Catatan Pemutaran film “The Pool”

Sutradara : Chris W. Mitchell

Writers      : Chris W. Mitchell, Gijs Scholten van Aschat

Pemain     : Katja Herbers, Gijs Scholten van Aschat, Alex Hendrickx

Di era modern ini, di Indonesia masih sulit untuk menonton film-film Eropa dengan legal, terutama film dari Belanda di tengah kepungan Film Hollywood di bioskop dan Film Lokal yang sedang menggeliat. Adanya acara festival film dan program tersendiri yang diadakan suatu kedutaan besar menjadi angin segar bagi para pecinta film yang haus akan tontonan alternatif sekaligus ingin melihat panorama suatu wilayah yang digambarkan di dalam film. Termasuk Erasmus Huis yang tiap bulan ada program pemutaran film di akhir pekan (Sabtu) untuk menambah pengalaman menonton para pecinta film.

Di bulan Oktober ini, Erasmus Huis memutar sebuah film horor yang berjudul “The Pool”, film karya sutradara Chris W. Mitchell. Sebuah kesempatan langka untuk menonton film horor dari negeri kincir air tersebut. Film ini mengajak penonton untuk menyaksikan dua keluarga yang berlibur di sebuah kawasan hutan yang (sebenarnya) tidak begitu jauh dari kota. Mereka mendirikan tenda di dekat sebuah kolam yang dikelilingi pohon-pohon besar. Tapi waktu liburan yang seharusnya diliputi saat-saat menyenangkan demi memperkuat hubungan keluarga malah berubah menjadi kejadian-kejadian aneh dan mimpi-mimpi buruk yang seketika jadi kenyataan. Nasib sial dan bisikan-bisikan kejahatan menyergap, sementara jalan keluar tinggal ilusi.

Benarkah ada roh jahat di kolam tersebut? Ketika hubungan antar anggota keluarga tengah runcing dengan rahasia dan rasa muak masing-masing, skandal dan berbagai masalah mulai muncul, maka segala obsesi untuk pelampiasan dan hasrat saling menyakiti yang pernah mengendap mendobrak rasa memiliki yang membangun keharmonisan keluarga. Roh jahat yang sesekali muncul dan membisik menjadi semacam media yang memupuk pikiran hitam mereka tentang hal-hal keji yang bisa saja mereka lakukan pada keluarga sendiri. Perlahan roh tersebut melumat rasa iba dan kasih yang menentramkan.

Atau semua benar-benar hanya fantasi belaka? Kegilaan yang menjalar menggelapkan mata. Jiwa-jiwa sakit yang mencari alasan kewajaran tindakan-tindakan mereka ke depan. Dan nafsu untuk menghabisi apa yang tidak jadi milik mereka lagi. Sebuah fantasi yang mengubah rute jalan keluar menjadi labirin mematikan.

Lalu apakah roh jahat meniupkan fantasi atau fantasi melahirkan roh jahat dari pikiran-pikiran manusia?

Tidak ada yang baru dalam film horor ini. Semua formula horor yang sebenarnya telah dipakai oleh-oleh film terdahulu. Dan alurnya pun cukup mudah ditebak. Tapi semua formula tersebut masih sangat efektif membuat tontonan horor yang sukses membuat penonton meringis ngeri dan nyeri melihat adegan-adegan yang menantang keberanian. Kegilaan yang terjadi perlahan dari yang dapat dimaklumi hingga melewati jauh akal sehat membuat film semakin mencekam. Para pemerannya pun bermain sesuai dengan porsi masing-masing; Ayah sebagai pelindung yang sakit hati, ibu dengan rahasianya, kakak adik yang kerap saling ejek, dan tetangga yang sedikit berisik. Dari awal telah tercium ada hal yang tidak beres di antara mereka.

Film ini menjadi tontonan horor yang sangat menghibur di akhir pekan. Formula yang sama tapi dengan rasa dari negeri yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s