Mas Joko: Pentas Monolog Jose Rizal Manua

133_7103 - CopyBeberapa waktu lalu, Jose Rizal Manua kembali sukses dengan pentas monolog-nya di Bentara Budaya Jakarta. Monolog tersebut berjudul “Mas Joko”. Ia menjadi seorang lelaki lajang berumur lima puluh tahun yang mencintai perempuan muda berusia dua puluh tahun. Suatu hari ia hendak mengunjungi perempuan yang dicintainya itu di sebuah apartemen lantai sembilan belas. Tapi ia tidak bisa menemuinya lantaran lift apartemen macet. Sepanjang lima puluh menit, inilah kisahnya.

Jose Rizal Manua memulai monolognya menyanyikan sebuah lagu dengan sentuhan irama pop rock. Lalu bergulir membuat monolognya interaktif dengan menyapa penonton. Sapaannya tidak berupa “Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya sekalian” ataupun “Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian”, tapi ia menyapa penonton dengan menyebut “Puan-puan dan Tuan-tuan”. Ya, “Puan” adalah sebutan yang ditujukan untuk perempuan. Dari sinilah monolog mulai mengangkat sebuah isu yaitu tentang kesetaraan gender.

Monolog lantas melaju begitu atraktif dengan Mas Joko bercerita tentang masa kecilnya, ia berkelakar tentang namanya 133_7099 - Copyyang amat sangat panjang mewakili seluruh huruf abjad, bagaimana ia kenal dan mencintai perempuan pujaannya tersebut, hingga banyak menyinggung masalah sosial dan politik. Monolog juga diselingi beberapa lagu jenaka yang asyik untuk dinikmati.

Melihat Jose Rizal Manua dengan usianya yang tidak muda lagi dan masih cekatan menampilkan monolog cukup panjang karya Remy Sylado ini membuat saya terkagum. Di atas panggung yang ditampilkan dengan sederhana itu ia mengeluarkan ekspresinya dengan sangat enerjik. Ia berbicara, berjalan mondar-mandir, dan bernyanyi dengan gaya yang prima. Dan lagu bergaya folk di tengah pementasan sukses membuat penonton terpingkal. Sungguh besar passion-nya pada dunia teater. Cuma sangat disayangkan masalah teknis berupa microphone yang lepas dari pipi Pak Jose membuat lagu penghujung yang ia nyanyikan kurang begitu greget. Tapi ia tetap meneruskan pentasnya tanpa peduli itu. Karena keluwesannya dalam beraksi di atas pentas lebih dari sekedar hal-hal yang bersifat teknis.

Dengan irama musik bergaya Tionghoa, ia bercerita tentang para politikus yang berlagak pilon…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s