“ O, iya. Bayu kan lagi butuh pengisi acara untuk acara perpisahan kelas tiga nanti, anak-anak di penampungan bisa kan ya tampil?” Tia tertegun dengan tawaran Vira. “ Mereka kan pintar nyanyi dan main musik. Enggak kalah deh sama musisi top.” Tia masih tertegun, tiba-tiba Vira malah memanggil Bayu dengan semangat dan bilang dengan nada manjanya tentang rencananya itu. Bayu sangat senang dengan usul itu dan memohon pada Tia supaya mau mempersiapkan dan mengajak murid-muridnya di acara puncak nanti. Tia mengiyakan dengan gugup, sangat senang dalam hati. Dan ia tiba-tiba merasa sangat lapar.

***

Arif mengalihkan pandangannya dari Randy dan Rofi, fokus kembali pada mejanya, pada bukunya, jelasnya pada gumpalan gundahnya. Ia sebenarnya kasihan juga pada Randy, selain kasihan pada dirinya sendiri. Setiap Randy bercerita apapun tentang dirinya dan kegiatannya, Arif selalu berusaha mendengarkan, semembosankan apapun itu. Ia sebenarnya ingin bilang tentang kelakuan Randy yang sangat tidak disukai oleh warga sekolah. Tapi ia tak enak hati. Ini salah satu penyakitnya juga; tak enak hati kronis dan menjadi pendengar yang baik. Ia rela jadi tong sampah atas keluhan beberapa temannya. Ya, meskipun ia merasa tak bisa memberikan timbal balik yang sepadan, khawatir malah memberikan saran dan kalimat-kalimat lain yang memalukan.

Bayu tiba-tiba menghampiri Arif.

“ Rif, ada lomba cerdas cermat lagi nih antar sekolah se-Jakarta. Pak Heri minta salah satunya dari kelas kita lagi. Siapa lagi yang bisa diandelin di kelas kita soal ginian selain Lo. Dua minggu lagi. Agak mepet, sih. Tapi kita yakin Lo pasti bisa!”

Cuaca hati Arif tiba-tiba berawan dan matahari tegap kembali. Meskipun bukan hal baru, tapi ini selalu membuat ia senang dan berguna. Ia jadi mentertawakan dirinya sendiri atas perbuatannya menyakiti diri sendiri. Bukankah setiap orang punya porsi masing-masing? Pikirnya. Dan ia tak mau menyia-nyiakan rasa ini. Jadi ia keluar mejanya seperti itik yang keluar kandang dan meyentuh tanah. Ia hampiri Tia. Ia mengiyakan ajakan Tia untuk mengajar di penampungan anak jalanan.

***

Akhirnya sang Guru Biologi datang. Jam pelajaran kedua dimulai.

“ Maaf Bapak telat. Ada keperluan mendadak. Buka buku LKS kalian…!”

***

(Ali Satri Efendi)

 

(A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s