[Resensi Film] 3 Dara

Produser          : Toha Essa, Rina Harahap

Sutradara         : Ardy Octaviand

Naskah             : Nataya Bagya

Pemain             :

Tora Sudiro, Adipati Dolken, Tanta Ginting, Rianti Cartwright, Ayushita

Bagaimana Affandy (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken) dan Richard (Tanta Ginting) bisa menjadi sahabat baik?

Pertanyaan itu bergelantungan di pikiran saya sepanjang menyaksikan film “3 Dara”, sebuah film arahan sutradara Ardy Octaviand. Sementara ketiga lelaki tersebut mempunyai perbedaan umur yang cukup mencolok dan mempunyai latar belakang yang sangat berbeda. Jadi tidak mungkin mereka pernah satu kelas di masa sekolah atau kuliah. Apakah mereka teman satu komunitas atau pernah bertemu dalam suatu klub tertentu? Entahlah. Yang jelas latar belakang mereka tidak begitu dijelaskan di film. Hanya satu kesamaan klise yang mendasari keakraban mereka: womanizer.

Ketiga lelaki ini merasa mendapatkan kutukan dari Mel (Ayushita Nugraha) setelah mereka memperlakukannya dengan semena-mena. Hasilnya mereka bersamaan merasakan keganjilan dalam diri mereka; menjadi perempuan. Mulai dari menyukai lagu-lagu manis, memakai lip balm, ekstra sensitif, sampai bersikap lembut. Ke-macho-an mereka lenyap begitu saja. Kepanikan menjalar. Mereka tidak punya pilihan kecuali terus berkonsultasi pada seorang psikolog bernama Windy (Rianti Cartwright), selagi mereka berusaha memecah kutukan tersebut dengan menemui Mel.

Ada alur yang melompat di awal film, dimana apa yang mereka sebut kutukan itu mulai terjadi. Tiba-tiba alur beralih ketika mereka berkumpul dan langsung menyadari hal tersebut. Lompatan alur ini membuat kepanikan mereka pada perubahan-perubahan tersebut kurang terasa. Cukup mengganggu kenyamanan menonton. Apalagi bagi yang mengharapkan kelucuan pada titik awal mereka yang seketika berubah. Plot yang digarap kurang rapi kembali terjadi di akhir. Sebuah kesimpulan “ilmiah” yang dibuat untuk menutup semua alur yang telah dibangun dengan dasar “mitos”. Sebuah usaha yang terkesan dipaksakan. Hal yang bisa membingungkan dan kurang masuk akal.

Tapi untungnya “3 Dara” mempunyai tiga karakter utama yang tidak usah diragukan lagi kualitasnya. Akting pas tiga lelaki ini berhasil membuat “3 Dara” menjadi film yang menghibur, terlepas dari berbagai kekurangan tadi. Bukan sesuatu yang baru melihat Tora Sudiro dan Tanta Ginting berperan dalam cerita komedi, tapi ini bisa menjadi lompatan akting tersendiri bagi Adipati Dolken, setelah sebelumnya acap kali bermain dalam film drama. Tapi sayang sekali, durasi yang singkat membuat karakter yang diperankan Rianti Cartwright dan Ayushita kurang diberikan porsi yang lebih besar dan jelas. Rianti sebagai psikolog yang menjadi narator film cuma mendapatkan beberapa scene saja, padahal perannya cukup penting. Andai chemistry ia dan “3 Dara” bisa terlihat lebih banyak di film ini.

Memang tidak perlu berubah menjadi sesuatu atau seseorang yang “diremehkan” untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Cukup meluangkan hati untuk empati. Kalau tidak sempat, toh karma tidak perlu menunggu seseorang memberikan kutukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s