Pementasan “Perkawinan” oleh Teater Pandora

Satu lagi lakon teater yang berhasil dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya beberapa waktu lalu. Pentas teater itu berjudul “Perkawinan”, sebuah naskah adaptasi karya penulis terkenal asal Rusia, Nikolai Gogol. Grup yang mementaskannya adalah “Teater Pandora”, sebuah komunitas teater yang terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia yang berdiri sejak 24 September 2014 lalu. Usianya yang masih muda tidak berarti minim pengalaman. Hal ini terbukti dengan luwesnya akting yang dilakoni oleh seluruh pemeran dalam pentas teater ini. Begitu pas dengan sejumlah karakter dan menguasai naskah. Sepertinya para anggota telah punya pengalaman sendiri-sendiri di berbagai komunitas teater sebelum ini.

Cerita “Perkawinan” sendiri bergulir dari seorang lelaki mapan bernama Akhmadin Akhmad yang berusia paruh baya tapi belum juga menikah. Keraguan yang begitu lama membuatnya tidak berani untuk mencari pasangan dan membentuk sebuah rumah tangga. Akhirnya ia pun meminta bantuan pada seorang Mak Comblang bernama Nyonya Eliya yang siap menjodohkannya pada seorang gadis cantik bernama Ambarinta Rukmanti. Tapi proses yang dihadapi Akhmad tidak begitu saja memudahkan jalannya mendapatkan Ambar.

Ternyata Nyonya Eliya sendiri telah memberikan daftar lelaki kepada Ambar untuk ia seleksi, yaitu Akhmad sendiri, seorang pejabat bernama Raden Serabi yang keras kepala, pensiunan pelaut melankolis bernama Umar Dahlan, dan pemuda lemah lembut yang mendambakan istri pintar berbahasa Inggris bernama Arjuna. Bisa dibayangkan betapa ruwetnya mereka bersaing demi Ambar dengan watak unik masing-masing. Ambar pun tersudut dan dibuat bingung. Sementara Nyonya Eliya begitu menggebu menceritakan kelebihan-kelebihan mereka masing-masing.

Nyonya Eliya pun bukan berarti tidak mendapat rintangan. Ada Tante Arina yang berusaha keras menjodohkan Ambar dengan seorang pedagang. Dan juga sahabat Akhmad yang bernama Karim yang ternyata memiliki dendam pada Nyonya Eliya sehingga mereka bersaing siapa yang bisa menjodohkan Akhmad dengan Ambar. Konflik yang tumpang tindih ini berhasil membawa komedi farce, dimana situasi yang tak terduga menjadi begitu lucu yang tentunya mengundang gelak tawa seluruh penonton. Apalagi semua pelakon bermain dengan prima sesuai karakternya masing-masing. Mereka berhasil membawa penonton ke dalam sensasi luar biasa dalam sebuah pementasan, terutama pemeran Nyonya Eliya yang dilakoni oleh Maharani Megananda (ternyata sutradara pentas teater ini) yang begitu ekspresif dan kuat, serta karakter Akhmad yang pemalu tapi mau nan jenaka diperankan oleh Yoga Mohamad.

Set panggung yang sangat sederhana pun cukup bisa ditata dengan apik. Mengingat panggung Galeri Indonesia Kaya tidak begitu besar, tapi mereka berhasil memanfaatkannya dengan efektif. Terbukti pula dengan cara mereka melakukan perubahan lokasi yang hanya sekedar ganti gorden jendela, menjadi hiburan tersendiri bagi penonton. Ada sedikit gangguan ketika gorden itu jatuh. Tapi untungnya improvisasi yang dilakukan Raden Serabi (diperankan oleh Mohammad Iqbal Fahreza) malah mengubah masalah kecil itu menjadi kejadian lucu yang wajar. Ini tentu menjadi pengingat untuk para pemain tetaer ataupun profesi lainnya bahwa apapun yang terjadi, pentas haruslah tetap berjalan dan improvisasi untuk kejadian-kejadian yang tidak diharapkan harus dipersiapkan.

Walaupun beberapa adegan di penghujung pementasan terkesan agak kedodoran dan bertele-tele, tapi tidak mempengaruhi kesan untuk keseluruhan pementasan yang sukses memberikan penonton hiburan berharga dan membuat nama “Teater Pandora” makin sedap di panca indera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s