[Event] Bintang-Bintang di Atas dan di Bawah Langit Jakarta: Bercerita dan Bercengkerama dengan Karya

100_8035Walaupun malam cerah di Jakarta pada Sabtu, 3 Oktober lalu tidak terlihat bintang, mungkin ditiup angin genit yang berlarian menggoda alam, tapi di Teater Anjung Salihara pukul 19:30 terkesan terang dengan bintang-bintang yang tidak kalah gemilang yang lahir dari muka bumi. Bintang-bintang yang pandai menyusun kisah dan kata-kata. Muda dan segar dengan pencapaian yang mereka punya. Bintang-bintang di atas dan di bawah langit Jakarta, bercerita dan bercengkerama dengan karya.

Acara pada malam itu adalah salah satu rangkaian pembuka “Salihara International Literary Biennale: Sastra dan Rasa” setelah sebelumnya larut dengan pembukaan pameran buku Indonesia goes to Frankfurt, peluncuran buku-buku sastra terbaru peserta Bienal Sastra, kelas kopi dan puisi, serta peluncuran website baru Salihara. Diadakan di atap puncak gedung Salihara membuat pentas pengenalan karya-karya penulis muda tersebut begitu berkesan dan spesial. Saya yang beberapa kali berkunjung ke Salihara baru pertama kali menginjakkan kaki ke puncak tersebut. Dan suasana malam Jakarta dari sana begitu syahdu. Tempat yang tepat sekali untuk pementasan, pemutaran film, diskusi, dan lain sebagainya.

Acara “Bintang-bintang di atas dan di bawah langit Jakarta” dipandu oleh Putri Ayu Diah dengan santai dan elegan serta cukup luwes mengajak pengunjung mengakrabkan diri dengan suasana. Bintang-bintang sastra muda yang hadir dan siap menunjukkan karyanya malam itu adalah Leopold A. Surya Indrawan, Dias Novita Wuri, Dewi Kharisma Michellia, Faisal Oddang, Gayatri W.M., dan Rio Johan. Mereka bergantian membacakan cerpen yang terhimpun dalam Bunga Rampai Bienal Sastra Salihara 2015 yang sudah bisa didapatkan di gerai.

Leopold A. Surya Indra mendapat giliran pertama ke atas pentas. Ia membacakan 100_8036cerpennya yang berjudul “Hari Terakhir Ah Xiang”. Sebuah cerpen yang memaknai kembali kematian sebagai sebuah perayaan yang tentunya patut dihargai oleh keluarga dan kerabat. Leo pernah terpilih menjadi peserta akademi menulis novel yang diselenggarakan DKJ pada tahun 2014 serta turut serta dalam Emerging Writers dalam Ubud Writers and Readers Festival 2015.

100_8037Bintang kedua membacakan cerpennya yang berjudul “Dapur yang Bersih dan Lapang”. Ia adalah Dias Novita Wuri. Karya kedua yang dibacakan ini masih tentang kematian dan hal-hal setelahnya. Cerpen tersebut dengan lihai dan sentuhan komedi gelap menuliskan kembali peran perempuan dan lelaki dalam suatu hubungan. Karya Dias telah wara-wiri di media-media nasional. Seperti halnya Leo, Dias juga pernah menjadi peserta akademi menulis novel DKJ pada tahun 2014 serta termasuk dalam Emerging Writers dalam Ubud Writers and Readers Festival 2015.

Selanjutnya ada Dewi Kharisma Michellia, kembali berbicara tentang kematian, ia 100_8038membacakan cerpennya yang berjudul “Ajal”. Kematian adalah hal yang tidak bisa ditolak. Tapi apa yang bisa ditinggalkan setelah mati adalah sesuatu yang membuat seseorang dikenal. Dewi menjadi salah satu pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2012 lewat novelnya “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya”.

100_8039Lalu ada sastrawan muda dengan banyak prestasi, Faisal Oddang. Malam itu ia membacakan cerpennya yang berjudul “Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku”. Sebuah cerpen berlatar peristiwa 1965. Tentang Pendeta Bugis yang mempunyai kepercayaan lain tentang Tuhan, karenanya ia mendapat tuduhan sebagai antek komunis. Sebagai bintang paling muda malam itu, Faisal terlihat paling ekspresif di atas pentas. Cara ia menyapa audiens dan membacakan karyanya dengan aksentuasi tepat memberikan kesan ia telah mempunyai pengalaman tersendiri dalam hal tampil di depan umum. Karya-karya Faisal kental sekali dengan nuansa lokal Sulawesi Selatan. Hal itu yang membuat tulisannya berbeda. Tahun lalu cerpennya yang berjudul “Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon” terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2014. Sementara cerpen yang ia bacakan malam itu membuatnya menerima penghargaan Asean Young Writer Award 2014. Novelnya “Puya ke Puya” diluncurkan beberapa jam sebelumnya di peluncuran buku-buku terbaru peserta Bienal Sastra.

Penampil berikutnya adalah putri dari salah satu sastrawan terkemuka Indonesia, Abdul Hadi W.M. Ia adalah Gayatri W.M. Ia membacakan petikan novelnya yang berjudul “Tarian Kabut”, sebuah novel setebal kurang lebih 600 halaman yang terlahir dari pengalaman-pengalaman spiritual dirinya dan kecintaannya pada hal-hal beraroma sufi. Ia juga bercerita tentang penyakit lupus yang ia alami, tarekat yang ia jalani dan proses kreatifnya sebagai bagian dari keluarga sastrawan besar. Di tengah kondisinya, ia sedang menempuh pendidikan pascasarjananya jurusan filsafat di Universitas Paramadina. Semoga lekas pulih, Mbak Gayatri…

Dan yang terakhir, sastrawan muda asal Sumatra Selatan, Rio Johan. Ia membacakan cerpennya yang berjudul “Manusia Mini dan Tinja Vanessa”. Sebuah cerpen yang mampu menyajikan rasa jijik dan humor bersatu untuk hidangan penutup malam itu. Membayangkan manusia-manusia mini itu memakan tinja sebagai kebutuhan pokoknya sungguh imajinasi yang liar, nakal dan atraktif. Dan ada hal-hal lain yang disampaikan Rio di cerpennya tersebut, baik itu diri Vanessa sebagai perempuan tua, maupun manusia mini yang mungkin sebagai metafor. Rio mendapat penghargaan buku prosa pilihan Tempo 2014 dan 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 atas buku kumpulan cerpennya yang berjudul “Aksara Amananunna”.

Enam karya yang dibacakan pada malam itu sepadan sekali dengan tema Bienal Sastra 2015; Sastra dan Rasa. Rasa dari makanan-makanan yang khas dari berbagai daerah, makanan-makanan untuk jiwa-jiwa yang lapar, hingga makanan yang perlu penafsiran ulang. Melihat para sastrawan muda tersebut menunjukkan karyanya dan telah mendapat begitu banyak prestasi dengan ciri khas serta keyakinan masing-masing membuat optimis suasana sastra Indonesia nantinya. Joko Pinurbo berkata dalam penghujung acara “Kelas Kopi dan Puisi”, bahwa sastrawan-sastrawan muda zaman sekarang begitu cepat belajarnya. Mereka bisa mendapatkan prestasi yang diperoleh para sastrawan senior selama 30 tahun hanya dalam 3 tahun. Semoga kehadiran para sastrawan muda tersebut dengan pencapaiannya memberikan semangat bagi bibit-bibit sastra yang masih perlu inspirasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s