[Resensi Film] TUYUL Part 1

Produser
Gandhi Fernando
Laura Karina
Sutradara
Billy Christian
Penulis Naskah
Billy Christian
Gandhi Fernando
Luvie Melati
Pemain
Dinda Kanya Dewi Sebagai  Mia
Gandhi Fernando Sebagai  Daniel
Citra Prima Sebagai  Karina
Inggrid Widjanarko Sebagai  Bi Inah
Karina Nadila Sebagai  Ratna

tuyulMendengar film tentang “Tuyul” dibuat kembali, maka mau tidak mau film ini akan dikaitkan dengan film “Tuyul” klasik yang diedarkan pada tahun 1978 (karya sutradara Pitrajaya Burnama), maupun “Tuyul Perempuan” yang dirilis satu tahun berikutnya (disutradarai oleh Sofyan Sharna). Dan sisi baiknya, pada masa ini, sang sutradara dan segenap kru membawa Tuyul ke interpretasi berbeda dari kisah Tuyul klasik yang akrab dikenal di zamannya.

Jika pada “Tuyul” klasik, si makhluk pencuri bentuknya seperti manusia umumnya cuma ukurannya jauh lebih kecil (sebagaimana cerita rakyat tentang tuyul itu sendiri yang ukurannya sebesar jari) dan ada unsur komedi di balik ceritanya, Tuyul dalam kisah terbaru yang disutradarai Billy Christian adalah makhluk ganjil yang menakutkan, tidak nyaman untuk dilihat dan seukuran balita yang otomatis membawa cerita ke level yang lebih mencekam.

Tuyul versi terbaru ini tidak diceritakan berasal dari patung yang ditemukan di dalam goa, tuyul ini berasal dari sebuah botol yang tidak sengaja ditemukan dan dibebaskan oleh Daniel (Gandhi Fernando). Setelah botol itu terbuka, berbagai kejadian menyeramkan dialami oleh Mia (Dinda Kanya Dewi), istri Daniel. Ia menemukan mainan anak-anak yang terlempar sendiri, berbagai mimpi buruk tentang si tuyul, hingga suara-suara aneh. Film klasik Tuyul memberikan serangkaian plot tentang berbagai aksinya mencuri uang, sedangkan pada kisah terbaru ini, cerita difokuskan pada Mia, perempuan muda yang sedang hamil tujuh bulan beserta “masalah” keluarga, kandungan, gangguan makhluk menyeramkan dan rahasia (adegan pencurian yang dilakukan tuyul masih ada walaupun dengan porsi yang sangat sedikit). Tak lupa pula mimpi yang berulang sekian kali. Formula film horor yang menjenuhkan dan mengganggu yang masih sering dipakai.

Hal lain yang menjadi gangguan ketika menonton adalah musik yang berlebihan di bagian awal film. Kita semua tahu ini adalah film horor dan terkadang itu tidak perlu dijelaskan dengan super gamblang oleh musik yang dibuat semenyeramkan mungkin. Terlihat ada semacam usaha untuk membangun suasana mencekam dan mengagetkan sedari awal film termasuk dalam penataan musik, tapi hal itu malah mengganggu. Hal lain yang berlebihan adalah riasan Karina dan suara Bi Inah yang diusahakan semencekam mungkin. Jelaga yang dipakai Citra Prima dengan tebal dan suara Inggrid Widjanarko yang dibuat berat (formula horor lokal yang masih saja dipakai) sementara Mia telah memakai google untuk mencari penangkal tuyul, seperti mencari formula baru tapi tidak mau bergerak dari paham “horor” lama. Akhirnya jatuh pada stereotipe karakter.

Gangguan lain adalah akting Gandhi Fernando. Di awal film aktingnya yang kurang ekspresif masih bisa dimaafkan dan masih terlihat wajar, tapi semakin film berlanjut, aktingnya makin terasa kaku dan kurang pas dengan karakternya. Apalagi di bagian akhir. Lalu proyek apa yang sedang ia kerjakan? Kenapa tidak dijelaskan saja di dalam dialog atau sisipkan di tengah film sedikit. Salah satu masalah yang cukup mengganggu yang ada di beberapa film Indonesia adalah malasnya menjelaskan “proyek” yang hendak dipakai untuk jalinan cerita. Proyek pekerjaan Daniel, sang suami di film ini hanya digambarkan sekedar di ladang perkebunan teh, perebutan jabatan kepala proyek dan ambisi yang berputar-putar yang ia ceritakan pada istrinya. Setidaknya sisipkanlah dialog tentang sedikit gambaran proyek tersebut pada percakapan antara Mia dan Daniel untuk motif dan penguatan chemistry.

Lalu apakah film ini buruk? Tidak. Film ini tidak mengecewakan. Akting Dinda Kanya Dewi adalah salah satu penyelamat film ini. Sebagai calon ibu muda yang sedang mengandung dengan kebingungan, kekhawatiran dan ketakutannya, Dinda tampil meyakinkan. Interpretasi kisah dan wujud tuyul ke dalam “dimensi” lain sangat menarik dalam film ini. Intensitas kemunculan wujud tuyul yang diatur untuk menjalin ketegangan pun cukup berhasil. Secara keseluruhan, alur film dari awal ke akhir pun cukup rapi dan mulus. Sementara penataan musik di penghujung film menyatu dengan adegan. Dan menyenangkan sekali melihat penonton di dalam bioskop dibuat riuh ketegangan pada beberapa adegan.

Sebagai tontonan bergenre horor, film ini patut diapresiasi. Semoga bisa diteruskan dan diperbaiki di “part” berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s