10 Hari Pesta Film: Catatan 18 Film Europe on Screen

Europe On Screen adalah salah satu festival film tahunan yang selalu saya tunggu. Deretan film yang disajikan, apapun itu, selalu membuat saya antusias. Mereka selalu memberikan kesan tersendiri ketika disaksikan. Maka tak jarang saya tidak peduli film apa yang saya akan saksikan di Europe On Screen selagi saya bisa menonton di event tersebut dan jadwalnya pas. Buku programnyanya selalu saya bawa dan tidak henti-hentinya saya lihat dan baca selama festival. Selalu menyenangkan dengan melihat dan membaca saja sinopsis-sinopsis line up nya. Ah… sepuluh hari pesta yang selalu dirindukan; antriannya, keliling venue nya, kenal dengan beberapa teman baru, mengobrol sebelum film dimulai, makan siomay di Erasmus, makan bubur di dekat stasiun Gondangdia, dan tentu yang paling utama, ikut hanyut ke dalam alur film.

Tahun ini saya bisa menonton 18 film, berkurang dari tahun lalu dimana saya bisa menonton 20 film. Ada beberapa kegiatan yang tidak bisa ditinggal. Dan saya pun rela tidak bisa menonton beberapa film rekomendasi teman seperti Yema, Song for Marion, Citizen Four, 20.000 Days on Earth, maupun Winter Sleep. Tapi 18 film yang saya saksikan telah memberikan saya pengalaman sinematik yang memuaskan. Berikut saya akan berbagi kesan pribadi saya terhadap film-film tersebut, dimulai dengan urutan yang paling saya sukai.

  1. ’71 (UK, 2014)

Director           : Yann Demange

Cast                 : Jack O’Connell, Sam Reid, Sean Harris

Film ini berhasil menyedot perhatian saya dari awal hingga akhir cerita. Plotnya begitu rapi. Konflik yang dibangun berhasil membawa ketegangan level demi level. Selalu menarik menyaksikan film dengan latar waktu yang tidak begitu luas (mengingat film ini hampir keseluruhan berada pada rentang waktu sehari semalam). Para pemainnya berhasil berperan dengan intens, tak terkecuali dengan para pemain pendukung, dari yang mendapat porsi sedikit hingga besar, semuanya mempunyai kekuatan karakter tersendiri. Sajian malam yang mengancam dari berbagai sudut jalan dan ruang, kepentingan masing-masing karakter yang membiaskan kepercayaan, konflik yang berputar di antara dendam, kemarahan dan kata-kata kasar yang seolah tidak ada titik temu, ledakan dan tembakan yang tidak kenal usia, serta kehidupan personal para karakter membuat penonton larut pada batas layar dan emosi.

  1. Trespassing Bergman (Sweden / 2013)

Director : Jane Magnusson

Apa yang lebih nikmat dari sebuah film dokumenter yang menyatukan para sutradara ternama seperti Woody Allen, Alejandro Gonzales Inarritu, Martin Scosese, Wes Craven, Wes Anderson, Michael Haneke, Ang Lee, Ridley Scott dan masih banyak lagi membicarakan Ernst Ingmar Bergman serta karya-karyanya? Film ini mungkin cuma berisi wawancara, potongan-potongan adegan film-film Bergman dan behind the scene-nya, serta beberapa sutradara ternama yang berkunjung ke Faro, rumah Bergman di sebuah pulau terpencil di Swedia, tapi menyaksikan para sineas besar tersebut berkumpul, mengungkapkan kesan dan pengalaman mereka terhadap “guru besar” sinema merupakan hal yang sangat menyenangkan.

  1. The 100 Year Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared

(Hundraåringen som klev ut genom fönstret och försvann / Sweden / 2013)

 

Director          : Felix Herngren

Cast                : Robert Gustafsson, Iwar Wiklander, David Wiberg

Bayangkan seorang Kakek berusia 100 tahun, yang masih tegap berjalan, sedikit nakal dan masih piawai membuat dinamit. Baiklah, jangan pandang film ini dari sisi realistis atau tidak, pandanglah film ini sebagai fitrah film itu sendiri; sebagai hiburan. Tiap adegan dalam film ini (walaupun beberapa cenderung dibuat-buat dan dipaksakan) adalah dinamit yang berhasil meledakkan tawa penonton, bahkan pada adegan berdarah-darah sekalipun. Seperti film komedi popoler kebanyakan, formula kesalahan, salah paham, lupa, sindiran, dan lainnya masih jadi sajian manis dalam film ini. Dan itu masih menjadi formula hiburan dasar yang masih sangat efektif. Menariknya film ini berhasil meleburkan masa lalu sang kakek dengan petualangan nakal terbarunya serta kepentingan karakter-karakter pendukung dengan begitu mulus. Celotehan-celotehan sang kakek membuat sosoknya behasil dikasihani, dicintai, dan tentunya ditertawakan.

