[Resensi Film] CJR The Movie

Produser          : Frederica

Sutradara         : Patrick Effendy

Skenario          : Arif Rahman, Hilman Mutasi, Yanto Prawoto

Pemain:

Alvaro Maldini Sebagai  Aldi
Iqbal Dhiafakhri Ramadhan Sebagai  Iqbal
Teuku Rizky Muhammad Sebagai  Kiki
Abimana Aryasatya Sebagai  Patrick
Arie Kriting Sebagai  Jimmy
Rio Dewanto Sebagai  D-Doc

Yang paling dikhawatirkan dalam sebuah film tentang perjalanan atau film yang di trailernya menonjolkan suatu tempat adalah kecenderungan untuk mengeksploitasi tempat syuting yang dipamerkan dan kekurangan fokus cerita. Alih-alih membuat penonton terhanyut dalam premis, plot dan skenario, sang pembuat film seperti tidak percaya diri dengan keaslian ceritanya malah berusaha membuat penonton terpukau dengan gambar-gambar tempat yang disediakan di film. Setelah sekian banyak kasus tersebut terjadi pada film-film Indonesia sebelumnya, hal ini kembali terjadi pada CJR The Movie.

Dengan keluarnya Bastian dari Coboy Junior membuat Iqbal, Aldi dan Kiki penyegaran dan liburan sebagai pemantik untuk melanjutkan karir mereka selanjutnya di pentas musik Indonesia. Well, setidaknya itu menurut pemikiran Patrick sang Produser yang berbaik hati mengajak mereka liburan keliling Australia sebelum konser. Sudah dapat ditebak tentunya, panorama apik Australia-lah yang menjadi “pemain unggulan” sepanjang film dibanding dengan akting pemain lainnya. Tidur, bangun, lalu jalan-jalan, esoknya jalan-jalan lagi, foto-foto dan lain sebagainya selayaknya orang-orang yang tamasya. Sejenak sebagian besar film ini lebih terkesan dokumentasi liburan yang dibumbui sedikit drama. Dan perubahan kualitas gambar (mungkin penggunaan alat, atau mungkin gadget, yang berubah-ubah) yang beberapa kali terjadi sepanjang film pun agak mengganggu.

Hal lain yang mengkhawatirkan dari sebuah film (pada umumnya) adalah ketidak konsistenan karakter. D-Doc yang digambarkan “menakutkan” dan sangat disiplin hanya tergambar di awal kemunculan saja. Berikutnya, karakter yang seharusnya bisa mencuri perhatian ini terkesan hanya tempelan yang katanya sangat disegani. Nasib karakter ini juga sama dengan dua “teman gadis” anggota CJR yang kehadirannya antara ada dan tiada, tapi cukup membuat para ABG bersuara gemas ketika mereka muncul mendekati Aldi dan Iqbal. Hubungan Kiki dengan Ayahnya Aldi pun kurang berjalan efektif. Dan yang membuat heran adalah kenapa pihak management tetap mengizinkan CJR jalan-jalan selama itu toh kalau mereka takut stamina para anggota grup akan drop ketika menjelang konser?

Dengan segala ketidak konsistenan itu, yang paling bisa diunggulkan dalam film ini adalah chemistry ketiga anggota CJR dengan Patrick dan Jimmy yang cukup lentur ketika bercakap-cakap, saling melempar candaan dan berbagi cerita. Walaupun disayangkan, harusnya eksplorasi keunikan karakter-karakter ini terhadap diri dan masalah pribadi harusnya lebih luas dibandingkan dengan durasi pemandangan Australia.

Secara keseluruhan, film ini cukup jadi hiburan bagi para penggemar Coboy Junior, ehem… CJR yang menanti kehadiran mereka kembali setelah satu anggota pergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s