[Resensi Film]: Bidadari Terakhir

Produser          : Chetan Samtani, Mashal Kishore, Dheeraj Kishore
Sutradara         : Awi Suryadi
Penulis             : Priesnanda Dwisatria, Fauzan Adisuko
Pemain             : Maxime Bouttier, Wulandary Herman, Stella Cornelia, Julian Jacobs

BIDADARI TERAKHIRSalah satu hal yang sangat disayangkan di banyak film Indonesia adalah bagian akhir yang kurang digarap dengan rapi. Bisa berupa diperlakukan dengan sangat terburu-buru, adegan yang tiba-tiba dan kurang masuk akal, ataupun secara teknis tidak memadai. Ini tentu bisa merusak kenikmatan menonton yang sedari awal telah terbangun. Plot yang mungkin telah tersusun mulus bisa runtuh berantakan cuma karena akhir yang sekedar memakan durasi sekian menit. Ini juga terjadi pada rilisan film Indonesia yang berjudul “Bidadari Terakhir”. Cerita film ini disajikan dengan cukup rapi dari awal dan semua berjalan dengan sewajarnya. Tapi menjelang akhir film, alur seketika menurun, apalagi dengan adegan yang seolah terpaksa ditambahkan sebelum closing credits muncul. Atau mungkin itu permintaan dari pihak yang berkepentingan? Sangat disayangkan.

Tapi di balik kekurangan itu, “Bidadari Terakhir” masih bisa menjadi tontonan yang layak untuk dinikmati. Jarang sekali menonton film bertemakan remaja di Indonesia yang “tidak dibaluri make up berlebihan”. Film ini berhasil menahan alur berlari keluar dari fokus dan dipoles dengan pas. Walaupun masih saja menggunakan tipikal dan tempelan film remaja yang sering kali dipakai di film ataupun sinetron lokal, seperti teman dan anggota keluarga yang acap kali menghampiri si bintang utama dengan adegan standar.

Ada beberapa hal yang saya sebagai penonton awam suka dengan film ini, antara lain lokasi cerita. Syukurlah film ini tidak berpusat pada Jakarta ataupun gelimpangan panorama luar negeri sebagai latar film. Film ini dengan eloknya membawa penonton menyusuri beberapa tempat di Balikpapan, seperti jembatan Mahakam, pantai, hingga dusun tempat tinggal penduduk. Saya juga suka bagaimana bijaknya film ini menggunakan latar musiknya, apalagi mendengar alunan lagu karya Endah N Rhesa yang mengiringi beberapa adegan, manis dan terasa sekali suasanan sepoi angin pantainya.

Porsi akting kedua pemain utama pun pas dengan karakter masing-masing, terutama Wulandary Herman yang bermain apik dengan perannya sebagai pelacur yang bernama Eva dengan tekanan-tekanan yang dihadapinya. Saya berharap ia bisa mendapatkan peran-peran yang bagus di film-film Indonesia yang layak ke depannya agar potensinya tidak sia-sia. Sebenarnya akting Maxime Bouttier pun pas dengan karakter Rasya, si anak SMU. Tapi entah yang ke berapa kali ia memerankan karakter yang hampir sama. Ia perlu ambil peran yang berbeda ke depannya supaya karirnya sebagai pemain film bisa lebih diperhitungkan.

Hal lain yang saya suka adalah, hampir di penghujung film, ketika Eva digambarkan melayani beberapa pelanggannya, kamera seolah menggelantung tepat di depan wajah Eva hingga fokus pada gerak-gerik dan ekspresi wajahnya. Eksperimen menarik untuk mendekat pada karakter lebih dalam. Konsep ini mengingatkan saya pada video musik yang berjudul “Habits (Stay High)” yang dinyanyikan oleh Tove Lo.

Di balik kekurangannya, “Bidadari Terakhir” berada di atas dari kebanyakan film Indonesia dengan genre yang sama. Awi Suryadi dan segenap tim berhasil membawa film remaja ini melaju sesuai jalannya. Sebuah pencapaian yang patut dihargai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s