  1. Ida (Poland / 2013)

Director          : Pawel Pawlikowski

Cast : Agata Kulesza, Agata Trzebuchowska, Dawid Ogrodnik

Kadang cukup membaca sederet penghargaan yang didapat sebuah film dan label Oscar yang tertera sebagai salah satu pencapaian untuk membuat penonton rela antri begitu panjang demi sebuah film dengan judul tiga huruf dan gambar hitam-putih. Ya, Ida adalah salah satu bintang utama dalam gelaran Europe on Screen tahun ini. Prestasinya telah membuat film ini jadi daftar wajib bagi banyak orang, termasuk saya. Aura film ini begitu tenang, ditambah dengan setting dan gaya sang sutradara menyajikan film ini dengan cukup sederhana. Sinematografi film ini tentu tidak bisa diragukan lagi, seperti arthouse movie lainnya, cantik. Chemistry antara Ida dengan satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa pun terjalin dengan apik dan ada keunikan di dalamnya. Film ini membawa cerita lama tentang Nazi ke dalam dimensi baru. Dan Anna, ataupun Ida, di balik keluguan karakter dan kepatuhannya terhadap norma dan peraturan menyimpan teriakan sendiri di dalam jiwanya, yang ia keluarkan di penghujung film, dan itu menterror penonton.

  1. Blutgletscher (Austria / 2013)

Directors        : Marvin Kren

Cast                : Gerhard Liebmann, Edita Malovcic, Brigitte Kren

Ini adalah salah satu line up yang paling saya tunggu. Mengingat horror mempunyai tempat khusus di dalam referensi film yang selalu membuat saya antusias untuk menontonnya. Sinospsisnya cukup membuat penasaran. Judulnya menjanjikan ketegangan. Bagian awal film memang agak lambat, tapi berguna untuk membangun beberapa karakter dalam film ini. Walaupun dengan kualitas VFX di beberapa bagian kurang meyakinkan dan ada adegan yang terkesan dipaksakan, tapi kesan horror yang dibangun secara bertahap mengikuti alur tersaji dengan rapi. Apalagi dengan gambaran latar tempat yang dieksplor dengan rinci dan iringan musik yang mencekam membuat kesan menegangkan dapat lebih dirasakan oleh penonton.

  1. Living is Easy with Eyes Closed (Vivir es fácil con los ojos cerrados / Spain / 2013)

Director          : David Trueba

Cast                : Javier Cámara, Natalia de Molina, Francesc Colomer

Yang menarik dari sebuah road movie adalah apa saja yang akan dihadapi dan siapa saja yang akan ditemui oleh sang pemeran utama sepanjang perjalanan. Seorang guru Bahasa Inggris yang mempunyai obsesi ingin bertemu dengan John Lennon hingga ia memulai perjalannnya menuju Almeria, seorang remaja lelaki yang ingin meraih kebebasan dari kekangan ayahnya dan gadis muda yang sedang hamil. Chemistry mereka terjalin dengan baik dan hangat dari awal film. Seperti road movie pada umumnya, perjalanan itu bukan saja sekedar persoalan sampai pada tujuan, tapi apa yang para karakter dapatkan dan temukan selama perjalanan tersebut; hal-hal yang lucu, penerimaan nasib, sosok-sosok baru, dan berbagai kendala di jalan. Serta tentunya pemandangan yang menjakan mata. Cuma sayang, mengingat sang guru Bahasa Inggris sangat menggemari The Beatles, kenapa lagu-lagu The Beatles tidak sering diputar sepanjang perjalanan?

  1. Warsaw ’44 (Miasto 44 / Poland / 2014)

Directors        : Jan Komasa

Cast                : Józef Pawlowski, Zofia Wichlacz, Anna Próchniak

Ini adalah sebuah film perang yang tanpa ampun, tanpa belas kasihan. Sedikit basa-basi dan banyak ledakan, walaupun ada drama yang melekatkan cerita. Siapapun bisa menjadi korban dengan penggambaran yang cukup lugas. Dan kapanpun penonton bisa dikejutkan dengan berbagai serangan yang dihadapi oleh para pelaku uprising, pembantaian dan darah. Yang unik dan menarik adalah sang sutradara sedikit memberi sentuhan surealis di beberapa adegan, walaupun terkesan tanggung karena perlakuan tersebut hanya ada di beberapa scene saja. Ada kesan melelahkan di beberapa bagian film untuk ditonton karena formula yang beberapa kali terulang sepanjang film. Tapi untungnya hal itu tidak mengurangi kesan depressing cerita film dan tidak membuat alur kehilangan fokus.

