[Resensi Film] LDR

Produser          : Ody Mulya Hidayat

Sutradara         : Guntur Soeharjanto

Skenario          : Cassandra Massardi

Pemain                        :

Al Ghazali Sebagai  Paul
Mentari De Marelle Sebagai  Carrie
Verrell Bramasta Sebagai  Demas
Aurellie Moeremans Sebagai  Alexa

Salah satu ganjalan dari film Indonesia jika latar tempatnya “luar negeri” atau tempat-tempat yang jadi andalan wisata adalah kualitas cerita seperti di-nomor-duakan, sementara tiap sudut latar tempat diperlihatkan habis-habisan. Tidak ada yang salah memang mengingat hal itu jadi cara tersendiri para pembuat film untuk memberikan sajian “lebih” pada penonton. Toh banyak penonton juga masih suka dengan tontonan “megah” seperti itu. Tapi jika cerita diletakkan di belakang, hal itu menjadi gangguan.

Ini juga yang terjadi pada film terbaru arahan Guntur Soeharjanto yang berjudul “LDR”. Film yang hampir keseluruhan cerita mengambil setting di Verona, Italia ini membawa penonton melihat aksi “jalan-jalan” Carrie (Mentari De Marelle) yang menjadi backpacker dan terobsesi dengan kisah Romeo and Juliet, Demas (Verrell Bramasta) yang sedang patah hati, Alexa (Aurelie Moremans) yang menolak ramalan Demas, dan Paul (Al Ghazali) yang muncul dan menghilang secara tiba-tiba di balik hubungan Demas dan Alexa. Para penonton cewek ABG tentu sangat terhibur dengan sajian ini; pemain yang segar dan enak dipandang, tempat-tempat yang romantis serta hubungan yang terjalin kembang-kempis, tentu memberikan pesonannya tersendiri. Tapi kembali dari segi “isi” film tersebut, di samping kebanyakan adegan film yang terisi dengan “jalan-jalan”, ada beberapa adegan yang terkesan dipaksakan; pertemuan tiba-tiba, keakraban yang juga tiba-tiba, dan kesimpulan di penghujung film yang lemah. Beberapa dialog diucapkan seperti seseorang yang membaca sebuah teks di buku. Akting Al Ghazali juga belum berkembang di film ini. Belum ada eksplorasi emosi yang dalam dan kata-kata yang diucapkan masih terkesan kaku. Chemistry antar tokoh pun tidak begitu kuat.

Bersyukurlah ada penampilan Mentari De Marelle yang gemilang di film ini. Aktingnya begitu luwes dan segar. Aktingnya lucu dan menunjukkan gestur, mimik, emosi yang tepat di berbagai adegan. Ia tidak menyia-nyiakan penampilannya. Tapi sayang, lawan-lawan mainnya seolah tidak dapat bersatu dengan penampilannya, dan chemistry nya tertinggal di tepi kanal Venesia. Dialog-dialog dalam skenario yang ditulis Cassandra Massardi itu pun sebenarnya bagus. Banyak kalimat yang “tidak pasaran” dan enak didengar. Tapi sayangnya kurang bersinar karena pengucapan yang kaku dari beberapa pemain.

Film “jalan-jalan” seperti ini masih mempunyai daya tarik tersendiri bagi para penonton film di Indonesia. Semoga ke depannya lebih diimbangi dengan cerita yang bukan tempelan belaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s