  1. The Keeper of Lost Causes (Kvinden i buret / Denmark / 2013)

Director          : Mikkel Nørgaard

Cast                : Nikolaj Lie Kaas, Per Scheel Krüger, Troels Lyby

Apakah kasus-kasus lama dan telah ditutup benar-benar sudah selesai? Carl yang dipindahkan kebagian penyimpanan kasus-kasus lama tersebut menemukan kejanggalan pada hilangnya seorang politikus perempuan. Bersama asistennya Assad mereka pun menyelidiki berbagai dokumen, jejak, saksi, menelusuri kejadian demi kejadian, hingga menemukan petunjuk dan kasus-kasus lain yang berkaitan dengan hilangnya politikus tersebut. Beberapa adegan film ini mengingatkan saya pada Saw dan Red Dragon, terutama pada aksi si psikopat. Misteri demi misteri terkuak, membuat film semakin menarik dan menegangkan menuju akhir. Kisah Carl dan Assad dengan segudang kasus-kasus lama bisa saja menjadi seri film detektif terbaru jika dibuat kelanjutannya.

  1. Milo (Netherlands / 2012)

Director          : Roel Boorsma & Berend Boorsma

Cast                : Stuart Graham, Jer O’Leary, Laura Vasiliu

Perlakuan orang tua Milo yang overprotektif membuat ia tumbuh menjadi anak yang introvert dan jauh dari teman-temannya di sekolah. Hingga pada saat ia mendapatkan teman baru dan kegiatan berkemah akan kembali diadakan di sekolah, Milo memutuskan untuk “melawan”. Milo pun menyusul. Tapi ia malah bertemu dengan dua orang eksentrik dan apa yang dikhawatirkan kedua orang tuanya yang mereka sembunyikan selama ini akhirnya terkuak. Ada yang dipaksakan perihal terungkapnya kondisi yang menjangkit Milo. Tapi chemistry antara ia dan dua orang eksentrik yang memberikannya kebebasan menarik untuk ditonton.

  1. Night Train to Lisbon (Portugal / 2013)

Director          : Billie August

Cast                : Jeremy Irons, Mélanie Laurent, Jack Huston

Cinta bisa membuat seseorang melakukan apa saja, termasuk menelusuri sejarah. Hal itulah yang dialami Raimund, seorang profesor yang selama ini sebenarnya telah nyaman dengan kehidupannya sebagai seorang pengajar. Pencariannya menghubungkan ia pada sebuah buku yang memikatnya dan sang penulis yang pernah terlibat dalam perlawanan terhadap seorang diktator. Yang menarik dalam film ini adalah bagaimana Raimund bertemu dengan para “saksi sejarah” dan mereka bercerita sesuai dengan apa yang mereka saksikan ketika itu. Peralihan demi peralihan antara masa lalu dengan masa sekarang membuat alur film ini semakin seru. Cuma ada sedikit kesan membosankan di pertengahan ketika beberapa peralihan ke masa sekarang terlihat monoton dan terasa sebagai tempelan.

  1. The Best Offer (Italy / 2013)

Director          : Giuseppe Tornatore

Cast                : Geoffrey Rush, Jim Sturgess, Sylvia Hoeks

Geoffrey Rush tampil sangat mengesankan sebagai juru lelang berpengalaman penyendiri dan sinis dalam film ini. Kualitasnya berhasil menyedot perhatian penonton pada karakter yang ia perankan dimana sang juru lelang terobsesi pada seorang gadis muda aneh yang menjadi kliennya. Obsesinya tersebut membuat kebanggaan dan kehidupannya yang teratur mendadak jungkir balik. Ada dua kejutan di akhir cerita. Kejutan pertama memang bisa dibaca sedari pertengahan film walaupun sang sutradara begitu keras menutupi. Kejutan kedualah yang menarik. Perhatikan saja sekelilingnya.

  1. The Disciple (Lärjungen / Finland / 2014)

Director          : Ulrika Bengts

Cast                : Erik Lönngren, Patrik Kumpulainen, Niklas Groundstroem

Karl, seorang yatim piatu diutus untuk membantu Hasselbond, seorang penjaga mercusuar di sebuah pulau kecil di laut baltik. Obsesi Hasselbond terhadap Karl dan sikapnya yang sewenang-wenang membuat ia mengacuhkan keluarganya, terutama anak lelakinya, Gustaf. Film ini cukup depressing bagi saya dimana ada kekhawatiran sendiri terhadap sikap Hasselbond yang berlebihan dan nasib keluarganya.

  1. The Special Need (Germany / 2013)

Director          : Carlo Zoratti

Yang menarik dari film dokumenter ini adalah pengemasannya seperti film “fiksi” pada umumnya. Tidak ada wawancara antara sang pembuat dengan obyeknya. Semua dibiarkan mengalir. Pengambilan gambar yang dilakukan dari berbagai sudut membuat alur film begitu lentur. Penggambaran profil Enea, obsesi, pandangan dan hubungannya dengan kedua teman dan orang-orang di sekitarnya diperlihatkan dengn detil. Hingga di penghujung film, Enea mampu mengajarkan “para orang-orang normal” apa itu cinta.

  1. Moon Man (Der Mondmann / Germany / 2012)

Director          : Stephan Schesch

Cast                : Katharina Thalbach, Ulrich Tukur, Corinna Harfouch

Indah. Itulah yang dirasakan ketika menyaksikan film animasi ini sedari awal. Gambar-gambar berwarna dan bentuk yang menakjubkan, Moon man yang lugu, anak-anak yang imajinatif dan politikus yang manipulatif, semuanya berbaur dengan unik.

  1. Two Men in Town (France / 2014)

Director          : Rachid Bouchareb

Cast                : Forest Whitaker, Harvey Keitel, Brenda Blethyn

Ini adalah kisah tentang kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Bagaimana jika di sekitarmu hidup seorang mantan narapidana yang pernah terlibat kasus pembunuhan? Itulah yang hendak digambarkan sang sutradara. Perjuangan seorang William Garnett yang berusaha untuk mendapatkan kehidupannya kembali dengan normal. Tekanan dari polisi dan orang-orang di sekitarnya membuat perjuangannya tersebut semakin berat, hingga imannya pun diuji. Forest Whitaker menunjukkan kualitas aktingnya sebagai peraih Oscar.

  1. Only the Best for Our Son (Het beste voor Kees / Netherlands / 2014)

Director : Monique Nolte

Orang tua bisa melakukan apa saja untuk anak tercintanya. Termasuk rencana dan hal-hal yang mereka persiapkan ketika nanti mereka telah tiada. Hal itulah yang dialami Kees, seorang pria autis berusia 49 tahun yang masih diurus oleh kedua orang tuanya. Kekhawatiran mereka terhadap nasib anaknya tersebut membuat mereka menyiapkan banyak hal sebelum mereka “berangkat”. Kisah yang mengharukan tentang kasih sayang orang tua.

  1. Raven the Little Rascal (Der kleine Rabe Socke / Germany / 2012)

Director          : Ute von Münchow-Pohl, Sandor Jesse

Cast                : Katharina Thalbach, Constantin von Jascheroff, Anna Thalbach

Bagian awal film animasi ini sebenarnya cukup membosankan. Apalagi dengan gaya animasi yang cukup usang. Tapi selanjutnya film ini seperti menemukan “iramanya”. Banyak adegan-adegan yang mengasyikkan dan lucu untuk ditonton. Hubungan Raven yang nakal dengan teman-temannya dan hewan-hewan di sekelilingnya sangat menarik. Terbukti dengan gaya animasi usang sekalipun bisa membuat film yang masih seru dan relevan.

  1. I’m So Excited! (Los amantes pasajeros / Spain / 2013)

Director          : Pedro Almodovar

Cast                : Javier Cámara, Pepa Charro, Cecilia Roth

Film ini berlatar sebuah pesawat yang melakukan penerbangan dari Spanyol menuju Mexico dengan pilot, pramugara dan penumpang yang mempunyai keunikan masing-masing. Bisa dibayangkan alur yang akan disajikan dengan setting yang terbatas tersebut, masalah dan karakter-karakter unik, serta penerbangan yang bisa saja gagal. Dan apakah ekspektasi saya yang cukup tinggi dengan sutradara sekaliber Pedro Almodovar cocok dengan pengalaman saya menonton film ini? Sayangnya tidak. Walaupun ada beberapa adegan yang lucu, bagi saya film ini membosankan dengan formula komedi yang telah sering dipakai oleh “film-film sejenis”. Kebosanan saya semakin bertambah ketika ada adegan-adegan yang terkesan dipaksakan dan peralihan setting. Sangat disayangkan mengingat sinopsisnya yang sangat menjanjikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s